<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Sufyan Tsauri's Blog &#187; elearning 2.0</title>
	<atom:link href="http://tsauri28.myhaley.com/blog/tag/elearning-20/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tsauri28.myhaley.com/blog</link>
	<description>Let's Blogging !!!</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 09:31:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Resensi Buku: Designing Successful e-Learning</title>
		<link>http://tsauri28.myhaley.com/blog/resensi-buku-designing-successful-e-learning/</link>
		<comments>http://tsauri28.myhaley.com/blog/resensi-buku-designing-successful-e-learning/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jul 2011 01:24:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tsauri28</dc:creator>
				<category><![CDATA[elearning]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[development]]></category>
		<category><![CDATA[e-learning]]></category>
		<category><![CDATA[elearning 2.0]]></category>
		<category><![CDATA[rekomendasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tsauri28.myhaley.com/blog/?p=1022</guid>
		<description><![CDATA[Buku ini merupakan buku yang cukup saya rekomendasikan kepada siapapun yang akan atau sedang mengelola eLearning, baik sebagai developer sistem, desainer instruksional, programmer konten maupun tutor/dosen. Buku yang ditulis oleh salah seorang begawan Instructional Design Michael Allen (http://alleninteractions.com) memaparkan secara komprehensif dari mulai konsep dasar instruksional hingga teknik desain pembelajaran eLearning yang mudah diterapkan, khususnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 442px"><img title="Cover Buku: Designing Successful e-Learning" src="http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/284366_2217052796011_1538363183_2395887_5075201_n.jpg" alt="" width="432" height="500" /><p class="wp-caption-text">Cover Buku: Designing Successful e-Learning</p></div>
<p>Buku ini merupakan buku yang cukup saya rekomendasikan kepada siapapun yang akan atau sedang mengelola eLearning, baik sebagai developer sistem, desainer instruksional, programmer konten maupun tutor/dosen.</p>
<p>Buku yang ditulis oleh salah seorang begawan <em>Instructional Design</em> Michael Allen (<a title="Allen Interactions" href="http://alleninteractions.com" target="_blank">http://alleninteractions.com</a>) memaparkan secara komprehensif dari mulai konsep dasar instruksional hingga teknik desain pembelajaran eLearning yang mudah diterapkan, khususnya di lingkungan learning center perusahaan.</p>
<p>Di covernya Allen mengutip satu pernyataan yang cukup provokatif &#8220;<em>Forgot What You Know About Instructional Design and Do Something Interesting</em>&#8220;, bagaimana tidak Instructional Design sebagai cabang ilmu yang sudah cukup matang direkomendasikan untuk dilupakan saja! <img src='http://tsauri28.myhaley.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> )<span id="more-1022"></span></p>
<p>Konsep yang diusung Allen secara umum bahwa suatu pembelajaran eLearning tidak hanya berbicara di ranah instruksional semata, tetapi harus juga diperhatikan<em> pre-instructional</em> dan <em>post-instructional-</em>nya juga, sehingga pembelajaran yang dihadirkan melalui eLearning dapat bermakna, selalu diingat dan memotivasi pembelajar.</p>
<div id="attachment_1023" class="wp-caption aligncenter" style="width: 490px"><img class="size-full wp-image-1023" title="allen-models" src="http://tsauri28.myhaley.com/blog/wp-content/uploads/2011/07/allen-models.jpg" alt="" width="480" height="156" /><p class="wp-caption-text">Model Successful E-Learning Michael Allen</p></div>
<p>Selain itu, Allen memberikan tips dan trik yang mudah untuk diadopsi oleh para desainer eLearning dalam 3 (tiga) hal: <em>meaningful learning, memorable learning </em>dan <em>motivational learning</em>.</p>
<p>Secara umum apabila saya berikan rating 1-5, buku ini dapat rating 4.</p>
<p>Semoga bermanfaat <img src='http://tsauri28.myhaley.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: right;">Hormat Saya,</p>
<p style="text-align: right;"><img class="alignright" src="http://www.mylivesignature.com/signatures/85713/tsauri28/e820e545a65f0ad978fa2050defbf27d.png" alt="signature" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tsauri28.myhaley.com/blog/resensi-buku-designing-successful-e-learning/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menghadirkan Konteks yang Tepat dalam eLearning</title>
		<link>http://tsauri28.myhaley.com/blog/konteks-dalam-elearning/</link>
		<comments>http://tsauri28.myhaley.com/blog/konteks-dalam-elearning/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Jul 2011 04:28:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tsauri28</dc:creator>
				<category><![CDATA[elearning]]></category>
		<category><![CDATA[e-learning]]></category>
		<category><![CDATA[elearning 2.0]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tsauri28.myhaley.com/blog/?p=1019</guid>
		<description><![CDATA[Menghadirkan Konteks yang Tepat dalam eLearning Berbicara tentang mendesain pembelajaran eLearning, salah satu hal yang menjadi pembeda antara desain yang berhasil dengan desain yang gagal adalah bagaimana desainer instruksional mampu membangun konteks yang tepat. Pengertian Secara umum konteks dalam pembelajaran eLearning adalah suatu kerangka kerja dan tolok ukur dalam menghadirkan kondisi awal atau latar belakang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_416"><img title="BORING-CLASS" src="http://idelearning.com/wp-content/uploads/2011/07/BORING-CLASS.jpg" alt="" width="575" height="383" />Menghadirkan Konteks yang Tepat dalam eLearning</p>
</div>
<blockquote><p>Berbicara tentang mendesain pembelajaran eLearning, salah satu hal yang menjadi pembeda antara desain yang berhasil dengan desain yang gagal adalah bagaimana desainer instruksional mampu membangun konteks yang tepat.</p></blockquote>
<h3>Pengertian</h3>
<p>Secara umum konteks dalam pembelajaran eLearning adalah suatu kerangka kerja dan tolok ukur dalam menghadirkan kondisi awal atau latar belakang kenapa pembelajaran tersebut penting untuk diikuti. Contohnya:</p>
<ol>
<li>Calon operator mesin merasa asing dengan mesin modern yang harus dioperasikan</li>
<li>Nasabah bank yang merasa kecewa dengan pelayanan</li>
<li>Banyaknya jenis aplikasi yang harus diketahui oleh petugas administrasi.</li>
</ol>
<h3>Konteks yang tepat?</h3>
<p>Desain yang berhasil menghadirkan konteks yang tepat adalah ketika pengguna/pembelajar merasa memiliki alasan untuk mengikuti pembelajaran eLearning tersebut. Konteks yang tepat adalah ketika pengguna/pembelajar merasa terikat dan memaknai kondisi tersebut, <em>“yup.., pembelajaran eLearning ini memang sangat saya butuhkan!”</em></p>
<h3>Tips Menghadirkan Konteks yang Tepat</h3>
<ul>
<li>Tempat yang sebenarnya, apabila permasalahan tentang komplain nasabah maka cerita diawali di meja customer service, bukan di lingkungan kelas yang terdapat papan tulis, kapur tulis dan sebagainya.</li>
<li>Gunakan storyline yang kuat seperti menghadirkan konflik, situasi kritis, ketegangan, drama atau bahkan humor</li>
<li>Mulai dengan aktivitas yang relevan (masalah nyata), sebaiknya hindari mengawali pembelajaran dengan pretest yang bersifat akademik seperti pretest soal pilihan ganda.</li>
</ul>
<p>Demikian pentingnya menghadirkan konteks yang tepat dalam mendesain pembelajaran eLearning, perlu selalu kita ingat bahwa desain pembelajaran eLearning sedikit berbeda dengan mendesain pembelajaran klasikal, karena pengguna/pembelajar tidak langsung berhadapan dengan tutor/dosen tetapi berhadapan langsung dengan konten pembelajaran.<span id="more-1019"></span></p>
<p>Telah juga dipublish di <a href="http://idelearning.com/2011/07/24/menghadirkan-konteks-yang-tepat-dalam-elearning">http://idelearning.com/2011/07/24/menghadirkan-konteks-yang-tepat-dalam-elearning</a></p>
<p style="text-align: right;">Hormat Saya,</p>
<p style="text-align: right;"><img class="alignright" src="http://www.mylivesignature.com/signatures/85713/tsauri28/e820e545a65f0ad978fa2050defbf27d.png" alt="signature" /></p>
