<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Sufyan Tsauri's Blog &#187; elearning</title>
	<atom:link href="http://tsauri28.myhaley.com/blog/tag/elearning/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tsauri28.myhaley.com/blog</link>
	<description>Let's Blogging !!!</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 09:31:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Resensi Buku: Designing Successful e-Learning</title>
		<link>http://tsauri28.myhaley.com/blog/resensi-buku-designing-successful-e-learning/</link>
		<comments>http://tsauri28.myhaley.com/blog/resensi-buku-designing-successful-e-learning/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jul 2011 01:24:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tsauri28</dc:creator>
				<category><![CDATA[elearning]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[development]]></category>
		<category><![CDATA[e-learning]]></category>
		<category><![CDATA[elearning 2.0]]></category>
		<category><![CDATA[rekomendasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tsauri28.myhaley.com/blog/?p=1022</guid>
		<description><![CDATA[Buku ini merupakan buku yang cukup saya rekomendasikan kepada siapapun yang akan atau sedang mengelola eLearning, baik sebagai developer sistem, desainer instruksional, programmer konten maupun tutor/dosen. Buku yang ditulis oleh salah seorang begawan Instructional Design Michael Allen (http://alleninteractions.com) memaparkan secara komprehensif dari mulai konsep dasar instruksional hingga teknik desain pembelajaran eLearning yang mudah diterapkan, khususnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 442px"><img title="Cover Buku: Designing Successful e-Learning" src="http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/284366_2217052796011_1538363183_2395887_5075201_n.jpg" alt="" width="432" height="500" /><p class="wp-caption-text">Cover Buku: Designing Successful e-Learning</p></div>
<p>Buku ini merupakan buku yang cukup saya rekomendasikan kepada siapapun yang akan atau sedang mengelola eLearning, baik sebagai developer sistem, desainer instruksional, programmer konten maupun tutor/dosen.</p>
<p>Buku yang ditulis oleh salah seorang begawan <em>Instructional Design</em> Michael Allen (<a title="Allen Interactions" href="http://alleninteractions.com" target="_blank">http://alleninteractions.com</a>) memaparkan secara komprehensif dari mulai konsep dasar instruksional hingga teknik desain pembelajaran eLearning yang mudah diterapkan, khususnya di lingkungan learning center perusahaan.</p>
<p>Di covernya Allen mengutip satu pernyataan yang cukup provokatif &#8220;<em>Forgot What You Know About Instructional Design and Do Something Interesting</em>&#8220;, bagaimana tidak Instructional Design sebagai cabang ilmu yang sudah cukup matang direkomendasikan untuk dilupakan saja! <img src='http://tsauri28.myhaley.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> )<span id="more-1022"></span></p>
<p>Konsep yang diusung Allen secara umum bahwa suatu pembelajaran eLearning tidak hanya berbicara di ranah instruksional semata, tetapi harus juga diperhatikan<em> pre-instructional</em> dan <em>post-instructional-</em>nya juga, sehingga pembelajaran yang dihadirkan melalui eLearning dapat bermakna, selalu diingat dan memotivasi pembelajar.</p>
<div id="attachment_1023" class="wp-caption aligncenter" style="width: 490px"><img class="size-full wp-image-1023" title="allen-models" src="http://tsauri28.myhaley.com/blog/wp-content/uploads/2011/07/allen-models.jpg" alt="" width="480" height="156" /><p class="wp-caption-text">Model Successful E-Learning Michael Allen</p></div>
<p>Selain itu, Allen memberikan tips dan trik yang mudah untuk diadopsi oleh para desainer eLearning dalam 3 (tiga) hal: <em>meaningful learning, memorable learning </em>dan <em>motivational learning</em>.</p>
<p>Secara umum apabila saya berikan rating 1-5, buku ini dapat rating 4.</p>
<p>Semoga bermanfaat <img src='http://tsauri28.myhaley.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: right;">Hormat Saya,</p>
<p style="text-align: right;"><img class="alignright" src="http://www.mylivesignature.com/signatures/85713/tsauri28/e820e545a65f0ad978fa2050defbf27d.png" alt="signature" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tsauri28.myhaley.com/blog/resensi-buku-designing-successful-e-learning/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menghadirkan Konteks yang Tepat dalam eLearning</title>
		<link>http://tsauri28.myhaley.com/blog/konteks-dalam-elearning/</link>
		<comments>http://tsauri28.myhaley.com/blog/konteks-dalam-elearning/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Jul 2011 04:28:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tsauri28</dc:creator>
				<category><![CDATA[elearning]]></category>
		<category><![CDATA[e-learning]]></category>
		<category><![CDATA[elearning 2.0]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tsauri28.myhaley.com/blog/?p=1019</guid>
		<description><![CDATA[Menghadirkan Konteks yang Tepat dalam eLearning Berbicara tentang mendesain pembelajaran eLearning, salah satu hal yang menjadi pembeda antara desain yang berhasil dengan desain yang gagal adalah bagaimana desainer instruksional mampu membangun konteks yang tepat. Pengertian Secara umum konteks dalam pembelajaran eLearning adalah suatu kerangka kerja dan tolok ukur dalam menghadirkan kondisi awal atau latar belakang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_416"><img title="BORING-CLASS" src="http://idelearning.com/wp-content/uploads/2011/07/BORING-CLASS.jpg" alt="" width="575" height="383" />Menghadirkan Konteks yang Tepat dalam eLearning</p>
</div>
<blockquote><p>Berbicara tentang mendesain pembelajaran eLearning, salah satu hal yang menjadi pembeda antara desain yang berhasil dengan desain yang gagal adalah bagaimana desainer instruksional mampu membangun konteks yang tepat.</p></blockquote>
<h3>Pengertian</h3>
<p>Secara umum konteks dalam pembelajaran eLearning adalah suatu kerangka kerja dan tolok ukur dalam menghadirkan kondisi awal atau latar belakang kenapa pembelajaran tersebut penting untuk diikuti. Contohnya:</p>
<ol>
<li>Calon operator mesin merasa asing dengan mesin modern yang harus dioperasikan</li>
<li>Nasabah bank yang merasa kecewa dengan pelayanan</li>
<li>Banyaknya jenis aplikasi yang harus diketahui oleh petugas administrasi.</li>
</ol>
<h3>Konteks yang tepat?</h3>
<p>Desain yang berhasil menghadirkan konteks yang tepat adalah ketika pengguna/pembelajar merasa memiliki alasan untuk mengikuti pembelajaran eLearning tersebut. Konteks yang tepat adalah ketika pengguna/pembelajar merasa terikat dan memaknai kondisi tersebut, <em>“yup.., pembelajaran eLearning ini memang sangat saya butuhkan!”</em></p>
<h3>Tips Menghadirkan Konteks yang Tepat</h3>
<ul>
<li>Tempat yang sebenarnya, apabila permasalahan tentang komplain nasabah maka cerita diawali di meja customer service, bukan di lingkungan kelas yang terdapat papan tulis, kapur tulis dan sebagainya.</li>
<li>Gunakan storyline yang kuat seperti menghadirkan konflik, situasi kritis, ketegangan, drama atau bahkan humor</li>
<li>Mulai dengan aktivitas yang relevan (masalah nyata), sebaiknya hindari mengawali pembelajaran dengan pretest yang bersifat akademik seperti pretest soal pilihan ganda.</li>
</ul>
<p>Demikian pentingnya menghadirkan konteks yang tepat dalam mendesain pembelajaran eLearning, perlu selalu kita ingat bahwa desain pembelajaran eLearning sedikit berbeda dengan mendesain pembelajaran klasikal, karena pengguna/pembelajar tidak langsung berhadapan dengan tutor/dosen tetapi berhadapan langsung dengan konten pembelajaran.<span id="more-1019"></span></p>
<p>Telah juga dipublish di <a href="http://idelearning.com/2011/07/24/menghadirkan-konteks-yang-tepat-dalam-elearning">http://idelearning.com/2011/07/24/menghadirkan-konteks-yang-tepat-dalam-elearning</a></p>
<p style="text-align: right;">Hormat Saya,</p>
<p style="text-align: right;"><img class="alignright" src="http://www.mylivesignature.com/signatures/85713/tsauri28/e820e545a65f0ad978fa2050defbf27d.png" alt="signature" /></p>
<div id="clear"></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tsauri28.myhaley.com/blog/konteks-dalam-elearning/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Mengevaluasi eLearning Berbasis PLEs</title>
		<link>http://tsauri28.myhaley.com/blog/bagaimana-mengevaluasi-elearning-berbasis-ples/</link>
		<comments>http://tsauri28.myhaley.com/blog/bagaimana-mengevaluasi-elearning-berbasis-ples/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jul 2011 04:25:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tsauri28</dc:creator>
				<category><![CDATA[elearning]]></category>
		<category><![CDATA[e-learning]]></category>
		<category><![CDATA[elearning 2.0]]></category>
		<category><![CDATA[ple]]></category>
		<category><![CDATA[ples]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tsauri28.myhaley.com/blog/?p=1006</guid>
		<description><![CDATA[Pagi ini di lini masa twitter saya dan pak Arief Bahtiar sedikit berbincang tentang bagaimana konsep eLearning dengan menggunakan pendekatan Personal Learning Environments (PLEs) dapat diterapkan di suatu lembaga pendidikan/pelatihan. (bagi yang belum mengetahui apa itu PLEs dan Konsepnya, klik http://tsauri28.myhaley.com/blog/pengertian-ples/) Pendekatan PLEs merupakan suatu perubahan mendasar dalam melihat pembelajaran melalui eLearning. Selama ini eLearning [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1007" class="wp-caption aligncenter" style="width: 410px"><img class="size-full wp-image-1007" title="Bagaimana mengevaluasi eLearning berbasis PLEs?" src="http://tsauri28.myhaley.com/blog/wp-content/uploads/2011/07/personal_social_network.jpg" alt="" width="400" height="300" /><p class="wp-caption-text">Gambar dicuil dari theinnovativeeducator.blogspot.com</p></div>
<p>Pagi ini di lini masa twitter <a title="twitter asep sufyan tsauri" href="http://twitter.com/tsauri28" target="_blank">saya</a> dan <a href="http://twitter.com/ariefbb" target="_blank">pak Arief Bahtiar</a> sedikit berbincang tentang bagaimana konsep eLearning dengan menggunakan pendekatan Personal Learning Environments (PLEs) dapat diterapkan di suatu lembaga pendidikan/pelatihan. <em><strong>(bagi yang belum mengetahui apa itu PLEs dan Konsepnya, klik <a href="http://tsauri28.myhaley.com/blog/pengertian-ples/">http://tsauri28.myhaley.com/blog/pengertian-ples/</a>)</strong></em></p>
