Skip to content
Aug 27 / tsauri28

Web 2.0 dan Revolusi Pembelajaran (Online)

Aplikasi-aplikasi web 2.0 bertumbuhan seperti jamur di musim hujan dalam peta persaingan industri software saat ini mendorong banyak perubahan fundamental berbagai aktivitas manusia penggunanya. Wah? sereem ya?? ya.. perubahan fundamental, perubahan besar dan mendasar.

Saat ini dengan adanya facebook, twitter, weblog dan yang lainnya disadari atau tidak telah mengubah gaya hidup serta peta hubungan (connection) antar manusia di bumi ini. Jika mau, saya yang berada di Bandung sangat mungkin berinteraksi dan mencoba memahami pemikiran-pemikiran beberapa tokoh dunia yang berada di Amerika Serikat sana, lewat facebook dan twitter milik saya —satu hal yang sangat sulit dilakukan dulu.

Begitupun dalam hal belajar dan pembelajaran, khususnya yang bersifat online (elearning), disadari atau tidak telah terjadi perubahan fundamental juga. Jika dahulu pembelajaran online lebih bersifat one way atau one to many, kalaupun ada interaksi baru sebatas hubungan guru dan murid, saja. Sekarang, telah berubah (sengaja/tidak sengaja) dengan adanya facebook, dll hubungan menjadi semakin intens dan natural, tidak lagi one to many tetapi menjadi many to many. Malang nasibnya beberapa software Learning Management System (LMS) seperti atutor dan yang lainnya saat ini telah banyak ditinggalkan, karena melalui facebook dianggap lebih menyenangkan, lebih dinamis.

Namun, hal di atas baru sekedar hipotesa, masih banyak tantangan untuk mewujudkan revolusi pembelajaran online yang diimpikan ini, beberapa tantangan itu diantaranya :

  1. Apakah akan sama hasilnya (presisi), koneksi antar individu apabila social network (seperti facebook) digunakan sebagai media pembelajaran?
  2. Apakah akan justru menyalahi pakem social networking jika penggunaannya untuk pembelajaran formal yang identik dengan pembelajaran kelas (online classroom)?
  3. Ancaman koneksi yang tidak produktif cukup tinggi, apabila ditinjau dari keinginan menciptakan koneksi pembelajaran.
  4. Ancaman dangkalnya konten/isi dalam kegiatan pembelajaran, karena akan hanya fokus pada interaksi.
  5. Tampaknya perlu ada langkah taktis (semacam SOP) untuk mengkonversi social network menjadi sebuah sarana pembelajaran online (elearning)

Beberapa tantangan di atas secara rasional harusnya dapat dijawab dengan beberapa hal, yaitu :

  1. Cara pandang kontruktivisme
    Pembelajaran dengan memanfaatkan social networking sepantasnya diposisikan sebagai pendidikan kontruktivisme, dimana yang utama dalam pelaksanaannya adalah pengalaman belajar siswa, buka “administrasi ketuntasan belajar di kelas”.
  2. Social Learning
    Yang diutamakan dalam pembelajaran haruslah mengenai menghubungkan individu-individu untuk saling berbagi pengalaman belajarnya, bukan fokus pada pemenuhan konten oleh guru.
  3. Personal Learning Environments
    Biarkan siswa memiliki lingkungan belajar online pribadinya. Penjelasannya dapat dilihat di sini.

-selesai-

Hormat Saya,

signature

5 Comments

leave a comment
  1. aan juanah / Nov 11 2009

    individu untuk saling berbagi pengalaman belajar. tetapi tetap dalam pengaturan waktu dan topik kan? biar fokus ke 1 materi dulu. walaupun tidak ada tuntutan ketuntasan belajar di kelas

  2. diannovitasari / May 10 2010

    good..thanks y infonya…..

  3. Idek / Mar 12 2011

    Makasih atas sharing knowledge nya… :)

    • tsauri28 / Mar 20 2011

      Sama-sama

  4. ulfi / Nov 8 2011

    media pembelajaran online tidak akan mengurangi atau menjadikan konten dangkal, karena kehadiran media online ini pelengkap guru bukan sebagai sesuatu yang menggantikan guru. Sampai kapanpun posisi dan peran guru tidak akan hilang, hanya saja sekarang kita beralih paradigma dari teacher center ke student center.

Leave a Comment