<div id="clear"></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tsauri28.myhaley.com/blog/konteks-dalam-elearning/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Mengevaluasi eLearning Berbasis PLEs</title>
		<link>http://tsauri28.myhaley.com/blog/bagaimana-mengevaluasi-elearning-berbasis-ples/</link>
		<comments>http://tsauri28.myhaley.com/blog/bagaimana-mengevaluasi-elearning-berbasis-ples/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jul 2011 04:25:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tsauri28</dc:creator>
				<category><![CDATA[elearning]]></category>
		<category><![CDATA[e-learning]]></category>
		<category><![CDATA[elearning 2.0]]></category>
		<category><![CDATA[ple]]></category>
		<category><![CDATA[ples]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tsauri28.myhaley.com/blog/?p=1006</guid>
		<description><![CDATA[Pagi ini di lini masa twitter saya dan pak Arief Bahtiar sedikit berbincang tentang bagaimana konsep eLearning dengan menggunakan pendekatan Personal Learning Environments (PLEs) dapat diterapkan di suatu lembaga pendidikan/pelatihan. (bagi yang belum mengetahui apa itu PLEs dan Konsepnya, klik http://tsauri28.myhaley.com/blog/pengertian-ples/) Pendekatan PLEs merupakan suatu perubahan mendasar dalam melihat pembelajaran melalui eLearning. Selama ini eLearning [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1007" class="wp-caption aligncenter" style="width: 410px"><img class="size-full wp-image-1007" title="Bagaimana mengevaluasi eLearning berbasis PLEs?" src="http://tsauri28.myhaley.com/blog/wp-content/uploads/2011/07/personal_social_network.jpg" alt="" width="400" height="300" /><p class="wp-caption-text">Gambar dicuil dari theinnovativeeducator.blogspot.com</p></div>
<p>Pagi ini di lini masa twitter <a title="twitter asep sufyan tsauri" href="http://twitter.com/tsauri28" target="_blank">saya</a> dan <a href="http://twitter.com/ariefbb" target="_blank">pak Arief Bahtiar</a> sedikit berbincang tentang bagaimana konsep eLearning dengan menggunakan pendekatan Personal Learning Environments (PLEs) dapat diterapkan di suatu lembaga pendidikan/pelatihan. <em><strong>(bagi yang belum mengetahui apa itu PLEs dan Konsepnya, klik <a href="http://tsauri28.myhaley.com/blog/pengertian-ples/">http://tsauri28.myhaley.com/blog/pengertian-ples/</a>)</strong></em></p>
<p>Pendekatan PLEs merupakan suatu perubahan mendasar dalam melihat pembelajaran melalui eLearning. Selama ini eLearning diidentikan dengan adanya Learning Management System yang memiliki kemampuan untuk menghadirkan kelas virtual secara lengkap, dari mulai pengadaan bahan ajar, aktivitas-aktivitas hingga asesment hasil belajar dan kesemuanya itu dikelola dalam satu &#8220;rumah besar&#8221; bernama Learning Management System. Nah, dalam pendekatan PLEs, konsep itu dibalik 180 derajat, bahwa pembelajaran eLearning harus berpusat pada pembelajar itu sendiri (bukan pada kelas virtual di LMS), sehingga imbasnya tools yang digunakan bukan hanya LMS, tetapi juga tools lain yang sudah familiar digunakan oleh pembelajar (seperti social network, blog, dll)<span id="more-1006"></span></p>
<p>IMHO, konsep PLEs ini memang masih &#8220;terlalu muda&#8221; untuk dianggap dapat sepenuhnya menggantikan paradima eLearning yang selama ini identik dengan LMS. Setidaknya terdapat beberapa tantangan dan pertanyaan yang harus dijawab seiring pengembangannya, yaitu:</p>
<ol>
<li>Mungkinkah PLEs ini diterapkan di lembaga pendidikan yang pada prakteknya akan sangat sulit melakukan labelisasi, legalisasi, atau validasi? (pernyataan pak Arief <img src='http://tsauri28.myhaley.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> )</li>
<li> Sulitnya melakukan asesmen (evaluasi pembelajaran) bagi peserta, karena data/jejak belajar siswa akan tersebar di begitu banyak tempat</li>
<li>Mungkinkah adanya standarisasi konten PLEs ini, karena apabila ditinjau dari konsep dasarnya justru spirit PLEs adalah &#8220;tidak distandarisasi&#8221;?</li>
<li>(Pertanyaan lain silahkan ditambahkan)</li>
</ol>
<p><span style="font-size: small;"><span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;">Nah, untuk sementara ini Saya sendiri belum menemukan jawaban yang benar-benar sahih atas pertanyaan dan tantangan di atas, hanya untuk jawaban sementara ada beberapa asumsi yang dapat saya sampaikan:</span></span></p>
<ol>
<li>Untuk melakukan asesmen hasil belajar, kita memerlukan suatu validasi dan sistem untuk melakukan penilaian belajar dan pengetahuan. hal ini sebetulnya memang sedang banyak didiskusikan oleh para peneliti eLearning di Amerika dan Eropa, silahkan kunjungi kursus &#8220;Learning and Knowledge Analytics&#8221; -&gt; <a href="http://scope.bccampus.ca/course/view.php?id=365">http://scope.bccampus.ca/course/view.php?id=365</a></li>
<li>Perubahan paradigma ke PLEs tidak sekedar perubahan paradigma tools, akan tetapi ada perubahan yang lebih besar lagi yaitu perubahan kebiasaan (habit) orang untuk belajar dan berkolaborasi. sebagai contoh, PLEs ini akan berhasil jika kesadaran akan belajar dan keinginan untuk berkolaborasi antar pembelajar/tutor harus tinggi, seperti yang ditunjukkan pada kursus di atas (poin 1) -&gt; <a href="http://scope.bccampus.ca/course/view.php?id=365">http://scope.bccampus.ca/course/view.php?id=365</a></li>
<li>Perubahan kebiasaan itu tentu harus dimulai dari tutor/dosen/guru karena perannya akan sangat berbeda antara peran dosen dengan menggunakan Learning Management System dibandingkan dengan menggunakan tools web 2.0</li>
</ol>
<p><span style="font-size: small;"><span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;">Sekian dulu curhatnya, semoga seiring waktu pertanyaan yang belum terjawab itu dapat ditemukan <img src='http://tsauri28.myhaley.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /><br />
</span></span></p>
<p style="text-align: right;">Hormat Saya,</p>
<p style="text-align: right;"><img class="alignright" src="http://www.mylivesignature.com/signatures/85713/tsauri28/e820e545a65f0ad978fa2050defbf27d.png" alt="signature" /></p>
<div id="clear"></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tsauri28.myhaley.com/blog/bagaimana-mengevaluasi-elearning-berbasis-ples/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Content is King, Conversation is Queen!</title>
		<link>http://tsauri28.myhaley.com/blog/content-is-king-conversation-is-queen/</link>
		<comments>http://tsauri28.myhaley.com/blog/content-is-king-conversation-is-queen/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Jul 2011 06:42:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tsauri28</dc:creator>
				<category><![CDATA[elearning]]></category>
		<category><![CDATA[e-learning]]></category>
		<category><![CDATA[elearning 2.0]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi dasar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tsauri28.myhaley.com/blog/?p=982</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Anggapan bahwa kesuksesan suatu E-learning ditentukan oleh konten yang banyak memang ada benarnya, namun tidak sepenuhnya benar! Sesungguhnya percakapan (conversation) adalah aspek lain yang perlu diperhatikan dalam mendesain pembelajaran melalui E-learning ini. — ‘Content is king, conversation is queen!’ Perkembangan teknologi web kian hari kian mengejutkan sehingga banyak konsep-konsep lama harus diganti atau setidaknya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: center;"><img src="http://idelearning.com/wp-content/uploads/2011/07/contentiskingconvisqueen_thumb.jpg" alt="contentiskingconvisqueen" width="510" height="283" border="0" /></div>
<p>&nbsp;</p>
<blockquote><p>Anggapan bahwa kesuksesan suatu E-learning ditentukan oleh konten yang banyak memang ada benarnya, namun tidak sepenuhnya benar! Sesungguhnya percakapan (<em>conversation</em>) adalah aspek lain yang perlu diperhatikan dalam mendesain pembelajaran melalui E-learning ini. — ‘Content is king, conversation is queen!’</p></blockquote>