<p>Pendekatan PLEs merupakan suatu perubahan mendasar dalam melihat pembelajaran melalui eLearning. Selama ini eLearning diidentikan dengan adanya Learning Management System yang memiliki kemampuan untuk menghadirkan kelas virtual secara lengkap, dari mulai pengadaan bahan ajar, aktivitas-aktivitas hingga asesment hasil belajar dan kesemuanya itu dikelola dalam satu &#8220;rumah besar&#8221; bernama Learning Management System. Nah, dalam pendekatan PLEs, konsep itu dibalik 180 derajat, bahwa pembelajaran eLearning harus berpusat pada pembelajar itu sendiri (bukan pada kelas virtual di LMS), sehingga imbasnya tools yang digunakan bukan hanya LMS, tetapi juga tools lain yang sudah familiar digunakan oleh pembelajar (seperti social network, blog, dll)<span id="more-1006"></span></p>
<p>IMHO, konsep PLEs ini memang masih &#8220;terlalu muda&#8221; untuk dianggap dapat sepenuhnya menggantikan paradima eLearning yang selama ini identik dengan LMS. Setidaknya terdapat beberapa tantangan dan pertanyaan yang harus dijawab seiring pengembangannya, yaitu:</p>
<ol>
<li>Mungkinkah PLEs ini diterapkan di lembaga pendidikan yang pada prakteknya akan sangat sulit melakukan labelisasi, legalisasi, atau validasi? (pernyataan pak Arief <img src='http://tsauri28.myhaley.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> )</li>
<li> Sulitnya melakukan asesmen (evaluasi pembelajaran) bagi peserta, karena data/jejak belajar siswa akan tersebar di begitu banyak tempat</li>
<li>Mungkinkah adanya standarisasi konten PLEs ini, karena apabila ditinjau dari konsep dasarnya justru spirit PLEs adalah &#8220;tidak distandarisasi&#8221;?</li>
<li>(Pertanyaan lain silahkan ditambahkan)</li>
</ol>
<p><span style="font-size: small;"><span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;">Nah, untuk sementara ini Saya sendiri belum menemukan jawaban yang benar-benar sahih atas pertanyaan dan tantangan di atas, hanya untuk jawaban sementara ada beberapa asumsi yang dapat saya sampaikan:</span></span></p>
<ol>
<li>Untuk melakukan asesmen hasil belajar, kita memerlukan suatu validasi dan sistem untuk melakukan penilaian belajar dan pengetahuan. hal ini sebetulnya memang sedang banyak didiskusikan oleh para peneliti eLearning di Amerika dan Eropa, silahkan kunjungi kursus &#8220;Learning and Knowledge Analytics&#8221; -&gt; <a href="http://scope.bccampus.ca/course/view.php?id=365">http://scope.bccampus.ca/course/view.php?id=365</a></li>
<li>Perubahan paradigma ke PLEs tidak sekedar perubahan paradigma tools, akan tetapi ada perubahan yang lebih besar lagi yaitu perubahan kebiasaan (habit) orang untuk belajar dan berkolaborasi. sebagai contoh, PLEs ini akan berhasil jika kesadaran akan belajar dan keinginan untuk berkolaborasi antar pembelajar/tutor harus tinggi, seperti yang ditunjukkan pada kursus di atas (poin 1) -&gt; <a href="http://scope.bccampus.ca/course/view.php?id=365">http://scope.bccampus.ca/course/view.php?id=365</a></li>
<li>Perubahan kebiasaan itu tentu harus dimulai dari tutor/dosen/guru karena perannya akan sangat berbeda antara peran dosen dengan menggunakan Learning Management System dibandingkan dengan menggunakan tools web 2.0</li>
</ol>
<p><span style="font-size: small;"><span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;">Sekian dulu curhatnya, semoga seiring waktu pertanyaan yang belum terjawab itu dapat ditemukan <img src='http://tsauri28.myhaley.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /><br />
</span></span></p>
<p style="text-align: right;">Hormat Saya,</p>
<p style="text-align: right;"><img class="alignright" src="http://www.mylivesignature.com/signatures/85713/tsauri28/e820e545a65f0ad978fa2050defbf27d.png" alt="signature" /></p>
<div id="clear"></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tsauri28.myhaley.com/blog/bagaimana-mengevaluasi-elearning-berbasis-ples/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Content is King, Conversation is Queen!</title>
		<link>http://tsauri28.myhaley.com/blog/content-is-king-conversation-is-queen/</link>
		<comments>http://tsauri28.myhaley.com/blog/content-is-king-conversation-is-queen/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Jul 2011 06:42:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tsauri28</dc:creator>
				<category><![CDATA[elearning]]></category>
		<category><![CDATA[e-learning]]></category>
		<category><![CDATA[elearning 2.0]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi dasar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tsauri28.myhaley.com/blog/?p=982</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Anggapan bahwa kesuksesan suatu E-learning ditentukan oleh konten yang banyak memang ada benarnya, namun tidak sepenuhnya benar! Sesungguhnya percakapan (conversation) adalah aspek lain yang perlu diperhatikan dalam mendesain pembelajaran melalui E-learning ini. — ‘Content is king, conversation is queen!’ Perkembangan teknologi web kian hari kian mengejutkan sehingga banyak konsep-konsep lama harus diganti atau setidaknya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: center;"><img src="http://idelearning.com/wp-content/uploads/2011/07/contentiskingconvisqueen_thumb.jpg" alt="contentiskingconvisqueen" width="510" height="283" border="0" /></div>
<p>&nbsp;</p>
<blockquote><p>Anggapan bahwa kesuksesan suatu E-learning ditentukan oleh konten yang banyak memang ada benarnya, namun tidak sepenuhnya benar! Sesungguhnya percakapan (<em>conversation</em>) adalah aspek lain yang perlu diperhatikan dalam mendesain pembelajaran melalui E-learning ini. — ‘Content is king, conversation is queen!’</p></blockquote>
<p>Perkembangan teknologi web kian hari kian mengejutkan sehingga banyak konsep-konsep lama harus diganti atau setidaknya diperbaharui. Menurut saya, bidang yang cukup responsif melakukan perubahan adalah bidang E-commerce. Lahirnya teknologi web 2.0 banyak mengubah paradima dan konsep E-commerce saat ini. Akhir-akhir ini lahir istilah yang cukup populer yaitu<em> ‘content is king, conversation is queen’</em>. Ungkapan ini merupakan ungkapan yang mengisyaratkan bahwa dalam melakukan penjualan melalui media internet (e-commerce) selain konten barang/jasa yang harus berkualitas, untuk menjamin hingga calon pembeli melakukan penetrasi pembelian, percakapan <em>(conversation)</em> adalah jurus nan ampuh untuk mewujudkannya.</p>
<p>Dalam pemikiran saya, E-learning pun tidak ubahnya seperti E-commerce, hanya berbeda konteks saja. Dengan demikian ungkapan <em>‘content is king, conversation is queen’</em> untuk E-learning pun berlaku! Jika E-commerce menawarkan barang/jasa, maka semestinya E-learning pun menawarkan ‘barang/jasa’ berupa pengalaman belajar (<em>learning experience</em>). Nah, sekarang kita akan bahas sedikit tentang bagaimana konten E-learning yang setegas raja dan percakapan selembut ratu.<span id="more-982"></span></p>
<h3>Konten Setegas Raja</h3>
<p>Salah satu konsep pengembangan konten E-learning yang saya sukai adalah konsep <strong><em>action based content</em></strong> milik<a href="http://www.cathy-moore.com/" target="_blank">Chaty Moore</a>. Menurut Moore, dalam membuat konten E-learning yang setegas raja haruslah berfokus pada aktivitas yang nyata sehingga pada akhirnya merupakan konten yang benar-benar bermanfaat dalam menyelesaikan suatu masalah di kehidupan nyata.</p>
<p>Langkah praktis yang ditawarkan konsep tersebut adalah :</p>
<ol>
<li>Tentukan <em>goal </em>yang akan dicapai melalui konten yang akan dibangun, goal harus bersifat aksi nyata.</li>
<li>Inventarisasi kompetensi yang harus dimiliki oleh <em>user</em> agar dapat mencapai <em>goal </em>di atas.</li>
<li>Tentukan aktivitas yang dapat mencapai kompetensi di atas.</li>
<li>Berikan informasi secukupnya agar <em>user </em>dapat melakukan aktivitas di atas.</li>
</ol>
<h3>Percakapan Selembut Ratu</h3>
<p>Suatu kursus E-learning yang sukses harus mengakomodasi kepentingan <em>user</em> yang sedang belajar. Salah satu langkahnya adalah dengan membuka kanal komunikasi dua arah yang baik dan efektif. Jika dalam E-commerce adanya <em>costumer service</em> adalah hal yang mutlak ada, maka dalam E-learning-pun begitu. Dosen/instruktur/widyaiswara/guru adalah ‘CS’ dalam kursus E-learning. Apabila dalam E-commerce <em>technical live support</em> itu wajib adanya, maka dalam E-learning-pun tidak ubahnya seperti itu. Harus ada pihak yang dapat dihubungi apabila terjadi kesalahan-kesalahan teknis yang dialami oleh <em>user</em> dalam mengeksplorasi kursus E-learning.</p>
<h3>4 Senjata Luar biasa milik Raja dan Ratu</h3>
<p>Pada akhirnya, raja dan ratu yang diwakili oleh konten dan percakapan tetap harus memiliki senjata pamungkas agar E-learning yang didesain dapat menjadikan pengguna benar-benar belajar. Berikut 4 jurus rahasia milik Michael Allen yang dibocorkan melalui bukunya berjudul “Designing Successful E-Learning” :</p>
<p><strong>Jurus 1: Kontekstual</strong></p>
<p>Raja dan ratu harus memberikan konteks yang sesuai dengan kondisi pengguna.</p>
<p><strong>Jurus 2: Tantangan</strong></p>
<p>Raja dan ratu harus menawarkan tantangan dalam setiap konten dan percakapan dalam sebuah E-learning.</p>
<p><strong>Jurus 3: Aktifitas</strong></p>
<p>Raja dan Ratu harus fokus pada memberikan aktivitas, bukan sekedar <em>transfer of information</em>.</p>
<p><strong>Jurus 4: Umpan Balik</strong></p>
<p>Raja dan Ratu harus menjadi teman sejawat sekaligus tutor yang mampu memberikan umpan balik yang positif dalam setiap aktivitas yang dilakukan oleh pengguna.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sudahkah E-learning kita memiliki raja dan ratu? <img src="http://idelearning.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif" alt=":)" /></p>
<h4></h4>
<h4>—</h4>
<p>Sebelumnya telah dipublish di IDeLearning.Com : <a href="http://idelearning.com/2011/07/04/content-is-king-conversation-is-queen">http://idelearning.com/2011/07/04/content-is-king-conversation-is-queen</a></p>
<h4><strong>Referensi:</strong></h4>
<p>Action Packed Elearning, <a href="http://www.cathy-moore.com/">http://www.cathy-moore.com</a></p>
<p>Allen, Michael. 2007. Designing Successful E-Learning. Pfeiffer.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tsauri28.myhaley.com/blog/content-is-king-conversation-is-queen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>5 Prinsip Mendesain Problem Based Course</title>
		<link>http://tsauri28.myhaley.com/blog/mendesain-problem-based-course-elearning/</link>
		<comments>http://tsauri28.myhaley.com/blog/mendesain-problem-based-course-elearning/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Jun 2011 01:47:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tsauri28</dc:creator>
				<category><![CDATA[elearning]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[desain instruksional]]></category>
		<category><![CDATA[e-learning]]></category>
		<category><![CDATA[elearning 2.0]]></category>
		<category><![CDATA[instructional design]]></category>
		<category><![CDATA[kurikulum tik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tsauri28.myhaley.com/blog/?p=975</guid>
		<description><![CDATA[Image taken from http://flickr.com/photos/kristalong Kapan dan di mana  menempatkan informasi dari bahan pembelajaran yang ada merupakan misteri yang cukup pelik untuk dipecahkan oleh seorang Desainer Instruksional/Dosen/SME. Terkadang kesalahan penempatan informasi akan menghilangkan ‘makna’ bagi pembelajar. Terdapat 5 prinsip yang digagas oleh David Merrill, yang sering disebut dengan istilah “5 Star Instruction“. Dalam catatan saya terdahulu: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<dl>
<dt><img src="http://idelearning.com/wp-content/uploads/2011/06/flickr.com-photos-kristalong-5049474198_thumb.jpg" alt="Image taken from http://flickr.com/photos/kristalong" width="470" height="353" border="0" /></dt>
<dd>Image taken from http://flickr.com/photos/kristalong</dd>
</dl>
</div>
<blockquote><p>Kapan dan di mana  menempatkan informasi dari bahan pembelajaran yang ada merupakan misteri yang cukup pelik untuk dipecahkan oleh seorang Desainer Instruksional/Dosen/SME. Terkadang kesalahan penempatan informasi akan menghilangkan ‘makna’ bagi pembelajar. Terdapat 5 prinsip yang digagas oleh David Merrill, yang sering disebut dengan istilah “<strong><em>5 Star Instruction</em></strong>“.</p></blockquote>
<p>Dalam catatan saya terdahulu:<strong> <a href="http://idelearning.com/2011/05/30/learning-design-dalam-elearning/" target="_blank">Learning Desain dalam E-Learning</a></strong> telah dibahas tentang pentingnya desain dalam menyampaikan suatu pembelajaran dalam e-learning. Nah, untuk bagaimana mengaplikasikannya saya menemukan model yang menarik yang digagas oleh David Merrill yang disebut “<em><strong>5 Star Instruction</strong></em>“, yaitu lima prinsip yang digunakan dalam menempatkan dan meng-alur-kan informasi dalam pembelajaran, sehingga pengguna/pembelajar tidak kehilangan makna dalam mengakses <em>course</em>. Lima prinsip itu adalah 1) Masalah (<em>Problem</em>) 2) Aktivasi (<em>Activation</em>); 3) Demonstrasi (<em>Demonstration</em>); 4) Aplikasi (<em>Application</em>); 5) Integrasi (<em>Integration</em>).<span id="more-975"></span></p>
<div>
<dl>
<dt><img src="http://idelearning.com/wp-content/uploads/2011/06/5-star-instruction-merrill-2002.jpg" alt="5 star instruction (merrill 2002)" width="371" height="278" border="0" /></dt>
<dd>5 Star Instruction (Merrill)</dd>
</dl>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Prinsip Masalah <em>(Problem)</em></h3>
<p>Pembelajaran harus dimulai dengan adanya masalah (<em>problem</em>), hal ini sejalan dengan prinsip <em>“problem based learning”, </em>sehingga apa yang akan disampaikan dalam pembelajaran adalah memang dibutuhkan untuk menyelesaikan permasalahan di dunia nyata. Prinsip ini merupakan pusat/titik utama dalam prinsip “<em>5 star instruction”. </em>Dalam aplikasinya di <em>course</em>, prinsip ini dapat diterapkan melalui konten yang menggambarkan permasalahan di dunia nyata (dapat berupa video, cerita, dsb).</p>
<h3>Prinsip Aktivasi <em>(Activation)</em></h3>
<p>Prinsip ini menuntun pembelajar untuk mengingat kembali pengetahuan yang relevan dengan masalah yang telah didefinisikan. Dalam aplikasinya di <em>course,</em> prinsip ini dapat diterapkan melalui <em>pre-test</em>.</p>
<h3>Prinsip Demonstrasi<em> (Demonstration)</em></h3>
<p>Prinsip ini memberikan pengetahuan kepada pembelajar bagaimana suatu metode/cara yang ada dapat menyelesaikan masalah yang timbul, prinsip ini menuntut untuk membuat konten yang bersifat <strong><em>How-to</em></strong>. Dalam aplikasinya di <em>course</em>, prinsip ini dapat diterapkan melalui video, wiki, dsb.</p>
<h3>Prinsip Aplikasi <em>(Application)</em></h3>
<p>Prinsip ini memberikan akses agar pengguna/pembelajar dapat mensimulasikan apa yang telah dia ketahui melalui bahan ajar sebelumnya ke dalam masalah yang dia miliki. Dalam aplikasinya di <em>course</em> dapat melalui <em>post-test</em> atau<em>test </em>lain yang lebih <em>advance</em> seperti melalui <em>test</em> bersifat multimedia.</p>
<h3>Prinsip Integrasi <em>(Integration)</em></h3>
<p>Prinsip ini menuntut agar pembelajar dapat mengintegrasikan pengetahuannya di dunia nyatanya. Apabila dalam prinsip aplikasi masalah itu diberikan oleh tutor/dosen/SME, dalam prinsip ini masalah adalah muncul dari kehidupan/pekerjaan pembelajar itu sendiri. Aplikasinya dalam <em>course</em> dapat melalui forum, blog, dan sebagainya.</p>
<p>—</p>
<p>Pada akhirnya, semestinya pembelajaran melalui e-learning merupakan suatu siklus yang tidak pernah berhenti,<em>course</em> yang didesain dengan menggunakan prinsip di atas akan terus berkembang dan semakin kaya dengan pengetahuan dan keterampilan.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Telah diposting juga di <a href="http://idelearning.com/2011/06/18/5-prinsip-mendesain-problem-based-course">http://idelearning.com/2011/06/18/5-prinsip-mendesain-problem-based-course</a></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tsauri28.myhaley.com/blog/mendesain-problem-based-course-elearning/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memahami Instruksional Desain</title>
		<link>http://tsauri28.myhaley.com/blog/memahami-instruksional-desain/</link>
		<comments>http://tsauri28.myhaley.com/blog/memahami-instruksional-desain/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Jun 2011 07:28:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tsauri28</dc:creator>
				<category><![CDATA[elearning]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[asep sufyan tsauri]]></category>
		<category><![CDATA[e-learning]]></category>
		<category><![CDATA[learning design]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tsauri28.myhaley.com/blog/?p=964</guid>
		<description><![CDATA[Banyak yang bertanya tentang instruksional desain itu apa dan bagaimana peranannya dalam pengembangan e-learning dalam suatu institusi? Siapa yang harus menjadi instruksional desainer? dan keahlian (kompetensi) apa yang harus dimiliki oleh seorang desainer instruksional? Sebelumnya mari kita tinjau pengertiannya di wikipedia : Instructional Design (also called Instructional Systems Design (ISD)) is the practice of maximizing [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><img src="http://tsauri28.myhaley.com/blog/wp-content/uploads/2011/06/chef_thumb.jpg" alt="Instruksional Desain adalah Resep e-Learning" width="450" height="300" border="0" /><p class="wp-caption-text">image taken from: http://masterchefrecipes.me</p></div>
<p style="text-align: center;">
<blockquote><p>Banyak yang bertanya tentang instruksional desain itu apa dan bagaimana peranannya dalam pengembangan e-learning dalam suatu institusi? Siapa yang harus menjadi instruksional desainer? dan keahlian (kompetensi) apa yang harus dimiliki oleh seorang desainer instruksional?</p></blockquote>
<p>Sebelumnya mari kita tinjau pengertiannya di wikipedia :</p>
<blockquote><p>Instructional Design (also called Instructional Systems Design (ISD)) is the practice of maximizing the effectiveness, efficiency and appeal of instruction and other learning experiences. The process consists broadly of determining the current state and needs of the learner, defining the end goal of instruction, and creating some &#8220;intervention&#8221; to assist in the transition. Ideally the process is informed by pedagogically (process of teaching) and andragogically (adult learning) tested theories of learning and may take place in student-only, teacher-led or community-based settings. The outcome of this instruction may be directly observable and scientifically measured or completely hidden and assumed. There are many instructional design models but many are based on the ADDIE model with the five phases: 1) analysis, 2) design, 3) development, 4) implementation, and 5) evaluation. As a field, instructional design is historically and traditionally rooted in cognitive and behavioral psychology.</p></blockquote>
<p>Untuk lebih mudahnya, saya menganalogikan instruksional desain sebagai &#8216;resep masakan&#8217; dan desainer instruksional sebagai &#8216;koki&#8217;-nya. Dalam mempersiapkan suatu pembelajaran melalui e-learning terdapat banyak hal yang berbeda dengan pembelajaran konvensional (tatap muka), sehingga diperlukan resep khusus agar pembelajaran dapat tersampaikan dengan baik, bahkan lebih baik. Instruksional desain merupakan rancangan pembelajaran (baca: <a href="http://idelearning.com/2011/05/30/learning-design-dalam-elearning" target="_blank">learning design</a>) agar konten-konten seperti video, teks dll memiliki <strong><span style="text-decoration: underline;">makna</span></strong> bagi para pembelajar.</p>
<h3>Peran dalam Pengembangan e-Learning?</h3>
<p>Seperti yang telah saya sampaikan, instruksional desain adalah resep dari pembelajaran melalui e-learning, dimana desain instruksional menyediakan berbagai kegiatan pembelajaran termasuk di dalamnya konten bahan ajar, aktivitas, hingga evaluasi pembelajaran yang ada dalam kursus (analoginya dalam resep terdapat takaran-takaran tertentu tentang jumlah dan jenis bahan makanan).</p>
<p>Adapun rincian perannya dapat digambarkan sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>Bekerja sama dengan <em>subject matter expert</em>, mengidentifikasi kebutuhan user (pembelajar)</li>
<li>Membuat skenario pembelajaran e-learning sesuai dengan <a href="http://idelearning.com/2011/05/30/learning-design-dalam-elearning/" target="_blank">learning design dalam e-learning</a></li>
<li>Memilah bahan ajar yang telah tersedia (pdf, ppt, video, dll) dan menempatkannya dalam skenario pembelajaran (termasuk didalamnya menentukan bobot tiap konten)</li>
<li>Membuat/memulai aktivitas-aktivitas pembelajaran e-learning sesuai dengan karakteristik kursus dan <em>user</em> (forum, chat, dll)</li>
<li>Memastikan bahwa kegiatan pembelajaran berjalan dengan baik</li>
</ul>
<h3>Kompetensi</h3>