<p>Perkembangan teknologi web kian hari kian mengejutkan sehingga banyak konsep-konsep lama harus diganti atau setidaknya diperbaharui. Menurut saya, bidang yang cukup responsif melakukan perubahan adalah bidang E-commerce. Lahirnya teknologi web 2.0 banyak mengubah paradima dan konsep E-commerce saat ini. Akhir-akhir ini lahir istilah yang cukup populer yaitu<em> ‘content is king, conversation is queen’</em>. Ungkapan ini merupakan ungkapan yang mengisyaratkan bahwa dalam melakukan penjualan melalui media internet (e-commerce) selain konten barang/jasa yang harus berkualitas, untuk menjamin hingga calon pembeli melakukan penetrasi pembelian, percakapan <em>(conversation)</em> adalah jurus nan ampuh untuk mewujudkannya.</p>
<p>Dalam pemikiran saya, E-learning pun tidak ubahnya seperti E-commerce, hanya berbeda konteks saja. Dengan demikian ungkapan <em>‘content is king, conversation is queen’</em> untuk E-learning pun berlaku! Jika E-commerce menawarkan barang/jasa, maka semestinya E-learning pun menawarkan ‘barang/jasa’ berupa pengalaman belajar (<em>learning experience</em>). Nah, sekarang kita akan bahas sedikit tentang bagaimana konten E-learning yang setegas raja dan percakapan selembut ratu.<span id="more-982"></span></p>
<h3>Konten Setegas Raja</h3>
<p>Salah satu konsep pengembangan konten E-learning yang saya sukai adalah konsep <strong><em>action based content</em></strong> milik<a href="http://www.cathy-moore.com/" target="_blank">Chaty Moore</a>. Menurut Moore, dalam membuat konten E-learning yang setegas raja haruslah berfokus pada aktivitas yang nyata sehingga pada akhirnya merupakan konten yang benar-benar bermanfaat dalam menyelesaikan suatu masalah di kehidupan nyata.</p>
<p>Langkah praktis yang ditawarkan konsep tersebut adalah :</p>
<ol>
<li>Tentukan <em>goal </em>yang akan dicapai melalui konten yang akan dibangun, goal harus bersifat aksi nyata.</li>
<li>Inventarisasi kompetensi yang harus dimiliki oleh <em>user</em> agar dapat mencapai <em>goal </em>di atas.</li>
<li>Tentukan aktivitas yang dapat mencapai kompetensi di atas.</li>
<li>Berikan informasi secukupnya agar <em>user </em>dapat melakukan aktivitas di atas.</li>
</ol>
<h3>Percakapan Selembut Ratu</h3>
<p>Suatu kursus E-learning yang sukses harus mengakomodasi kepentingan <em>user</em> yang sedang belajar. Salah satu langkahnya adalah dengan membuka kanal komunikasi dua arah yang baik dan efektif. Jika dalam E-commerce adanya <em>costumer service</em> adalah hal yang mutlak ada, maka dalam E-learning-pun begitu. Dosen/instruktur/widyaiswara/guru adalah ‘CS’ dalam kursus E-learning. Apabila dalam E-commerce <em>technical live support</em> itu wajib adanya, maka dalam E-learning-pun tidak ubahnya seperti itu. Harus ada pihak yang dapat dihubungi apabila terjadi kesalahan-kesalahan teknis yang dialami oleh <em>user</em> dalam mengeksplorasi kursus E-learning.</p>
<h3>4 Senjata Luar biasa milik Raja dan Ratu</h3>
<p>Pada akhirnya, raja dan ratu yang diwakili oleh konten dan percakapan tetap harus memiliki senjata pamungkas agar E-learning yang didesain dapat menjadikan pengguna benar-benar belajar. Berikut 4 jurus rahasia milik Michael Allen yang dibocorkan melalui bukunya berjudul “Designing Successful E-Learning” :</p>
<p><strong>Jurus 1: Kontekstual</strong></p>
<p>Raja dan ratu harus memberikan konteks yang sesuai dengan kondisi pengguna.</p>
<p><strong>Jurus 2: Tantangan</strong></p>
<p>Raja dan ratu harus menawarkan tantangan dalam setiap konten dan percakapan dalam sebuah E-learning.</p>
<p><strong>Jurus 3: Aktifitas</strong></p>
<p>Raja dan Ratu harus fokus pada memberikan aktivitas, bukan sekedar <em>transfer of information</em>.</p>
<p><strong>Jurus 4: Umpan Balik</strong></p>
<p>Raja dan Ratu harus menjadi teman sejawat sekaligus tutor yang mampu memberikan umpan balik yang positif dalam setiap aktivitas yang dilakukan oleh pengguna.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sudahkah E-learning kita memiliki raja dan ratu? <img src="http://idelearning.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif" alt=":)" /></p>
<h4></h4>
<h4>—</h4>
<p>Sebelumnya telah dipublish di IDeLearning.Com : <a href="http://idelearning.com/2011/07/04/content-is-king-conversation-is-queen">http://idelearning.com/2011/07/04/content-is-king-conversation-is-queen</a></p>
<h4><strong>Referensi:</strong></h4>
<p>Action Packed Elearning, <a href="http://www.cathy-moore.com/">http://www.cathy-moore.com</a></p>
<p>Allen, Michael. 2007. Designing Successful E-Learning. Pfeiffer.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tsauri28.myhaley.com/blog/content-is-king-conversation-is-queen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>5 Prinsip Mendesain Problem Based Course</title>
		<link>http://tsauri28.myhaley.com/blog/mendesain-problem-based-course-elearning/</link>
		<comments>http://tsauri28.myhaley.com/blog/mendesain-problem-based-course-elearning/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Jun 2011 01:47:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tsauri28</dc:creator>
				<category><![CDATA[elearning]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[desain instruksional]]></category>
		<category><![CDATA[e-learning]]></category>
		<category><![CDATA[elearning 2.0]]></category>
		<category><![CDATA[instructional design]]></category>
		<category><![CDATA[kurikulum tik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tsauri28.myhaley.com/blog/?p=975</guid>
		<description><![CDATA[Image taken from http://flickr.com/photos/kristalong Kapan dan di mana  menempatkan informasi dari bahan pembelajaran yang ada merupakan misteri yang cukup pelik untuk dipecahkan oleh seorang Desainer Instruksional/Dosen/SME. Terkadang kesalahan penempatan informasi akan menghilangkan ‘makna’ bagi pembelajar. Terdapat 5 prinsip yang digagas oleh David Merrill, yang sering disebut dengan istilah “5 Star Instruction“. Dalam catatan saya terdahulu: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<dl>
<dt><img src="http://idelearning.com/wp-content/uploads/2011/06/flickr.com-photos-kristalong-5049474198_thumb.jpg" alt="Image taken from http://flickr.com/photos/kristalong" width="470" height="353" border="0" /></dt>
<dd>Image taken from http://flickr.com/photos/kristalong</dd>
</dl>
</div>
<blockquote><p>Kapan dan di mana  menempatkan informasi dari bahan pembelajaran yang ada merupakan misteri yang cukup pelik untuk dipecahkan oleh seorang Desainer Instruksional/Dosen/SME. Terkadang kesalahan penempatan informasi akan menghilangkan ‘makna’ bagi pembelajar. Terdapat 5 prinsip yang digagas oleh David Merrill, yang sering disebut dengan istilah “<strong><em>5 Star Instruction</em></strong>“.</p></blockquote>
<p>Dalam catatan saya terdahulu:<strong> <a href="http://idelearning.com/2011/05/30/learning-design-dalam-elearning/" target="_blank">Learning Desain dalam E-Learning</a></strong> telah dibahas tentang pentingnya desain dalam menyampaikan suatu pembelajaran dalam e-learning. Nah, untuk bagaimana mengaplikasikannya saya menemukan model yang menarik yang digagas oleh David Merrill yang disebut “<em><strong>5 Star Instruction</strong></em>“, yaitu lima prinsip yang digunakan dalam menempatkan dan meng-alur-kan informasi dalam pembelajaran, sehingga pengguna/pembelajar tidak kehilangan makna dalam mengakses <em>course</em>. Lima prinsip itu adalah 1) Masalah (<em>Problem</em>) 2) Aktivasi (<em>Activation</em>); 3) Demonstrasi (<em>Demonstration</em>); 4) Aplikasi (<em>Application</em>); 5) Integrasi (<em>Integration</em>).<span id="more-975"></span></p>
<div>
<dl>
<dt><img src="http://idelearning.com/wp-content/uploads/2011/06/5-star-instruction-merrill-2002.jpg" alt="5 star instruction (merrill 2002)" width="371" height="278" border="0" /></dt>
<dd>5 Star Instruction (Merrill)</dd>
</dl>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Prinsip Masalah <em>(Problem)</em></h3>
<p>Pembelajaran harus dimulai dengan adanya masalah (<em>problem</em>), hal ini sejalan dengan prinsip <em>“problem based learning”, </em>sehingga apa yang akan disampaikan dalam pembelajaran adalah memang dibutuhkan untuk menyelesaikan permasalahan di dunia nyata. Prinsip ini merupakan pusat/titik utama dalam prinsip “<em>5 star instruction”. </em>Dalam aplikasinya di <em>course</em>, prinsip ini dapat diterapkan melalui konten yang menggambarkan permasalahan di dunia nyata (dapat berupa video, cerita, dsb).</p>
<h3>Prinsip Aktivasi <em>(Activation)</em></h3>
<p>Prinsip ini menuntun pembelajar untuk mengingat kembali pengetahuan yang relevan dengan masalah yang telah didefinisikan. Dalam aplikasinya di <em>course,</em> prinsip ini dapat diterapkan melalui <em>pre-test</em>.</p>
<h3>Prinsip Demonstrasi<em> (Demonstration)</em></h3>
<p>Prinsip ini memberikan pengetahuan kepada pembelajar bagaimana suatu metode/cara yang ada dapat menyelesaikan masalah yang timbul, prinsip ini menuntut untuk membuat konten yang bersifat <strong><em>How-to</em></strong>. Dalam aplikasinya di <em>course</em>, prinsip ini dapat diterapkan melalui video, wiki, dsb.</p>
<h3>Prinsip Aplikasi <em>(Application)</em></h3>
<p>Prinsip ini memberikan akses agar pengguna/pembelajar dapat mensimulasikan apa yang telah dia ketahui melalui bahan ajar sebelumnya ke dalam masalah yang dia miliki. Dalam aplikasinya di <em>course</em> dapat melalui <em>post-test</em> atau<em>test </em>lain yang lebih <em>advance</em> seperti melalui <em>test</em> bersifat multimedia.</p>
<h3>Prinsip Integrasi <em>(Integration)</em></h3>
<p>Prinsip ini menuntut agar pembelajar dapat mengintegrasikan pengetahuannya di dunia nyatanya. Apabila dalam prinsip aplikasi masalah itu diberikan oleh tutor/dosen/SME, dalam prinsip ini masalah adalah muncul dari kehidupan/pekerjaan pembelajar itu sendiri. Aplikasinya dalam <em>course</em> dapat melalui forum, blog, dan sebagainya.</p>
<p>—</p>
<p>Pada akhirnya, semestinya pembelajaran melalui e-learning merupakan suatu siklus yang tidak pernah berhenti,<em>course</em> yang didesain dengan menggunakan prinsip di atas akan terus berkembang dan semakin kaya dengan pengetahuan dan keterampilan.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Telah diposting juga di <a href="http://idelearning.com/2011/06/18/5-prinsip-mendesain-problem-based-course">http://idelearning.com/2011/06/18/5-prinsip-mendesain-problem-based-course</a></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tsauri28.myhaley.com/blog/mendesain-problem-based-course-elearning/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Teori Social Media dari Social Media</title>
		<link>http://tsauri28.myhaley.com/blog/teori-social-media-dari-social-media/</link>
		<comments>http://tsauri28.myhaley.com/blog/teori-social-media-dari-social-media/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 02:33:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tsauri28</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[elearning 2.0]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[social media]]></category>
		<category><![CDATA[toolbox development]]></category>
		<category><![CDATA[tren]]></category>
		<category><![CDATA[web 2.0]]></category>
		<category><![CDATA[Web Services]]></category>
		<category><![CDATA[Webservice]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tsauri28.myhaley.com/blog/?p=852</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin semua pengguna internet saat ini sudah terbiasa menggunakan social media untuk berbagai keperluan seperti facebook, youtube dan sebagainya. &#8216;Konon&#8217; katanya, dengan berbagai media yang ada sekarang kita bisa menggunakannya untuk bisnis, pendidikan bahkan untuk kepentingan kampanye politik. Tetapi, apakah kita telah mengetahui konsep tentang social media tersebut secara mendalam? nah, berikut ini beberapa pembahasan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mungkin semua pengguna internet saat ini sudah terbiasa menggunakan social media untuk berbagai keperluan seperti facebook, youtube dan sebagainya. &#8216;Konon&#8217; katanya, dengan berbagai media yang ada sekarang kita bisa menggunakannya untuk bisnis, pendidikan bahkan untuk kepentingan kampanye politik. Tetapi, apakah kita telah mengetahui konsep tentang social media tersebut secara mendalam? nah, berikut ini beberapa pembahasan teori dari beberapa social media yang populer yang saya temukan, mudah-mudahan berguna <img src='http://tsauri28.myhaley.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  .<span id="more-852"></span></p>
<ol>
<li><strong>Slideshare</strong>
<p>Berikut ini presentasi menarik tentang social media dari slideshare.<br />
<img style="visibility: hidden; width: 0px; height: 0px;" src="http://counters.gigya.com/wildfire/IMP/CXNID=2000002.0NXC/bT*xJmx*PTEyNTg3Njk*Njk1NzgmcHQ9MTI1ODc2OTUyNjkwNiZwPTEwMTkxJmQ9c3NfZW1iZWQmZz*yJm89NTZjMmMzNWM*YjRkNGExMjk2Njg4NDlmOGE4MmMwN2Imb2Y9MA==.gif" border="0" alt="" width="0" height="0" /></p>
<div id="__ss_2464172" style="width: 425px; text-align: left;"><object style="margin:0px" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="355" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="src" value="http://static.slidesharecdn.com/swf/ssplayer2.swf?doc=introtosocialmedia-091110025709-phpapp01&amp;stripped_title=a-quick-introduction-to-social-media-tools-and-how-they-can-help-you" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed style="margin:0px" type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="355" src="http://static.slidesharecdn.com/swf/ssplayer2.swf?doc=introtosocialmedia-091110025709-phpapp01&amp;stripped_title=a-quick-introduction-to-social-media-tools-and-how-they-can-help-you" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<div style="font-size: 11px; font-family: tahoma,arial; height: 26px; padding-top: 2px;">View more <a style="text-decoration:underline;" href="http://www.slideshare.net/">presentations</a> from <a style="text-decoration:underline;" href="http://www.slideshare.net/yaycaffeine">Mindy Zhang</a>.</div>
</div>
<p>Biasanya presentasi yang baik dapat menerangkan dengan cukup komprehensif dan dengan visualisasi yang menarik pula, tidak kalah dengan video.</p>
<div id="__ss_2546982" style="width: 425px; text-align: left;"><object style="margin:0px" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="355" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="src" value="http://static.slidesharecdn.com/swf/ssplayer2.swf?doc=socialnetworkssocialmedia-091120105740-phpapp02&amp;stripped_title=social-networks-social-media" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed style="margin:0px" type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="355" src="http://static.slidesharecdn.com/swf/ssplayer2.swf?doc=socialnetworkssocialmedia-091120105740-phpapp02&amp;stripped_title=social-networks-social-media" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<div style="font-size: 11px; font-family: tahoma,arial; height: 26px; padding-top: 2px;">View more <a style="text-decoration:underline;" href="http://www.slideshare.net/">presentations</a> from <a style="text-decoration:underline;" href="http://www.slideshare.net/caffination">caffination</a>.</div>
</div>
</li>
<li><strong>Youtube</strong>
<p>Video dari youtube.com<br />
<object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="344" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/MpIOClX1jPE&amp;color1=0xb1b1b1&amp;color2=0xcfcfcf&amp;hl=en_US&amp;feature=player_embedded&amp;fs=1" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="344" src="http://www.youtube.com/v/MpIOClX1jPE&amp;color1=0xb1b1b1&amp;color2=0xcfcfcf&amp;hl=en_US&amp;feature=player_embedded&amp;fs=1" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object><br />
Video diatas merupakan produk Commoncraft, secara pribadi saya sangat suka dengan cara penyampaiannya. <img src='http://tsauri28.myhaley.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </li>
<li><strong>Twitter</strong>
<p>Follow beberapa user seperti <a href="http://twitter.com/buzzedition">@BuzzEdition</a>, <a href="http://twitter.com/briansolis">@BrianSolis</a> dan <a href="http://twitter.com/mashable">@mashable </a><br />
Selain itu bisa juga follow hastag seperti <a href="http://twitter.com/#search?q=%23socialmedia">#socialmedia</a>, <a href="http://twitter.com/#search?q=%23buzzword">#buzzword</a> dan <a href="http://twitter.com/#search?q=%23socialnetworking">#socialnetworking</a></li>
<li><strong>Facebook</strong>
<p>Group atau Page</p>
<p>1. <a href="http://www.facebook.com/mashable">Mashable</a> </p>
<p>2. <a href="http://www.facebook.com/dellsocialmedia">Dell – Social Media</a></p>
<p>3. <a href="http://www.facebook.com/SocialMediaClub">Social Media Club</a></p>
</li>