<p>Di institusi pendidikan (kampus/sekolah) desainer instruksional seyogyanya adalah dosen/guru itu sendiri karena kompetensi pedagogik telah dimiliki oleh dosen/guru yang bersangkutan. Sedangkan di institusi lain seperti di perusahaan, sebaiknya memiliki desainer instruksional yang mampu menganalisis kebutuhan pembelajaran dalam menyampaikan e-learning kepada karyawan.</p>
<p>Kompetensi yang semestinya dimiliki oleh desainer instruksional adalah:</p>
<ul>
<li>Memiliki dasar yang kuat dalam ilmu kependidikan, yaitu mampu menganalisis kebutuhan pembelajar (Memahami teori kognitif dan psikologi behavioral)</li>
<li>Mampu memetakan kebutuhan pembelajaran sesuai dengan user (pembelajar)</li>
<li>Mampu mereduksi (membuat sederhana) bahan ajar yang tersedia, namun diyakini dapat dicerna oleh para pembelajar</li>
<li>Memiliki kemampuan komunikasi yang baik (lisan dan tulisan) untuk menyampaikan desain pembelajaran yang dirancangnya</li>
</ul>
<p>Namun, yang paling penting dan utama dalam kompetensi seorang desainer instruksional adalah: <span style="text-decoration: underline;">kaya akan ide</span> dan <span style="text-decoration: underline;">mampu berpikir lateral</span> dengan baik (IMHO) <img src='http://tsauri28.myhaley.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>==========</p>
<p>Telah dipublish juga di: <a href="http://idelearning.com/2011/06/12/memahami-instruksional-desain">http://idelearning.com/2011/06/12/memahami-instruksional-desain</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tsauri28.myhaley.com/blog/memahami-instruksional-desain/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mencari Bentuk Ideal eLearning Sekolah di Indonesia</title>
		<link>http://tsauri28.myhaley.com/blog/mencari-bentuk-ideal-elearning-sekolah-di-indonesia/</link>
		<comments>http://tsauri28.myhaley.com/blog/mencari-bentuk-ideal-elearning-sekolah-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Jun 2010 02:46:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tsauri28</dc:creator>
				<category><![CDATA[elearning]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tsauri28.myhaley.com/blog/?p=889</guid>
		<description><![CDATA[Hampir 3 tahun ini saya mencoba mencari formula paling tepat untuk melaksanakan eLearning di sekolah-sekolah Indonesia. Ternyata banyak faktor yang harus diperhatikan untuk mengimplementasikan eLearning sebagai sumber belajar bagi siswa-siswa di Indonesia]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hampir 3 tahun ini saya mencoba mencari formula paling tepat untuk melaksanakan eLearning di sekolah-sekolah Indonesia. Ternyata banyak faktor yang harus diperhatikan untuk mengimplementasikan eLearning sebagai sumber belajar bagi siswa-siswa di Indonesia.<span id="more-889"></span></p>
<p><strong>1. ketersediaan infrastruktur</strong><br />
masalah klasik dalam implementasi ICT di berbagai bidang termasuk eLearning di lembaga sekolah adalah kurang (tidak) tersedia infrastruktur. tidak dapat dipungkiri syarat utama dalam penyelenggaraan eLearning adalah harus tersedianya infrastruktur internet yang memadai, mustahil jika infrastruktur tidak tersedia kita bermimpi untuk menyelenggarakan eLearning yang berkualitas. akan tetapi, terjadi suatu anomali (setidaknya bagi saya) soal infrastruktur ini, yaitu ketika traffic akses ke situs jejaring sosial begitu besar di Indonesia, artinya orang Indonesia sebetulnya sudah memiliki infrastruktur internet, meskipun yang paling sederhana (melalui jaringan GPRS di handphone). sehingga saya berkesimpulan bahwa sesungguhnya masyarakat Indonesia sudah mulai siap dengan infrastruktur internet.</p>
<p><strong>2. kultur IT <em>literacy</em></strong> <strong>(melek IT)</strong><br />
Sesungguhnya kultur IT kita sudah cukup baik dengan melihat data pengguna internet di Indonesia (mencapai 38 juta orang), namun hal tersebut belum senada dengan kultur IT literacy-nya, apa bedanya? IT literacy itu merupakan kebiasaan orang untuk dapat menyelesaikan permasalahan hidupnya melalui IT, sedangkan yang berkembang di Indonesia IT baru sebatas untuk memenuhi kebutuhan entertainment saja, belum menyentuh kebutuhan lainnya.</p>
<p><strong>3. alternatif teknologi</strong><br />
kurangnya alternatif teknologi yang dikenal oleh implementator eLearning di Indonesia menjadi suatu permasalahan tersendiri. Ketika berbicara eLearning (maaf) yang terlintas dalam benak kita adalah satu tools bernama Moodle, sehingga ketika berbicara eLearning kita tidak berangkat dari konsep eLearning yang kita inginkan, malah terbalik &#8211; kita &#8216;terpaksa&#8217; mengikuti konsep yang diberikan tool.</p>
<p><strong>4. <em>Policy</em> dan <em>Leadership</em></strong><br />
eLearning hanya dipandang sebagai project sesaat adalah sumber kegagalan implementasi yang utama!. Kebijakan yang dilahirkan oleh pimpinan yang sebetulnya tidak memiliki passion terhadap eLearning itu sendiri sangatlah disayangkan, sekedar menggugurkan kewajiban anggaran.</p>
<p><strong>5. Konsep dan tujuan</strong><br />
Masih berhubungan dengan poin 3 di atas, karena alternatif yang terbatas maka pengembangan konsep dan arah tujuan penyelenggaraan eLearning di lembaga pun menjadi bias, awalnya diharapkan menjadi suatu solusi akhirnya dianggap sebagai beban baru.</p>
<p><strong>6. Maintenance</strong><br />
Karena masih dianggap suatu project sekali saja, eLearning pun biasanya mati sebelum berkembang. Maintenance menjadi permasalahan pelik implementasi eLearning di Indonesia. pemahaman tentang prject eLearning yang disamakan dengan project membuat gedung adalah suatu kesalahan besar. Sebetulnya lembaga yang menyelenggarakan eLearning lebih banyak berinvestasi pada pemeliharaan sistem jangka panjang, bukan pada development system saja. Bahkan, saya berpendapat bahwa investasi untuk development bisa sangat minimal kok.</p>
<p><a href="http://tsauri28.myhaley.com/blog/wp-content/uploads/2010/06/New-Picture.png" rel="shadowbox[post-889];player=img;"><img class="aligncenter size-full wp-image-899" title="New Picture" src="http://tsauri28.myhaley.com/blog/wp-content/uploads/2010/06/New-Picture.png" alt="" width="347" height="375" /></a></p>
<p>&#8211;</p>
<p><strong>Kesimpulan (sementara)</strong><br />
Dari paparan di atas setidaknya saya memiliki kesimpulan sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>masalah infrastruktur memang permasalahan yang pelik dan mahal, namun hal tersebut dapat diminimalisir dengan menyediakan aplikasi eLearning berbasis mobile (m-learning)</li>
<li>perlu banyak kampanye yang disampaikan agar masyarakat Indonesia pada umumnya memahami bahwa ICT just a tools,not god!, karena dengan menganggap ICT sebagai sesuatu yang wah, masyarakat kita akan terus merasa enggan untuk mencoba.</li>
<li>berangkatlah dari kebutuhan, bukan dari tool yang ada apalagi dari hanya sekedar gengsi!. Setelah merumuskan kebutuhan kita rumuskan ke konsep yang akan dikembangkan, setelah itu baru kita memilih tool yang tepat, bisa jadi hanya dengan tool berupa blog engine kebutuhan kita sudah terpenuhi. dan satu lagi, gengsi akan mengikuti jika kita berhasil dalam mengimplementasikannya!.</li>
<li>Para leader lembaga harus menguasai setidaknya sampai tataran filosofis tentang eLearning ini, sehingga kebijakan yang dikeluarkan menyangkut eLearning bisa diambil tepat guna.</li>
<li>Berpikirlah lebih panjang tentang investasi eLearning. Maksudnya jangan hanya berpikir bahwa membangun eLearning itu hanya cukup sampai sistem kita running dan dapat diakes kapanpun dan dimanapun, berinvestasi lebih lah pada tahap pemeliharaan sistem, termasuk di dalamnya investasi berupa penghargaan bagi para &#8216;aktivis&#8217; sistem kita.</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tsauri28.myhaley.com/blog/mencari-bentuk-ideal-elearning-sekolah-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memulai Jadi Peneliti</title>
		<link>http://tsauri28.myhaley.com/blog/memulai-jadi-peneliti/</link>
		<comments>http://tsauri28.myhaley.com/blog/memulai-jadi-peneliti/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jan 2010 02:35:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tsauri28</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[elearning]]></category>
		<category><![CDATA[penelitian]]></category>
		<category><![CDATA[riset]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tsauri28.myhaley.com/blog/?p=868</guid>
		<description><![CDATA[Awalnya (ketika SMA) mendengar kata &#8220;peneliti&#8221; saya merasa asing, aneh dan tampak menyeramkan, apalagi setelah mengetahui bahwa peneliti-peneliti di Indonesia banyak yang tidak bisa &#8216;hidup&#8217; dengan apa yang mereka dapatkan dari hasil kerja kerasnya sebagai peneliti. Seiring waktu, entah kenapa saya merasa mulai tertarik dengan pekerjaan itu. Sejak mengerjakan skripsi (memang telat sih..), saya merasa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Awalnya (ketika SMA) mendengar kata &#8220;peneliti&#8221; saya merasa asing, aneh dan tampak menyeramkan, apalagi setelah mengetahui bahwa peneliti-peneliti di Indonesia banyak yang tidak bisa &#8216;hidup&#8217; dengan apa yang mereka dapatkan dari hasil kerja kerasnya sebagai peneliti.</p>
<p>Seiring waktu, entah kenapa saya merasa mulai tertarik dengan pekerjaan itu. Sejak mengerjakan skripsi (memang telat sih..), saya merasa nyaman dengan aktifitas-aktifitas penelitian -merasa tertantang!. Sejak itulah niat untuk jadi peneliti muncul <img src='http://tsauri28.myhaley.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> .<span id="more-868"></span></p>
<p>Sebagai seorang peneliti tentu nantinya akan sangat akrab dengan beberapa istilah seperti paper, jurnal, prosiding, call for paper dan sebagainya. Berikut ini beberapa hal yang (baru) saya ketahui :</p>
<p><em><strong>paper :</strong></em> sering disebut makalah atau artikel, merupakan dokumentasi hasil penelitian. Umumnya berisi abstrak, latar belakang penelitian, kajian pustaka, metode penelitian, hasil penelitanan dan kesimpulan penelitiannya. Paper inilah yang terdapat dalam jurnal dan prosiding.</p>
<p><em><strong>Jurnal :</strong></em> merupakan kumpulan paper hasil penelitian, biasanya satu jurnal akan spesifik membahas satu bidang keilmuan. Jurnal biasanya memiliki nomor ISSN, volume dan nomor. Volume menunjukkan tahun keberapa jurnal itu terbit, nomor menunjukkan terbitan keberapa dalam volume (tahun). Jurnal juga ada yang bersifat nasional dan internasional, nah yang internasional tentu kualitasnya lebih bagus.</p>