</ol>
<p>Sekian, mudah-mudahan bermanfaat!</p>
<p style="text-align: right;">Hormat Saya,</p>
<p style="text-align: right;"><img class="alignright" src="http://www.mylivesignature.com/signatures/85713/tsauri28/e820e545a65f0ad978fa2050defbf27d.png" alt="signature" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tsauri28.myhaley.com/blog/teori-social-media-dari-social-media/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>E-Portofolio dengan Google App</title>
		<link>http://tsauri28.myhaley.com/blog/e-portofolio-dengan-google-app/</link>
		<comments>http://tsauri28.myhaley.com/blog/e-portofolio-dengan-google-app/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Nov 2009 02:22:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tsauri28</dc:creator>
				<category><![CDATA[elearning]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[e-learning]]></category>
		<category><![CDATA[elearning 2.0]]></category>
		<category><![CDATA[eportofolio]]></category>
		<category><![CDATA[kurikulum tik]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan ilmu komputer]]></category>
		<category><![CDATA[toolbox development]]></category>
		<category><![CDATA[web 2.0]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tsauri28.myhaley.com/blog/?p=842</guid>
		<description><![CDATA[- Sekali lagi mari kita bahas tentang e-Portofolio - Seperti yang kita ketahui, google memberikan banyak sekali aplikasi gratis untuk user-nya, dimulai dari search engine, email sampai dengan igoogle merupakan produk-produk google yang revolusioner dan yang paling penting itu semua bisa didapatkan dengan gratis, menarik bukan? Nah, sekarang saya mencoba memberikan contoh bagaimana aplikasi-aplikasi google [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>- Sekali lagi mari kita bahas tentang <a href="http://tsauri28.myhaley.com/blog/penilaian-portofolio-online/" target="_blank"><strong>e-Portofolio</strong></a> <img src='http://tsauri28.myhaley.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  -</p>
<p>Seperti yang kita ketahui, google memberikan banyak sekali aplikasi gratis untuk user-nya, dimulai dari search engine, email sampai dengan igoogle merupakan produk-produk google yang revolusioner dan yang paling penting itu semua bisa didapatkan dengan gratis, menarik bukan?</p>
<p>Nah, sekarang saya mencoba memberikan contoh bagaimana aplikasi-aplikasi google tersebut dapat dijadikan sebuah instrumen yang luar biasa untuk membangun sebuah sistem <a href="http://tsauri28.myhaley.com/blog/tag/elearning" target="_blank">elearning</a> dengan satu pendekatan bernama <a href="http://tsauri28.myhaley.com/blog/penilaian-portofolio-online/"><strong>e-portofolio</strong></a>.<span id="more-842"></span></p>
<p><a href="../wp-content/uploads/2009/11/eportofolio+google.jpg" rel="shadowbox[post-842];player=img;"><img title="eportofolio+google" src="../wp-content/uploads/2009/11/eportofolio+google.jpg" alt="eportofolio+google" width="608" height="577" /></a></p>
<p style="text-align: right;">Hormat Saya,</p>
<p style="text-align: right;"><img class="alignright" src="http://www.mylivesignature.com/signatures/85713/tsauri28/e820e545a65f0ad978fa2050defbf27d.png" alt="signature" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tsauri28.myhaley.com/blog/e-portofolio-dengan-google-app/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memperkenalkan Diigo Social Bookmarking</title>
		<link>http://tsauri28.myhaley.com/blog/memperkenalkan-diigo-social-bookmarking/</link>
		<comments>http://tsauri28.myhaley.com/blog/memperkenalkan-diigo-social-bookmarking/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Jul 2009 01:25:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tsauri28</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[connectivism]]></category>
		<category><![CDATA[e-learning]]></category>
		<category><![CDATA[elearning]]></category>
		<category><![CDATA[elearning 2.0]]></category>
		<category><![CDATA[kurikulum tik]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan ilmu komputer]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Teknologi Dasar]]></category>
		<category><![CDATA[personal learning environments]]></category>
		<category><![CDATA[ple]]></category>
		<category><![CDATA[ples]]></category>
		<category><![CDATA[rekomendasi]]></category>
		<category><![CDATA[toolbox development]]></category>
		<category><![CDATA[tren]]></category>
		<category><![CDATA[Web Services]]></category>
		<category><![CDATA[Webservice]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tsauri28.myhaley.com/blog/?p=767</guid>
		<description><![CDATA[Satu lagi social networking yang saya ikuti, diigo namanya. Sifat dari social networking ini sedikit berbeda dengan yang lainnya, sehingga lebih tepat disebut social bookmarking. Mengapa? karena diigo ini memiliki fokus pada bagaimana membantu user untuk mengorganisir, me-share dan mendiskusikan koleksi website-webiste personal (bookmark). Sebetulnya social bookmarking bukan hal yang baru di dunia web 2.0, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Satu lagi <em>social networking</em> yang saya ikuti, <a href="http://diigo.com" target="_blank"><strong>diigo</strong></a> namanya. Sifat dari <em>social networking</em> ini sedikit berbeda dengan yang lainnya, sehingga lebih tepat disebut <strong><em>social bookmarking</em></strong>. Mengapa? karena diigo ini memiliki fokus pada bagaimana membantu user untuk mengorganisir, me-<em>share</em> dan mendiskusikan koleksi website-webiste personal (bookmark).</p>
<p>Sebetulnya social bookmarking bukan hal yang baru di dunia web 2.0, sebelumnya telah lahir social bookmarking semacam digg, google bookmark, dan sebagainya. Namun, diigo meskipun masih versi beta telah memiliki beberapa hal menarik yang belum dimiliki yang lainnya, cukup revolusioner menurut saya!. Seperti <span id="more-767"></span>fitur Sticky Notes, Read Later, Highlight dan sebagainya. Diigo ini sangat cocok untuk dijadikan tools untuk kita yang terbiasa browsing-browsing namun kesulitas untuk mengorganisirnya, dan terkadang kita lupa alamat web padahal itu sangat penting.</p>
<p>Berikut ini beberapa fitur yang cukup menarik dari diigo :</p>
<p><strong>Diigo Toolbar</strong><br />
Diigo memberikan fitur yang akan sangat membantu kita dalam melakukan hobby kita berselancar, yaitu toolbar yang dapat di-embed ke browser milik kita. Browser yang mendukung diantaranya firefox, IE dan flox.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="diigo toolbar" src="http://upload.kapanlagi.com/show.php?photo=20090713074408_diigotoolbar_4a5a83588c770.jpg" alt="" width="500" height="117" /></p>
<p>Dengan adanya toolbar, kita tidak selalu harus untuk membuka website diigo untuk menggunakan fitur-fitur yang ditawarkan diigo. Tidak egois kan? <img src='http://tsauri28.myhaley.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>Sticky Notes</strong><br />
Fitur ini memungkinkan kita berdiskusi di suatu halaman web tertentu dengan pengguna diigo lainnya. Sticky Notes ini dapat disetting hanya untuk catatan pribadi (private), group ataupun public.</p>
<p><img class="alignnone" title="diigo sticky notes example" src="http://upload.kapanlagi.com/show.php?photo=20090713074408_sticky_4a5a835882ac6.jpg" alt="" width="485" height="181" /></p>
<p>Terdapat nilai plus dan minus dari fitur ini memang, jika tidak digunakan dengan baik fitur ini banyak dianggap sebagai fasilitas spamming, oleh karena itu sebaiknya fitur ini digunakan seperlunya saja.</p>
<p><strong>Diigo Group</strong><br />
<img class="alignright" title="signup diigo group" src="http://upload.kapanlagi.com/show.php?photo=20090713074408_diigogroup_4a5a83589152b.jpg" alt="" width="167" height="127" /></p>
<p>Diigo sebagai <em>social networking</em>, fitur group ini memang merupakan fitur wajib. Dengan fitur ini kita bisa berkolaborasi tentang berbagai bookmark dengan user lain, sehingga pengetahuan kita bisa semakin luas dan kaya.</p>
<p>Sebaiknya mengikuti group yang memang diikuti oleh user-user yang sudah dipercayai anda, agar fungsi dari group ini bisa banyak membantu.</p>
<p><strong>Tips Menggunakan Diigo</strong><br />