<p><em><strong>Prosiding :</strong></em> hampir sama dengan jurnal, prosiding biasanya merupakan pembukuan paper hasil pertemuan ilmiah, biasanya berupa kegiatan <em>call for paper</em>.</p>
<p><em><strong>Call for Paper :</strong></em> adalah suatu kegiatan pertemuan ilmiah para peneliti untuk mempresentasikan paper-nya, hasilnya dibukukan menjadi sebuah prosiding.</p>
<p>Alhamdulillah, untuk skripsi saya kemarin, setelah saya <em>convert</em> menjadi bentuk paper diterima untuk masuk ke Jurnal PTIK, jurnal terbitan Program Ilmu Komputer UPI yang bekerjasama dengan IC2T. Rencana kedepan akan mencoba melakukan beberapa penelitian dan dimasukkan ke beberapa jurnal, mudah-mudahan lolos <img src='http://tsauri28.myhaley.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://ow.ly/SSm9"><img class="alignnone" title="Jurnal PTIK 2/2/2009" src="http://photos-c.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs137.snc3/18464_1291096247676_1538363183_771129_6593854_n.jpg" alt="" width="251" height="353" /></a></p>
<p>O ya, ini tulisan tentang Jurnal PTIK barangkali ada yang mau berlangganan -&gt; <a href="http://ow.ly/SSm9" target="_blank">http://ow.ly/SSm9</a>, paper saya ada di nomor ke-4, <img src='http://tsauri28.myhaley.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Anda berminat?</p>
<p style="text-align: right;">Hormat Saya,</p>
<p style="text-align: right;"><img class="alignright" src="http://www.mylivesignature.com/signatures/85713/tsauri28/e820e545a65f0ad978fa2050defbf27d.png" alt="signature" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tsauri28.myhaley.com/blog/memulai-jadi-peneliti/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>E-Portofolio dengan Google App</title>
		<link>http://tsauri28.myhaley.com/blog/e-portofolio-dengan-google-app/</link>
		<comments>http://tsauri28.myhaley.com/blog/e-portofolio-dengan-google-app/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Nov 2009 02:22:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tsauri28</dc:creator>
				<category><![CDATA[elearning]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[e-learning]]></category>
		<category><![CDATA[elearning 2.0]]></category>
		<category><![CDATA[eportofolio]]></category>
		<category><![CDATA[kurikulum tik]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan ilmu komputer]]></category>
		<category><![CDATA[toolbox development]]></category>
		<category><![CDATA[web 2.0]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tsauri28.myhaley.com/blog/?p=842</guid>
		<description><![CDATA[- Sekali lagi mari kita bahas tentang e-Portofolio - Seperti yang kita ketahui, google memberikan banyak sekali aplikasi gratis untuk user-nya, dimulai dari search engine, email sampai dengan igoogle merupakan produk-produk google yang revolusioner dan yang paling penting itu semua bisa didapatkan dengan gratis, menarik bukan? Nah, sekarang saya mencoba memberikan contoh bagaimana aplikasi-aplikasi google [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>- Sekali lagi mari kita bahas tentang <a href="http://tsauri28.myhaley.com/blog/penilaian-portofolio-online/" target="_blank"><strong>e-Portofolio</strong></a> <img src='http://tsauri28.myhaley.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  -</p>
<p>Seperti yang kita ketahui, google memberikan banyak sekali aplikasi gratis untuk user-nya, dimulai dari search engine, email sampai dengan igoogle merupakan produk-produk google yang revolusioner dan yang paling penting itu semua bisa didapatkan dengan gratis, menarik bukan?</p>
<p>Nah, sekarang saya mencoba memberikan contoh bagaimana aplikasi-aplikasi google tersebut dapat dijadikan sebuah instrumen yang luar biasa untuk membangun sebuah sistem <a href="http://tsauri28.myhaley.com/blog/tag/elearning" target="_blank">elearning</a> dengan satu pendekatan bernama <a href="http://tsauri28.myhaley.com/blog/penilaian-portofolio-online/"><strong>e-portofolio</strong></a>.<span id="more-842"></span></p>
<p><a href="../wp-content/uploads/2009/11/eportofolio+google.jpg" rel="shadowbox[post-842];player=img;"><img title="eportofolio+google" src="../wp-content/uploads/2009/11/eportofolio+google.jpg" alt="eportofolio+google" width="608" height="577" /></a></p>
<p style="text-align: right;">Hormat Saya,</p>
<p style="text-align: right;"><img class="alignright" src="http://www.mylivesignature.com/signatures/85713/tsauri28/e820e545a65f0ad978fa2050defbf27d.png" alt="signature" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tsauri28.myhaley.com/blog/e-portofolio-dengan-google-app/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>E-Learning: Personal Learning Environments</title>
		<link>http://tsauri28.myhaley.com/blog/pengertian-ples/</link>
		<comments>http://tsauri28.myhaley.com/blog/pengertian-ples/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Aug 2009 07:19:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tsauri28</dc:creator>
				<category><![CDATA[elearning]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[elearning 2.o]]></category>
		<category><![CDATA[personal learning]]></category>
		<category><![CDATA[ples]]></category>
		<category><![CDATA[web 2.0]]></category>
		<category><![CDATA[Web Services]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tsauri28.myhaley.com/blog/?p=816</guid>
		<description><![CDATA[E-learning telah lahir dan berkembang dalam hampir 2 dekade ini, banyak hasil-hasil pemikiran yang mencoba menghadirkan e-learning sebagai sebuah alternatif pembelajaran dan pendidikan baik di sekolah-sekolah maupun di industri-industri besar. Praktek E-Learning telah pula melahirkan banyak perangkat lunak bernama Learning Management System atau Course Management System seperti Moodle, Sakai, Dokeos dan masih banyak lagi yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong><a href="http://myhaley.com">E-learning</a></strong></em> telah lahir dan berkembang dalam hampir 2 dekade ini, banyak hasil-hasil pemikiran yang mencoba menghadirkan e-learning sebagai sebuah alternatif pembelajaran dan pendidikan baik di sekolah-sekolah maupun di industri-industri besar.</p>
<p>Praktek <em><strong>E-Learning</strong></em> telah pula melahirkan banyak perangkat lunak bernama <em><strong>Learning Management System</strong></em> atau <em><strong>Course Management System</strong></em> seperti Moodle, Sakai, Dokeos dan masih banyak lagi yang lainnya. Namun sayang, <span id="more-816"></span>dalam implementasinya belum memberikan hasil yang menggembirakan, hal ini disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya adalah kurang motivasi dari pengguna <em>software</em> (siswa dan guru) tersebut untuk menjadikannya sebuah wahana pembelajaran yang menyenangkan, —alih-alih membantu, malah membuat beban baru!.</p>
<p>Melihat hal tersebut maka lahirlah sebuah pemikiran-pemikiran bagaimana agar pengguna merasa tetap nyaman dengan <em><strong>e-learning. </strong></em>Salah satunya adalah lahir sebuah konsep pendekatan pengembangan <em><strong>e-learning</strong></em> bernama &#8220;<em><strong>Personal Learning Environments (PLEs)</strong></em>&#8220;.</p>
<h4><a href="http://www.slideshare.net/tsauri28/personal-learning-environments-pl-es">Apakah <em><strong>Personal Learning Environments</strong></em> itu?</a></h4>
<p><em><strong>Personal Learning Environments</strong></em> atau disingkat <em><strong>PLEs</strong></em> adalah sebuah pendekatan atau cara pandang <em><strong>e-learning </strong></em>dilihat dari sudut pandang pengalaman belajar mandiri siswa/pengguna. Graham Attwell mendefinisikan PLEs sebagai berikut :</p>
<blockquote><p><em><strong>Personal Learning Environments</strong> (PLE) as an idea that firstly integrates &#8220;pressures and movements&#8221; like lifelong learning, <a title="Informal learning" href="http://edutechwiki.unige.ch/en/Informal_learning">informal learning</a>, <a title="Learning style" href="http://edutechwiki.unige.ch/en/Learning_style">learning styles</a>, new approaches to <a class="mw-redirect" title="Assessment" href="http://edutechwiki.unige.ch/en/Assessment">assessment</a>, <a title="Cognitive tool" href="http://edutechwiki.unige.ch/en/Cognitive_tool">cognitive tools</a>. Furthermore, PLEs are inspired by the success of &#8220;sticky&#8221; new technologies in <a title="Ubiquitous computing" href="http://edutechwiki.unige.ch/en/Ubiquitous_computing">ubiquitous computing</a> and <a title="Social software" href="http://edutechwiki.unige.ch/en/Social_software">social software</a>. </em></p></blockquote>
<p><img class="alignright" title="PLEs v.s. VLE" src="http://edutechwiki.unige.ch/mediawiki/images/LMS_PLE-chatti.gif" alt="" width="313" height="191" /></p>
<p>Lain halnya dengan Graham Attwell, Mohamed Amine Chatti mengibaratkan PLEs sebagai perlengkapan kecil-kecil namun lengkap, berbeda dengan LMS atau sering disebut dengan<em><strong> e-learning</strong></em> dengan pendekatan<em><strong> Virtual Learning Environment</strong></em> (VLE) sebagai &#8220;<em>pisau swiss</em>&#8220;.</p>
<p>Intinya bahwa PLEs melihat <em><strong>e-learning</strong></em> sebagai sebuah aktivitas yang biasa dilakukan seseorang ketika <em>online</em>, <em>tools</em>-nya bebas, bisa dengan <em>social networking</em>, blog atau<em> tools </em>lainnya. Hal ini diharapkan <a href="http://tsauri28.myhaley.com/blog/apa-e-learning-20-itu/"><strong>demotivasi</strong></a> yang biasa terjadi dapat dihilangkan atau setidaknya dikurangi.</p>
<p>Untuk lebih memahami, berikut presentasi tentang PLEs :</p>
<div id="__ss_1724942" style="width: 425px; text-align: left;"><a style="font:14px Helvetica,Arial,Sans-serif;display:block;margin:12px 0 3px 0;text-decoration:underline;" title="Personal Learning Environments (Pl Es)" href="http://www.slideshare.net/tsauri28/personal-learning-environments-pl-es">Personal Learning Environments (Pl Es)</a><object style="margin:0px" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="355" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="src" value="http://static.slidesharecdn.com/swf/ssplayer2.swf?doc=personallearningenvironmentsples-090715083451-phpapp02&amp;stripped_title=personal-learning-environments-pl-es" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed style="margin:0px" type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="355" src="http://static.slidesharecdn.com/swf/ssplayer2.swf?doc=personallearningenvironmentsples-090715083451-phpapp02&amp;stripped_title=personal-learning-environments-pl-es" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<div style="font-size: 11px; font-family: tahoma,arial; height: 26px; padding-top: 2px;">View more <a style="text-decoration:underline;" href="http://www.slideshare.net/">presentations</a> from <a style="text-decoration:underline;" href="http://www.slideshare.net/tsauri28">Asep Sufyan Tsauri</a>.</div>