Agar penggunaan diigo ini memberikan manfaat yang maksimal bagi pengetahuan anda, berikut ada beberapa tips yang bisa dilakukan.</p>
<ul>
<li>Bookmark yang memang benar-benar website penting</li>
<li>Buat perencanaan belajar pribadi yang sederhana saja, seperti topik apa yang akan dipelajari, sehingga kita fokus pada saat browsing dan memasukkannya ke diigo</li>
<li>berikan tag yang jelas, agar kita mudah mencarinya dikemudian hari</li>
<li>Manfaatkan sticky notes sebijak mungkin, jika tidak ingin disebut sebagai spammer <img src='http://tsauri28.myhaley.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </li>
<li>Ikuti group yang berkualitas</li>
<li>Manfaatkan fitur highlight seoptimal mungkin</li>
<li>Jangan lupa mengdownload toolbarnya, karena akan sangat membantu.</li>
</ul>
<p><strong>Kesimpulan</strong><br />
Diigo merupakan situs social bookmarking yang memberikan banyak fitur yang menarik, cocok untuk kegiatan pembelajaran online pribadi kita, karena kita dapat mengorganisir <em>resource</em> yang bertebaran di dunia maya ini <img src='http://tsauri28.myhaley.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  .<br />
Selamat mencoba! dan jangan lupa kunjungi profil saya di <a href="http://www.diigo.com/profile/tsauri28">http://www.diigo.com/profile/tsauri28</a></p>
<p style="text-align: right;">Hormat Saya,<img class="alignright" src="http://www.mylivesignature.com/signatures/85713/tsauri28/e820e545a65f0ad978fa2050defbf27d.png" alt="signature" /></p>
<div id="clear"</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tsauri28.myhaley.com/blog/memperkenalkan-diigo-social-bookmarking/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masa Depan E-Learning</title>
		<link>http://tsauri28.myhaley.com/blog/masa-depan-e-learning/</link>
		<comments>http://tsauri28.myhaley.com/blog/masa-depan-e-learning/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Jun 2009 18:16:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tsauri28</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[e-learning]]></category>
		<category><![CDATA[elearning]]></category>
		<category><![CDATA[elearning 2.0]]></category>
		<category><![CDATA[ilkom upi]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan ilmu komputer]]></category>
		<category><![CDATA[tik]]></category>
		<category><![CDATA[tren]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tsauri28.myhaley.com/blog/?p=752</guid>
		<description><![CDATA[E-Learning diprediksikan oleh banyak pakar akan menjadi sebuah metode yang akan digunakan oleh banyak lingkungan kerja untuk melakukan up-grading internal organisasi tersebut. Ada sebuah penelitian yang cukup menarik yang dilakukan oleh Kyong-Jee Kim dan Curtis J. Bonk dari Indiana University tahun 2004 yang melakukan survey untuk melihat masa depan E-Learning. Penelitian tersebut mencoba melihat kecenderungan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>E-Learning diprediksikan oleh banyak pakar akan menjadi sebuah metode yang akan digunakan oleh banyak lingkungan kerja untuk melakukan <em>up-grading</em> internal organisasi tersebut. Ada sebuah penelitian yang cukup menarik yang dilakukan oleh <span class="byline">Kyong-Jee Kim dan Curtis J. Bonk dari </span><span class="byline">Indiana University tahun 2004 yang melakukan survey untuk melihat masa depan E-Learning. Penelitian tersebut mencoba melihat kecenderungan pengembangan E-Learning yang akan dilakukan oleh 239 orang peneliti dan praktisi. Ada beberapa hal menarik dari hasil penelitan tersebut, seperti konsentrasi apa yang akan dikembangkan dimasa datang dan teknologi apa yang akan dipakai dimasa yang akan datang.<span id="more-752"></span></span></p>
<p><strong><span class="byline">Konsentrasi Pengembangan Yang Akan Datang</span></strong></p>
<p style="text-align: center;"><span class="byline"><img class="aligncenter" title="Fokus Pengembangan" src="http://elearnmag.org/content/subpages/images/kim_bonk_zeng/Figure2_350w_206h.jpg" alt="" width="350" height="206" /></span></p>
<p><span class="byline">Lebih dari 30% responden meramalkan bahwa di masa mendatang akan konsenterasi pada pengembangan konten dari sistem E-Learning. Di masa mendatang diperkirakan tool dan sistem bukan lagi konsentrasi utama dalam pengembangan E-Learning.<br />
</span></p>
<p><strong><span class="byline">Teknologi yang Diprediksikan Berkembang</span></strong></p>
<p style="text-align: center;"><span class="byline"><img class="aligncenter" title="Teknologi" src="http://elearnmag.org/content/subpages/images/kim_bonk_zeng/Figure4_350w_196h.jpg" alt="" width="350" height="196" /></span></p>
<p><span class="byline">Di masa mendatang, E-Learning diprediksi akan menjadi alat Knowledge Management dan bentuk dari model pelaksanaannya berupa pembelajaran studi kasus.</span></p>
<p><span class="byline">Untuk melihat hasil penelitian lebih lengkapnya silahkan lihat di:</span></p>
<p><span class="byline"><a href="http://elearnmag.org/subpage.cfm?section=research&amp;article=5-1" target="_blank">http://elearnmag.org/subpage.cfm?section=research&amp;article=5-1</a><br />
</span></p>
<p style="text-align: right;">Hormat Saya,<img class="alignright" src="http://www.mylivesignature.com/signatures/85713/tsauri28/e820e545a65f0ad978fa2050defbf27d.png" alt="signature" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tsauri28.myhaley.com/blog/masa-depan-e-learning/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Konektivisme: Jangan Mau Belajar TIK</title>
		<link>http://tsauri28.myhaley.com/blog/konektivisme-jangan-mau-belajar-tik/</link>
		<comments>http://tsauri28.myhaley.com/blog/konektivisme-jangan-mau-belajar-tik/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Jun 2009 11:56:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tsauri28</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[e-learning]]></category>
		<category><![CDATA[elearning]]></category>
		<category><![CDATA[elearning 2.0]]></category>
		<category><![CDATA[ilkom upi]]></category>
		<category><![CDATA[kurikulum tik]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan ilmu komputer]]></category>
		<category><![CDATA[silabus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tsauri28.myhaley.com/blog/?p=738</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Untuk para pelajar SMP dan SMA, jangan mau belajar mata pelajaran TIK jika hanya belajar membuat makalah dan presentasi dengan perangkat lunak  bajakan. Jangan mau pula jika anda diperlakukan selayaknya robot, disuruh klik kanan, lalu klik kiri.. dan selesailah dua jam pelajaran TIK anda di sekolah dalam seminggu, tanpa anda mengerti esensinya.&#8221; Itulah bentuk kerisauan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8220;Untuk para pelajar SMP dan SMA, jangan mau belajar mata pelajaran TIK jika hanya belajar membuat makalah dan presentasi dengan perangkat lunak  bajakan. Jangan mau pula jika anda diperlakukan selayaknya robot, disuruh klik kanan, lalu klik kiri.. dan selesailah dua jam pelajaran TIK anda di sekolah dalam seminggu, tanpa anda mengerti esensinya.&#8221;</em></p>
<p>Itulah bentuk kerisauan saya tentang aplikasi kurikulum mata pelajaran TIK di sekolah saat ini, bukan berarti saya tidak setuju 100% dengan hal itu, tetapi saya merasa itu bukanlah esensi sesungguhnya kurikulum TIK di Sekolah Menengah. Saya bukan tidak sepakat jika mata pelajaran TIK di sekolah salah satunya adalah mempelajari untuk menggunakan beberapa perangkat lunak, tapi ada yang lebih penting dibandingkan dengan hal itu, ada satu hal yang dilupakan dalam penyusunan kurikulum TIK, dan itu sangat penting!.<span id="more-738"></span></p>
<p>Pelajaran TIK di Sekolah Menengah <strong>bukan bertujuan</strong> untuk menciptakan <em><strong>teknokrat</strong></em> di bidang informatika seperti layaknya di Universitas, (semestinya) tujuannya adalah untuk membentuk karakter siswa untuk terbiasa menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk membantu kehidupannya, membantu menyelesaikan masalah dan membantunya belajar lebih cepat dan efisien. Sehingga akan <strong>menjadi apapun</strong> (pekerjaan) siswa itu kelak, dapat menggunakan teknologi dengan tepat dan bijaksana.</p>
<p>Satu hal yang belum dimasukkan kedalam kurikulum TIK di sekolah ini adalah tentang <strong>bagaimana menggunakan teknologi untuk belajar dan untuk kehidupan yang lebih luas</strong>. Mungkin terdengar terlalu teoritis, namun itulah yang justru harus menjadi semangat dari pengembangan kurikulum TIK untuk SMP maupun SMA, sehingga penyalahgunaan teknologi seperti film-film porno yang selama ini dilakukan oleh sebagian remaja kita akan semakin berkurang.</p>
<p>Berbicara tentang teknologi dan cara belajar, ada sebuah teori pembelajaran baru yang diungkapkan oleh ilmuan bernama <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Stephen_Downes" target="_blank">Stephen Downes</a> dan <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/George_Siemens" target="_blank">George Siemens</a>, yaitu teori <strong><a title="konektivisme: wikipedia" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Connectivism_(learning_theory)" target="_blank">connectivism</a></strong> atau konektivisme. Saya berpendapat, seharusnya pelajaran TIK dilandasi oleh teori ini, sehingga pelajaran TIK dapat menjadi motor untuk perubahan gaya belajar siswa dan gaya mengajar guru yang dapat menerima teknologi yang berubah begitu cepat.</p>
<div id="__ss_164150" style="width: 425px; text-align: center;"><object width="425" height="355" data="http://static.slidesharecdn.com/swf/ssplayer2.swf?doc=connectivism-101-1194920072248473-3&amp;stripped_title=connectivism-101" type="application/x-shockwave-flash"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="src" value="http://static.slidesharecdn.com/swf/ssplayer2.swf?doc=connectivism-101-1194920072248473-3&amp;stripped_title=connectivism-101" /><param name="allowfullscreen" value="true" /></object></p>
<div style="font-size: 11px; font-family: tahoma,arial; height: 26px; padding-top: 2px; text-align: center;"><em>View more <a style="text-decoration:underline;" href="http://www.slideshare.net/">OpenOffice presentations</a> from <a style="text-decoration:underline;" href="http://www.slideshare.net/gsiemens">gsiemens</a>.</em></div>
</div>
<p>Menurut  <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/George_Siemens" target="_blank">George Siemens</a>, konektivisme memiliki prinsip-prinsip sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Pembelajaran dan pengetahuan berada dalam keaneka-ragaman (diversity) pandangan/pendapat/opini.</li>
<li>Pembelajaran merupakan suatu proses menghubungkan sumber sumber informasi terutama node node khusus. Selain itu, pembelajaran dapat terjadi di luar diri manusia ( may reside in non-human appliances )</li>
<li>Kapasitas untuk dapat mengetahui lebih penting dari pada apa yang saat ini diketahui.</li>
<li>Mendorong dan memelihara hubungan hubungan diperlukan untuk memfasilitasi terjadinya pembelajaran berkelanjutan.</li>
<li>Kemampuan untuk melihat hubungan hubungan antara bidang bidang, ide ide, dan konsep konsep merupakan keterampilan inti.</li>
<li>Kemutakhiran (akurat, pengetahuan up-to-date) merupakan tujuan dari kegiatan pembelajaran connectivism</li>
<li>Pengambilan keputusan merupakan proses pembelajaran.</li>
<li>Memilih apa yang akan dipelajari sangat penting dalam menghadapi “banjir informasi”.</li>
<li>Makna dari informasi yang masuk harus dilihat melalui “kacamata” suatu pergeseran realitas. Suatu jawaban yang benar saat ini dapat salah besok pagi karena adanya perubahan “iklim” informasi yang mempengaruhi keputusan tersebut.</li>
</ol>
<p>Akhirnya saya berharap agar kurikulum TIK dapat terus ditinjau dengan banyak sudut pandang yang kreatif. Agar mata pelajaran <em>&#8220;teknologi&#8221;</em> ini tidak malah jadi mata pelajaran yang tidak peka perubahan.<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<br />
Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya tentang &#8220;<a title="kemanakah roh kurikulum tik" href="http://tsauri28.myhaley.com/blog/kemanakah-ruh-kurikulum-tik/" target="_blank">Kemanakah Roh Kurikulum TIK?</a>&#8220;.</p>
<p style="text-align: right;">Hormat Saya,<img class="alignright" src="http://www.mylivesignature.com/signatures/85713/tsauri28/e820e545a65f0ad978fa2050defbf27d.png" alt="signature" /></p>
<div id="clear"></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tsauri28.myhaley.com/blog/konektivisme-jangan-mau-belajar-tik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penilaian Portofolio Online</title>
		<link>http://tsauri28.myhaley.com/blog/penilaian-portofolio-online/</link>
		<comments>http://tsauri28.myhaley.com/blog/penilaian-portofolio-online/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Jun 2009 02:43:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tsauri28</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Tutorial]]></category>
		<category><![CDATA[assesment]]></category>
		<category><![CDATA[elearning]]></category>
		<category><![CDATA[elearning 2.0]]></category>
		<category><![CDATA[evaluasi pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[kurikulum tik]]></category>
		<category><![CDATA[metode penilaian]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan ilmu komputer]]></category>
		<category><![CDATA[rpp]]></category>
		<category><![CDATA[tren]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tsauri28.myhaley.com/blog/?p=724</guid>
		<description><![CDATA[Dalam proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), proses pengujian atau penilaian merupakan suatu komponen yang tidak kalah penting dibandingkan dengan proses lainnya. Penilaian atau pengujian atau sering disebut juga assessment memiliki banyak model, seperti penilaian berbasis kelas, benchmarking, dan model portofolio. Model portofolio assessment cocok digunakan untuk mata pelajaran yang bersifat menuntut output pembelajaran siswa dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), proses pengujian atau penilaian merupakan suatu komponen yang tidak kalah penting dibandingkan dengan proses lainnya. Penilaian atau pengujian atau sering disebut juga <em>assessment</em> memiliki banyak model, seperti penilaian berbasis kelas, <em>benchmarking</em>, dan model portofolio.</p>
<p>Model <em>portofolio assessment</em> cocok digunakan untuk mata pelajaran yang bersifat menuntut <em>output</em> pembelajaran siswa dari segi pengetahuan, keterampilan dan sikap. Penilaian ini berupa penilaian terhadap sekumpulan karya peserta didik yang tersusun secara sistematis dan terorganisir yang diambil selama proses pembelajaran dalam kurun waktu tertentu.<span id="more-724"></span></p>
<p><strong>Mengapa Menggunakan Penilaian Portofolio?</strong></p>
<p>Menurut Suderajat (2004) dan Sumarna (2006), alasan mengapa menggunakan penilaian portofolio karena :</p>
<ol>
<li>dapat menghargai proses pembelajaran hasil belajar siswa</li>
<li>mengdokumentasikan proses pembelajaran yang berlangsung</li>
<li>memberi perhatian pada prestasi siswa yang memang memiliki prestasi</li>
<li>bertukar informasi dengan orang tua/wali, peserta didik dan guru</li>
<li>meningkatkan efektivitas proses pengajaran</li>
<li>dapat merefleksikan kesanggupan mengambil resiko dan melakukan eksperimen</li>
<li>dapat membina dan mempercepat pertumbuhan konsep diri pada siswa</li>
<li>siswa memandang lebih objektif dan terbuka dibandingkan dengan penilaian tradisional karena siswa menilai hasil kinerja sendiri</li>
<li>membantu peserta didik dalam merumuskan tujuan</li>
</ol>
<p><strong>Dapatkah Dilakukan Secara Online?</strong></p>
<p>Mengkonversi penilaian portofolio menjadi online bukan pekerjaan yang sulit, bahkan cenderung lebih mudah dan <em>low cost</em>. Bagaimana caranya?</p>
<p>Di era web 2.0 seperti sekarang ini, aplikasi-aplikasi yang bersifat <em>&#8216;user generated content</em>&#8216; menjamur dimana-mana, bahkan yang lokal berbahasa Indonesia-pun mulai bertumbuhan, dan yang paling penting semuanya itu tidak ada yang berbayar, alias GRATIS!. Kesemua aplikasi tersebut bisa dijadikan alat yang sangat powerfull untuk dijadikan media penilaian portofolio secara online.</p>
<ol>
<li><strong>Blog</strong>. Guru bisa memanfaatkan media blog untuk melihat proses belajar siswa dengan tulisan. WordPress.com, Blogspot.com atau dagdigdug.com kesemuanya gratis, semua siswa dapat memiliki blog yang bisa dimanfaatkan sebagai media portofolio mereka.</li>