</div>
<h4>Kesimpulan</h4>
<p>PLEs adalah sebuah pendekatan atau cara pandang terhadap <strong><em>e-learning</em> </strong> sebagai sebuah aktivitas pembelajaran yang dilakukan secara <em>online</em> oleh pembelajar (siswa) dengan <em>tools</em> yang biasa dan disenangi oleh pembelajar yang bersangkutan. PLEs ini diprediksikan akan menjadi titik tolak utama dalam pengembangan sistem <a href="http://tsauri28.myhaley.com/blog/masa-depan-e-learning/"><em><strong>e-learning</strong></em> di masa yang akan segera datang</a>.</p>
<blockquote><p>Artikel ini merupakan salah satu topik penelitian di Program Studi <a href="http://cs.upi.edu">Pendidikan Ilmu Komputer</a> UPI Bandung, sebuah Program Studi yang menghasilkan <a href="http://cs.upi.edu/v2/index.php?page=guru-tik" target="_blank"><strong>guru TIK</strong></a>.</p></blockquote>
<p style="text-align: right;">Hormat Saya,</p>
<p style="text-align: right;"><img class="alignright" src="http://www.mylivesignature.com/signatures/85713/tsauri28/e820e545a65f0ad978fa2050defbf27d.png" alt="signature" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tsauri28.myhaley.com/blog/pengertian-ples/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memperkenalkan Diigo Social Bookmarking</title>
		<link>http://tsauri28.myhaley.com/blog/memperkenalkan-diigo-social-bookmarking/</link>
		<comments>http://tsauri28.myhaley.com/blog/memperkenalkan-diigo-social-bookmarking/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Jul 2009 01:25:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tsauri28</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[connectivism]]></category>
		<category><![CDATA[e-learning]]></category>
		<category><![CDATA[elearning]]></category>
		<category><![CDATA[elearning 2.0]]></category>
		<category><![CDATA[kurikulum tik]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan ilmu komputer]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Teknologi Dasar]]></category>
		<category><![CDATA[personal learning environments]]></category>
		<category><![CDATA[ple]]></category>
		<category><![CDATA[ples]]></category>
		<category><![CDATA[rekomendasi]]></category>
		<category><![CDATA[toolbox development]]></category>
		<category><![CDATA[tren]]></category>
		<category><![CDATA[Web Services]]></category>
		<category><![CDATA[Webservice]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tsauri28.myhaley.com/blog/?p=767</guid>
		<description><![CDATA[Satu lagi social networking yang saya ikuti, diigo namanya. Sifat dari social networking ini sedikit berbeda dengan yang lainnya, sehingga lebih tepat disebut social bookmarking. Mengapa? karena diigo ini memiliki fokus pada bagaimana membantu user untuk mengorganisir, me-share dan mendiskusikan koleksi website-webiste personal (bookmark). Sebetulnya social bookmarking bukan hal yang baru di dunia web 2.0, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Satu lagi <em>social networking</em> yang saya ikuti, <a href="http://diigo.com" target="_blank"><strong>diigo</strong></a> namanya. Sifat dari <em>social networking</em> ini sedikit berbeda dengan yang lainnya, sehingga lebih tepat disebut <strong><em>social bookmarking</em></strong>. Mengapa? karena diigo ini memiliki fokus pada bagaimana membantu user untuk mengorganisir, me-<em>share</em> dan mendiskusikan koleksi website-webiste personal (bookmark).</p>
<p>Sebetulnya social bookmarking bukan hal yang baru di dunia web 2.0, sebelumnya telah lahir social bookmarking semacam digg, google bookmark, dan sebagainya. Namun, diigo meskipun masih versi beta telah memiliki beberapa hal menarik yang belum dimiliki yang lainnya, cukup revolusioner menurut saya!. Seperti <span id="more-767"></span>fitur Sticky Notes, Read Later, Highlight dan sebagainya. Diigo ini sangat cocok untuk dijadikan tools untuk kita yang terbiasa browsing-browsing namun kesulitas untuk mengorganisirnya, dan terkadang kita lupa alamat web padahal itu sangat penting.</p>
<p>Berikut ini beberapa fitur yang cukup menarik dari diigo :</p>
<p><strong>Diigo Toolbar</strong><br />
Diigo memberikan fitur yang akan sangat membantu kita dalam melakukan hobby kita berselancar, yaitu toolbar yang dapat di-embed ke browser milik kita. Browser yang mendukung diantaranya firefox, IE dan flox.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="diigo toolbar" src="http://upload.kapanlagi.com/show.php?photo=20090713074408_diigotoolbar_4a5a83588c770.jpg" alt="" width="500" height="117" /></p>
<p>Dengan adanya toolbar, kita tidak selalu harus untuk membuka website diigo untuk menggunakan fitur-fitur yang ditawarkan diigo. Tidak egois kan? <img src='http://tsauri28.myhaley.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>Sticky Notes</strong><br />
Fitur ini memungkinkan kita berdiskusi di suatu halaman web tertentu dengan pengguna diigo lainnya. Sticky Notes ini dapat disetting hanya untuk catatan pribadi (private), group ataupun public.</p>
<p><img class="alignnone" title="diigo sticky notes example" src="http://upload.kapanlagi.com/show.php?photo=20090713074408_sticky_4a5a835882ac6.jpg" alt="" width="485" height="181" /></p>
<p>Terdapat nilai plus dan minus dari fitur ini memang, jika tidak digunakan dengan baik fitur ini banyak dianggap sebagai fasilitas spamming, oleh karena itu sebaiknya fitur ini digunakan seperlunya saja.</p>
<p><strong>Diigo Group</strong><br />
<img class="alignright" title="signup diigo group" src="http://upload.kapanlagi.com/show.php?photo=20090713074408_diigogroup_4a5a83589152b.jpg" alt="" width="167" height="127" /></p>
<p>Diigo sebagai <em>social networking</em>, fitur group ini memang merupakan fitur wajib. Dengan fitur ini kita bisa berkolaborasi tentang berbagai bookmark dengan user lain, sehingga pengetahuan kita bisa semakin luas dan kaya.</p>
<p>Sebaiknya mengikuti group yang memang diikuti oleh user-user yang sudah dipercayai anda, agar fungsi dari group ini bisa banyak membantu.</p>
<p><strong>Tips Menggunakan Diigo</strong><br />
Agar penggunaan diigo ini memberikan manfaat yang maksimal bagi pengetahuan anda, berikut ada beberapa tips yang bisa dilakukan.</p>
<ul>
<li>Bookmark yang memang benar-benar website penting</li>
<li>Buat perencanaan belajar pribadi yang sederhana saja, seperti topik apa yang akan dipelajari, sehingga kita fokus pada saat browsing dan memasukkannya ke diigo</li>
<li>berikan tag yang jelas, agar kita mudah mencarinya dikemudian hari</li>
<li>Manfaatkan sticky notes sebijak mungkin, jika tidak ingin disebut sebagai spammer <img src='http://tsauri28.myhaley.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </li>
<li>Ikuti group yang berkualitas</li>
<li>Manfaatkan fitur highlight seoptimal mungkin</li>
<li>Jangan lupa mengdownload toolbarnya, karena akan sangat membantu.</li>
</ul>
<p><strong>Kesimpulan</strong><br />
Diigo merupakan situs social bookmarking yang memberikan banyak fitur yang menarik, cocok untuk kegiatan pembelajaran online pribadi kita, karena kita dapat mengorganisir <em>resource</em> yang bertebaran di dunia maya ini <img src='http://tsauri28.myhaley.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  .<br />
Selamat mencoba! dan jangan lupa kunjungi profil saya di <a href="http://www.diigo.com/profile/tsauri28">http://www.diigo.com/profile/tsauri28</a></p>
<p style="text-align: right;">Hormat Saya,<img class="alignright" src="http://www.mylivesignature.com/signatures/85713/tsauri28/e820e545a65f0ad978fa2050defbf27d.png" alt="signature" /></p>
<div id="clear"</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tsauri28.myhaley.com/blog/memperkenalkan-diigo-social-bookmarking/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fitur Baru WordPress 2.8</title>
		<link>http://tsauri28.myhaley.com/blog/fitur-baru-wordpress-28/</link>
		<comments>http://tsauri28.myhaley.com/blog/fitur-baru-wordpress-28/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Jun 2009 00:41:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tsauri28</dc:creator>
				<category><![CDATA[Download]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[elearning]]></category>
		<category><![CDATA[plugin wp]]></category>
		<category><![CDATA[toolbox development]]></category>
		<category><![CDATA[tren]]></category>
		<category><![CDATA[Tutorial]]></category>
		<category><![CDATA[wordpress]]></category>
		<category><![CDATA[wp hack]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tsauri28.myhaley.com/blog/?p=757</guid>
		<description><![CDATA[WordPress sudah mengeluarkan versi terbarunya beberapa minggu yang lalu, yaitu versi 2.8. Versi ini terbilang cukup cepat, sebelumnya wordpress mengeluarkan versi 2.7 dan 2.7.1, dan langsung loncat ke versi 2.8 ini. Terdapat beberapa fitur baru yang sangat memudahkan user, seperti theme installer dan plugin management update. Berikut ini 10 fitur baru yang di-review oleh nettuts.com [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://wordpress.org" target="_blank"><strong>WordPress</strong></a> sudah mengeluarkan versi terbarunya beberapa minggu yang lalu, yaitu versi 2.8. Versi ini terbilang cukup cepat, sebelumnya wordpress mengeluarkan versi 2.7 dan 2.7.1, dan langsung loncat ke versi 2.8 ini.</p>
<p>Terdapat beberapa fitur baru yang sangat memudahkan user, seperti<strong> theme installer</strong> dan <strong>plugin management update</strong>. Berikut ini 10 fitur baru yang di-review oleh <a href="http://net.tutsplus.com/tutorials/wordpress/10-wordpress-28-features-to-look-out-for/" target="_blank">nettuts.com</a> (saya terjemahkan seperlunya).<span id="more-757"></span></p>
<p><strong>Columns, Drag and Drop Dashboard</strong></p>
<p>WordPress 2.8 memiliki dashboard yang lebih <em>user friendly</em>, dapat diatur apa saja yang ditampilkan dan bagaimana penempatannya. Fungsi drag and drop mengingatkan saya dengan layanan yang lebih dahulu mengusung fungsi ini, yaitu igoogle <img src='http://tsauri28.myhaley.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><img class="alignnone" title="dashboard" src="http://nettuts.s3.amazonaws.com/356_wp28/columns.jpg" alt="" width="600" height="200" /></p>
<p><strong>Password Reminder</strong></p>
<p><img class="alignnone" title="PAss Reminder" src="http://nettuts.s3.amazonaws.com/356_wp28/password.jpg" alt="" width="600" height="200" /></p>
<p>Ketika menginstall wordpress baru kita suka diberi password yang di-generete oleh engine, terkadang kita lupa dan merepotkan seakali. Versi 2.8 memberikan fasilitas pengingat password.</p>
<p><strong>Themes Installer</strong></p>
<p>Dalam versi-versi sebelumnya, wordpress baru hanya memberikan fasilitas install plugin. Dalam versi terbaru ini, telah ditambahkan fasilitas themes installer, jadi sekarang tidak repot lagi harus upload manual themes ke web server <img src='http://tsauri28.myhaley.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><img class="alignnone" title="theme" src="http://nettuts.s3.amazonaws.com/356_wp28/theme.jpg" alt="" width="600" height="200" /></p>
<p><strong>Syntax Highlighter &amp; Function Reference</strong></p>
<p><img class="alignnone" title="highlighter" src="http://nettuts.s3.amazonaws.com/356_wp28/syntax.jpg" alt="" width="600" height="350" /></p>
<p>Berita gembira bagi para developer wordpress, dalam versi 2.8 ini telah ditambahkan syntax highlighter dan function references untuk theme editor dan plugin editor.</p>
<p><strong>Widgets Interface</strong></p>
<p>Kini widget akan lebih mudah diatur, karena wordpress memberikan fasilitas widgets interface sehingga kita bisa melihat simulasi tampilan widget akan seperti apa.</p>
<p><img class="alignnone" title="widget" src="http://nettuts.s3.amazonaws.com/356_wp28/widgets.jpg" alt="" width="600" height="400" /></p>
<p><strong>Widget API</strong></p>
<p><img class="alignnone" title="widget api" src="http://nettuts.s3.amazonaws.com/356_wp28/widgetsapi.jpg" alt="" width="600" height="225" /></p>
<p>Fasilitas ini akan lebih memudahkan kita membuat widget sesuai dengan kebutuhan kita. Dengan adanya API, selain akan lebih memudahkan pembuatan juga akan membuat kode yang kita buat menjadi standar.</p>
<p><strong>Time Zones and DST</strong></p>
<p>WordPress kini mendukung time zone yang tidak terdapat di versi sebelumnya.</p>
<p><img class="alignnone" title="time zones" src="http://nettuts.s3.amazonaws.com/356_wp28/timezones.jpg" alt="" width="600" height="200" /></p>
<p><strong>Custom Taxonomies</strong></p>
<p>Satu hal lagi yang akan memanjakan para developer wordpress, pada versi ini kita dapat membuat taxonomi sesuai kebutuhan kita. Pada versi sebelumnya kita hanya mengenal 3 (tiga) taxonomi, yaitu category, post_tag dan link_category. Sekarang kita dapat menambahkan taxonomi sesuai kebutuhan kita.</p>
<p><img class="alignnone" title="taxonomies" src="http://nettuts.s3.amazonaws.com/356_wp28/taxonomy.jpg" alt="" width="600" height="200" /></p>
<p><strong>Faster Administration Pages</strong></p>
<p><img class="alignnone" title="faster admin" src="http://nettuts.s3.amazonaws.com/356_wp28/speed.jpg" alt="" width="600" height="200" /></p>
<p>Salah satu kelemahan wordpress versi sebelumnya adalah masalah performance dan loading times, ketika kita membuka wp-admin untuk membuat tulisan terbaru terasa sangat lambat jika dibandingkan dengan CMS lainnya. Dalam versi terbaru ini, wordpress telah memperbaharui hal tersebut, beberapa script telah dikompresi dan disederhanakan, sehingga masalah diatas diklaim telah teratasi.</p>
<p><strong>Plugin Management Update</strong></p>
<p><img class="alignnone" title="plugins" src="http://nettuts.s3.amazonaws.com/356_wp28/plugins.jpg" alt="" width="600" height="200" /></p>
<p>Sekarang wordpress menyediakan fasilitas update plugin secara otomatis, sehingga kita tidak repot lagi untuk install ulang secara manual.</p>
<p>Kesimpulan:</p>
<p>WordPress versi 2.8 memiliki banyak fitur baru yang menarik, khususnya untuk para developer. Namun sayang, sampai saat ini masih sedikit plugin yang sudah support versi ini.</p>
<p>Tulisan asli: http://net.tutsplus.com/tutorials/wordpress/10-wordpress-28-features-to-look-out-for/</p>
<p style="text-align: right;">Hormat Saya,<img class="alignright" src="http://www.mylivesignature.com/signatures/85713/tsauri28/e820e545a65f0ad978fa2050defbf27d.png" alt="signature" /></p>
<div id="clear"></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tsauri28.myhaley.com/blog/fitur-baru-wordpress-28/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masa Depan E-Learning</title>
		<link>http://tsauri28.myhaley.com/blog/masa-depan-e-learning/</link>
		<comments>http://tsauri28.myhaley.com/blog/masa-depan-e-learning/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Jun 2009 18:16:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tsauri28</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[e-learning]]></category>
		<category><![CDATA[elearning]]></category>
		<category><![CDATA[elearning 2.0]]></category>
		<category><![CDATA[ilkom upi]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan ilmu komputer]]></category>
		<category><![CDATA[tik]]></category>
		<category><![CDATA[tren]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tsauri28.myhaley.com/blog/?p=752</guid>
		<description><![CDATA[E-Learning diprediksikan oleh banyak pakar akan menjadi sebuah metode yang akan digunakan oleh banyak lingkungan kerja untuk melakukan up-grading internal organisasi tersebut. Ada sebuah penelitian yang cukup menarik yang dilakukan oleh Kyong-Jee Kim dan Curtis J. Bonk dari Indiana University tahun 2004 yang melakukan survey untuk melihat masa depan E-Learning. Penelitian tersebut mencoba melihat kecenderungan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>E-Learning diprediksikan oleh banyak pakar akan menjadi sebuah metode yang akan digunakan oleh banyak lingkungan kerja untuk melakukan <em>up-grading</em> internal organisasi tersebut. Ada sebuah penelitian yang cukup menarik yang dilakukan oleh <span class="byline">Kyong-Jee Kim dan Curtis J. Bonk dari </span><span class="byline">Indiana University tahun 2004 yang melakukan survey untuk melihat masa depan E-Learning. Penelitian tersebut mencoba melihat kecenderungan pengembangan E-Learning yang akan dilakukan oleh 239 orang peneliti dan praktisi. Ada beberapa hal menarik dari hasil penelitan tersebut, seperti konsentrasi apa yang akan dikembangkan dimasa datang dan teknologi apa yang akan dipakai dimasa yang akan datang.<span id="more-752"></span></span></p>
<p><strong><span class="byline">Konsentrasi Pengembangan Yang Akan Datang</span></strong></p>
<p style="text-align: center;"><span class="byline"><img class="aligncenter" title="Fokus Pengembangan" src="http://elearnmag.org/content/subpages/images/kim_bonk_zeng/Figure2_350w_206h.jpg" alt="" width="350" height="206" /></span></p>
<p><span class="byline">Lebih dari 30% responden meramalkan bahwa di masa mendatang akan konsenterasi pada pengembangan konten dari sistem E-Learning. Di masa mendatang diperkirakan tool dan sistem bukan lagi konsentrasi utama dalam pengembangan E-Learning.<br />
</span></p>
<p><strong><span class="byline">Teknologi yang Diprediksikan Berkembang</span></strong></p>
<p style="text-align: center;"><span class="byline"><img class="aligncenter" title="Teknologi" src="http://elearnmag.org/content/subpages/images/kim_bonk_zeng/Figure4_350w_196h.jpg" alt="" width="350" height="196" /></span></p>
<p><span class="byline">Di masa mendatang, E-Learning diprediksi akan menjadi alat Knowledge Management dan bentuk dari model pelaksanaannya berupa pembelajaran studi kasus.</span></p>
<p><span class="byline">Untuk melihat hasil penelitian lebih lengkapnya silahkan lihat di:</span></p>
<p><span class="byline"><a href="http://elearnmag.org/subpage.cfm?section=research&amp;article=5-1" target="_blank">http://elearnmag.org/subpage.cfm?section=research&amp;article=5-1</a><br />
</span></p>
<p style="text-align: right;">Hormat Saya,<img class="alignright" src="http://www.mylivesignature.com/signatures/85713/tsauri28/e820e545a65f0ad978fa2050defbf27d.png" alt="signature" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tsauri28.myhaley.com/blog/masa-depan-e-learning/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Konektivisme: Jangan Mau Belajar TIK</title>
		<link>http://tsauri28.myhaley.com/blog/konektivisme-jangan-mau-belajar-tik/</link>
		<comments>http://tsauri28.myhaley.com/blog/konektivisme-jangan-mau-belajar-tik/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Jun 2009 11:56:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tsauri28</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[e-learning]]></category>
		<category><![CDATA[elearning]]></category>
		<category><![CDATA[elearning 2.0]]></category>
		<category><![CDATA[ilkom upi]]></category>
		<category><![CDATA[kurikulum tik]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan ilmu komputer]]></category>
		<category><![CDATA[silabus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tsauri28.myhaley.com/blog/?p=738</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Untuk para pelajar SMP dan SMA, jangan mau belajar mata pelajaran TIK jika hanya belajar membuat makalah dan presentasi dengan perangkat lunak  bajakan. Jangan mau pula jika anda diperlakukan selayaknya robot, disuruh klik kanan, lalu klik kiri.. dan selesailah dua jam pelajaran TIK anda di sekolah dalam seminggu, tanpa anda mengerti esensinya.&#8221; Itulah bentuk kerisauan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8220;Untuk para pelajar SMP dan SMA, jangan mau belajar mata pelajaran TIK jika hanya belajar membuat makalah dan presentasi dengan perangkat lunak  bajakan. Jangan mau pula jika anda diperlakukan selayaknya robot, disuruh klik kanan, lalu klik kiri.. dan selesailah dua jam pelajaran TIK anda di sekolah dalam seminggu, tanpa anda mengerti esensinya.&#8221;</em></p>
<p>Itulah bentuk kerisauan saya tentang aplikasi kurikulum mata pelajaran TIK di sekolah saat ini, bukan berarti saya tidak setuju 100% dengan hal itu, tetapi saya merasa itu bukanlah esensi sesungguhnya kurikulum TIK di Sekolah Menengah. Saya bukan tidak sepakat jika mata pelajaran TIK di sekolah salah satunya adalah mempelajari untuk menggunakan beberapa perangkat lunak, tapi ada yang lebih penting dibandingkan dengan hal itu, ada satu hal yang dilupakan dalam penyusunan kurikulum TIK, dan itu sangat penting!.<span id="more-738"></span></p>
<p>Pelajaran TIK di Sekolah Menengah <strong>bukan bertujuan</strong> untuk menciptakan <em><strong>teknokrat</strong></em> di bidang informatika seperti layaknya di Universitas, (semestinya) tujuannya adalah untuk membentuk karakter siswa untuk terbiasa menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk membantu kehidupannya, membantu menyelesaikan masalah dan membantunya belajar lebih cepat dan efisien. Sehingga akan <strong>menjadi apapun</strong> (pekerjaan) siswa itu kelak, dapat menggunakan teknologi dengan tepat dan bijaksana.</p>
<p>Satu hal yang belum dimasukkan kedalam kurikulum TIK di sekolah ini adalah tentang <strong>bagaimana menggunakan teknologi untuk belajar dan untuk kehidupan yang lebih luas</strong>. Mungkin terdengar terlalu teoritis, namun itulah yang justru harus menjadi semangat dari pengembangan kurikulum TIK untuk SMP maupun SMA, sehingga penyalahgunaan teknologi seperti film-film porno yang selama ini dilakukan oleh sebagian remaja kita akan semakin berkurang.</p>
<p>Berbicara tentang teknologi dan cara belajar, ada sebuah teori pembelajaran baru yang diungkapkan oleh ilmuan bernama <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Stephen_Downes" target="_blank">Stephen Downes</a> dan <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/George_Siemens" target="_blank">George Siemens</a>, yaitu teori <strong><a title="konektivisme: wikipedia" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Connectivism_(learning_theory)" target="_blank">connectivism</a></strong> atau konektivisme. Saya berpendapat, seharusnya pelajaran TIK dilandasi oleh teori ini, sehingga pelajaran TIK dapat menjadi motor untuk perubahan gaya belajar siswa dan gaya mengajar guru yang dapat menerima teknologi yang berubah begitu cepat.</p>
<div id="__ss_164150" style="width: 425px; text-align: center;"><object width="425" height="355" data="http://static.slidesharecdn.com/swf/ssplayer2.swf?doc=connectivism-101-1194920072248473-3&amp;stripped_title=connectivism-101" type="application/x-shockwave-flash"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="src" value="http://static.slidesharecdn.com/swf/ssplayer2.swf?doc=connectivism-101-1194920072248473-3&amp;stripped_title=connectivism-101" /><param name="allowfullscreen" value="true" /></object></p>
<div style="font-size: 11px; font-family: tahoma,arial; height: 26px; padding-top: 2px; text-align: center;"><em>View more <a style="text-decoration:underline;" href="http://www.slideshare.net/">OpenOffice presentations</a> from <a style="text-decoration:underline;" href="http://www.slideshare.net/gsiemens">gsiemens</a>.</em></div>
</div>
<p>Menurut  <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/George_Siemens" target="_blank">George Siemens</a>, konektivisme memiliki prinsip-prinsip sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Pembelajaran dan pengetahuan berada dalam keaneka-ragaman (diversity) pandangan/pendapat/opini.</li>
<li>Pembelajaran merupakan suatu proses menghubungkan sumber sumber informasi terutama node node khusus. Selain itu, pembelajaran dapat terjadi di luar diri manusia ( may reside in non-human appliances )</li>
<li>Kapasitas untuk dapat mengetahui lebih penting dari pada apa yang saat ini diketahui.</li>
<li>Mendorong dan memelihara hubungan hubungan diperlukan untuk memfasilitasi terjadinya pembelajaran berkelanjutan.</li>
<li>Kemampuan untuk melihat hubungan hubungan antara bidang bidang, ide ide, dan konsep konsep merupakan keterampilan inti.</li>
<li>Kemutakhiran (akurat, pengetahuan up-to-date) merupakan tujuan dari kegiatan pembelajaran connectivism</li>
<li>Pengambilan keputusan merupakan proses pembelajaran.</li>
<li>Memilih apa yang akan dipelajari sangat penting dalam menghadapi “banjir informasi”.</li>
<li>Makna dari informasi yang masuk harus dilihat melalui “kacamata” suatu pergeseran realitas. Suatu jawaban yang benar saat ini dapat salah besok pagi karena adanya perubahan “iklim” informasi yang mempengaruhi keputusan tersebut.</li>
</ol>
<p>Akhirnya saya berharap agar kurikulum TIK dapat terus ditinjau dengan banyak sudut pandang yang kreatif. Agar mata pelajaran <em>&#8220;teknologi&#8221;</em> ini tidak malah jadi mata pelajaran yang tidak peka perubahan.<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<br />
Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya tentang &#8220;<a title="kemanakah roh kurikulum tik" href="http://tsauri28.myhaley.com/blog/kemanakah-ruh-kurikulum-tik/" target="_blank">Kemanakah Roh Kurikulum TIK?</a>&#8220;.</p>
<p style="text-align: right;">Hormat Saya,<img class="alignright" src="http://www.mylivesignature.com/signatures/85713/tsauri28/e820e545a65f0ad978fa2050defbf27d.png" alt="signature" /></p>
<div id="clear"></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tsauri28.myhaley.com/blog/konektivisme-jangan-mau-belajar-tik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penilaian Portofolio Online</title>
		<link>http://tsauri28.myhaley.com/blog/penilaian-portofolio-online/</link>
		<comments>http://tsauri28.myhaley.com/blog/penilaian-portofolio-online/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Jun 2009 02:43:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tsauri28</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Tutorial]]></category>
		<category><![CDATA[assesment]]></category>
		<category><![CDATA[elearning]]></category>
		<category><![CDATA[elearning 2.0]]></category>
		<category><![CDATA[evaluasi pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[kurikulum tik]]></category>
		<category><![CDATA[metode penilaian]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan ilmu komputer]]></category>
		<category><![CDATA[rpp]]></category>
		<category><![CDATA[tren]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tsauri28.myhaley.com/blog/?p=724</guid>
		<description><![CDATA[Dalam proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), proses pengujian atau penilaian merupakan suatu komponen yang tidak kalah penting dibandingkan dengan proses lainnya. Penilaian atau pengujian atau sering disebut juga assessment memiliki banyak model, seperti penilaian berbasis kelas, benchmarking, dan model portofolio. Model portofolio assessment cocok digunakan untuk mata pelajaran yang bersifat menuntut output pembelajaran siswa dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), proses pengujian atau penilaian merupakan suatu komponen yang tidak kalah penting dibandingkan dengan proses lainnya. Penilaian atau pengujian atau sering disebut juga <em>assessment</em> memiliki banyak model, seperti penilaian berbasis kelas, <em>benchmarking</em>, dan model portofolio.</p>
<p>Model <em>portofolio assessment</em> cocok digunakan untuk mata pelajaran yang bersifat menuntut <em>output</em> pembelajaran siswa dari segi pengetahuan, keterampilan dan sikap. Penilaian ini berupa penilaian terhadap sekumpulan karya peserta didik yang tersusun secara sistematis dan terorganisir yang diambil selama proses pembelajaran dalam kurun waktu tertentu.<span id="more-724"></span></p>
<p><strong>Mengapa Menggunakan Penilaian Portofolio?</strong></p>
<p>Menurut Suderajat (2004) dan Sumarna (2006), alasan mengapa menggunakan penilaian portofolio karena :</p>
<ol>
<li>dapat menghargai proses pembelajaran hasil belajar siswa</li>
<li>mengdokumentasikan proses pembelajaran yang berlangsung</li>
<li>memberi perhatian pada prestasi siswa yang memang memiliki prestasi</li>
<li>bertukar informasi dengan orang tua/wali, peserta didik dan guru</li>
<li>meningkatkan efektivitas proses pengajaran</li>
<li>dapat merefleksikan kesanggupan mengambil resiko dan melakukan eksperimen</li>
<li>dapat membina dan mempercepat pertumbuhan konsep diri pada siswa</li>
<li>siswa memandang lebih objektif dan terbuka dibandingkan dengan penilaian tradisional karena siswa menilai hasil kinerja sendiri</li>
<li>membantu peserta didik dalam merumuskan tujuan</li>
</ol>
<p><strong>Dapatkah Dilakukan Secara Online?</strong></p>
<p>Mengkonversi penilaian portofolio menjadi online bukan pekerjaan yang sulit, bahkan cenderung lebih mudah dan <em>low cost</em>. Bagaimana caranya?</p>
<p>Di era web 2.0 seperti sekarang ini, aplikasi-aplikasi yang bersifat <em>&#8216;user generated content</em>&#8216; menjamur dimana-mana, bahkan yang lokal berbahasa Indonesia-pun mulai bertumbuhan, dan yang paling penting semuanya itu tidak ada yang berbayar, alias GRATIS!. Kesemua aplikasi tersebut bisa dijadikan alat yang sangat powerfull untuk dijadikan media penilaian portofolio secara online.</p>
<ol>
<li><strong>Blog</strong>. Guru bisa memanfaatkan media blog untuk melihat proses belajar siswa dengan tulisan. WordPress.com, Blogspot.com atau dagdigdug.com kesemuanya gratis, semua siswa dapat memiliki blog yang bisa dimanfaatkan sebagai media portofolio mereka.</li>
<li><strong>Video</strong>. Siswa atau kelompok siswa dapat diinstruksikan untuk membuat video-video kecil untuk memperlihatkan proses belajarnya, kemudian upload ke youtube.com, misalnya.</li>
<li><strong>Dokumen, Presentasi, dsb</strong>. Siswa mungkin akan memiliki kebanggaan yang lebih jika buah fikirannya berupa makalah, presentasi (ppt), dsb dapat dilihat oleh semua orang. Saat ini sangat mudah dan tidak berbayar, tinggal upload di Slideshare.net, Scribd.com, dsb.</li>
<li><strong>Social Networking</strong>. Saat ini Guru dan orang tua dapat dengan mudah melihat perkembangan siswa melalui media social networking seperti Facebook.com, twitter.com, dsb. Apalagi kecendrungan pemakai aplikasi ini di Indonesia didominasi oleh anak-anak ABG (sumber: Alexa.Com).</li>
</ol>
<p>Dalam pandangan saya justru dengan dilakukan online, semuanya dapat menggambarkan keadaan yang senyata-nyatanya. Bagaimana siswa berfikir tentang sesuatu, bagaimana tentang kreatifitas siswa dapat dilihat dari kebiasaannya melakukan <em>online activity</em> di dunia maya.</p>
<blockquote><p>Catatan ini merupakan salah satu topik penelitian di Program Studi <strong><a href="http://cs.upi.edu">Pendidikan Ilmu Komputer</a> FPMIPA UPI</strong> di Bandung, suatu Prodi baru untuk menjawab kebutuhan <strong><a href="http://cs.upi.edu/v2/index.php?page=guru-tik" target="_blank">guru TIK </a></strong>di lapangan.</p></blockquote>
<p style="text-align: right;">Hormat Saya,</p>
<p style="text-align: right;"><img class="alignright" src="http://www.mylivesignature.com/signatures/85713/tsauri28/e820e545a65f0ad978fa2050defbf27d.png" alt="signature" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tsauri28.myhaley.com/blog/penilaian-portofolio-online/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Dynamic Page Served (once) in 0.890 seconds -->