<li><strong>Video</strong>. Siswa atau kelompok siswa dapat diinstruksikan untuk membuat video-video kecil untuk memperlihatkan proses belajarnya, kemudian upload ke youtube.com, misalnya.</li>
<li><strong>Dokumen, Presentasi, dsb</strong>. Siswa mungkin akan memiliki kebanggaan yang lebih jika buah fikirannya berupa makalah, presentasi (ppt), dsb dapat dilihat oleh semua orang. Saat ini sangat mudah dan tidak berbayar, tinggal upload di Slideshare.net, Scribd.com, dsb.</li>
<li><strong>Social Networking</strong>. Saat ini Guru dan orang tua dapat dengan mudah melihat perkembangan siswa melalui media social networking seperti Facebook.com, twitter.com, dsb. Apalagi kecendrungan pemakai aplikasi ini di Indonesia didominasi oleh anak-anak ABG (sumber: Alexa.Com).</li>
</ol>
<p>Dalam pandangan saya justru dengan dilakukan online, semuanya dapat menggambarkan keadaan yang senyata-nyatanya. Bagaimana siswa berfikir tentang sesuatu, bagaimana tentang kreatifitas siswa dapat dilihat dari kebiasaannya melakukan <em>online activity</em> di dunia maya.</p>
<blockquote><p>Catatan ini merupakan salah satu topik penelitian di Program Studi <strong><a href="http://cs.upi.edu">Pendidikan Ilmu Komputer</a> FPMIPA UPI</strong> di Bandung, suatu Prodi baru untuk menjawab kebutuhan <strong><a href="http://cs.upi.edu/v2/index.php?page=guru-tik" target="_blank">guru TIK </a></strong>di lapangan.</p></blockquote>
<p style="text-align: right;">Hormat Saya,</p>
<p style="text-align: right;"><img class="alignright" src="http://www.mylivesignature.com/signatures/85713/tsauri28/e820e545a65f0ad978fa2050defbf27d.png" alt="signature" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tsauri28.myhaley.com/blog/penilaian-portofolio-online/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Future View: Ilkom UPI 2020</title>
		<link>http://tsauri28.myhaley.com/blog/future-view-ilkom-upi-2020/</link>
		<comments>http://tsauri28.myhaley.com/blog/future-view-ilkom-upi-2020/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 May 2009 00:00:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tsauri28</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[e-learning]]></category>
		<category><![CDATA[elearning]]></category>
		<category><![CDATA[elearning 2.0]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[ilkom upi]]></category>
		<category><![CDATA[kurikulum tik]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan ilmu komputer]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Teknologi Dasar]]></category>
		<category><![CDATA[rpp]]></category>
		<category><![CDATA[silabus]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi dasar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tsauri28.myhaley.com/blog/?p=691</guid>
		<description><![CDATA[Program Ilmu Komputer FPMIPA UPI merupakan salah satu program yang berumur masih sangat muda di Universitas Pendidikan Indonesia. (Katanya) Ini merupakan sebuah jawaban dari kebutuhan yang ada di lapangan pada saat ini, dimana dunia saat ini tidak bisa lepas dari Teknologi Informasi dan Komunikasi, khusus di bidang pendidikan, TIK sudah menjadi sebuah kebutuhan untuk masuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://cs.upi.edu" target="_blank"><strong>Program Ilmu Komputer FPMIPA UPI</strong></a> merupakan salah satu program yang berumur masih sangat muda di Universitas Pendidikan Indonesia. (Katanya) Ini merupakan sebuah jawaban dari kebutuhan yang ada di lapangan pada saat ini, dimana dunia saat ini tidak bisa lepas dari Teknologi Informasi dan Komunikasi, khusus di bidang pendidikan, TIK sudah menjadi sebuah kebutuhan untuk masuk kedalam kurikulum pendidikan dasar.</p>
<p>Program Ilmu Komputer UPI terbagi menjadi 2 (dua) Program Studi yaitu Prodi Ilmu Komputer dan Program Studi Pendidikan Ilmu Komputer. Ilmu Komputer bukan merupakan hal yang baru di Indonesia karena sudah begitu banyak lahir di universitas-universitas lain sehingga Prodi Ilkom di UPI ini boleh dikatakan terlambat, namun untuk Prodi Pendidikan Ilmu Komputer merupakan fenomena baru, karena Prodi ini baru lahir di Indonesia, yaitu di UPI. Pada Kesempatan ini, saya akan lebih banyak menyoroti Prodi Pendidikan Ilmu Komputer.<span id="more-691"></span></p>
<p>Terlepas dari kekurangan dan kelebihan yang ada di atas, Program Ilmu Komputer memiliki peluang yang sangat besar dalam berpartisipasi membangun Republik ini. Garis besar peluang yang bisa diambil oleh Program Ilkom tersebut adalah Pendidikan dan Ilmu Komputer. Sehingga bukan impian yang berlebihan jika pada tahun 2020 Program Ilkom UPI ini sudah bisa menjadi <em>Leader</em> di Indonesia dalam hal pengembangan <a href="http://cs.upi.edu/v2/index.php?page=templates-and-stylesheets" target="_blank"><em><strong>inovasi dalam bidang pendidikan dan Ilmu Komputer</strong></em></a>, tentu jika diupayakan dengan serius.</p>
<p><a href="http://farm4.static.flickr.com/3228/2880986063_d3f324dfab.jpg" rel="shadowbox[post-691];player=img;"><img class="alignright" title="isola upi" src="http://farm4.static.flickr.com/3228/2880986063_d3f324dfab.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a>Sebelas tahun (2009 s.d. 2020) bukan waktu yang lama untuk membangun sebuah Program Ilkom UPI ini menjadi Leading di negeri ini, sehingga perlu ada sebuah target yang menjadi prioritas. Dalam pandangan saya, setidaknya harus ada 2 (dua) hal yang menjadi prioritas, yaitu <strong>Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM)</strong> dan<strong> Pengembangan Konten</strong>.</p>
<p><strong>Pengembangan SDM</strong><br />
Kebutuhan mendesak saat ini akan SDM TIK dalam bidang pendidikan harus segera dijawab oleh Program Ilkom UPI, yaitu dengan melahirkan 2 (dua) jenis SDM, pertama Tenaga Pendidik yang Profesional untuk bidang keilmuan TIK; kedua Ahli/Pakar/Praktisi/Entrepreneur untuk mengembangkan konten TIK di dunia pendidikan (Sistem maupun konten).</p>
<p><em><strong>Tenaga Pendidik yang Profesional</strong></em><br />
Prodi Pendidikan Ilkom UPI harus bisa menjadi <em>&#8216;produsen&#8217;</em> yang mampu menghasilkan agen-agen tenaga pendidik profesional untuk bidang keilmuan TIK yang siap dan militan untuk berjuang di tataran <em>grass root</em> (sekolah) alias <a href="http://cs.upi.edu/v2/index.php?page=guru-tik" target="_blank"><strong>guru TIK</strong></a>.</p>
<p><em><strong>Ahli / Pakar / Praktisi Pengembang Konten TIK untuk Pendidikan</strong></em><br />
Prodi Pendidikan Ilkom harus mampu menghasilkan banyak pakar dalam bidang pendidikan dan teknologi. Setidaknya harus ada 2 (dua) jenis pakar yang mampu dihasilkan Prodi Ilmu Komputer UPI, yaitu Ahli di bidang pengembangan Sistem dan Konten.</p>
<p>Ahli di bidang sistem harus bisa menghasilkan produk-produk teknologi untuk pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan dan teori-teori kependidikan, seperti produk <em>e-education</em>, media-media pembelajaran, dan sebagainya.</p>
<p>Ahli di bidang konten harus bisa menjadi <strong>penentu kebijakan-kebijakan arah pendidikan TIK</strong> di tingkat sekolah menengah (kurikulum, bahan ajar, dsb), seperti yang di ungkapkan salah seorang sahabat di blognya yang mengungkapkan bahwa Prodi Ilkom harus bisa menghasilkan pakar di tingkat Depdiknas untuk mengembangkan Kurikulum TIK.</p>
<p><strong>Pengembangan Konten</strong><br />
Konten TIK dalam Pendidikan yang ada saat ini dirasakan belum memiliki roh, hampa dan kosong. Konten TIK dalam Pendidikan saat ini baru sampai menjadi <strong>KOMODITAS BISNIS</strong> dari pengembang konten yang tidak begitu faham tentang dunia kependidikan, imbasnya banyak anggaran yang habis tanpa hasil yang memuaskan. Prodi Ilkom UPI sangat pantas jika nanti menjadi <strong>rujukan utama dalam mengembangkan konten TIK</strong> untuk pendidikan di negeri ini.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://farm2.static.flickr.com/1307/1332482603_7756469d77.jpg" rel="shadowbox[post-691];player=img;"><img class="aligncenter" title="fpmipa upi" src="http://farm2.static.flickr.com/1307/1332482603_7756469d77.jpg" alt="" width="350" height="263" /></a></p>
<p>Strategi yang bisa diambil untuk tujuan diatas adalah dengan melakukan kolaborasi yang masif antara civitas Prodi Pendidikan Ilkom UPI ini (dosen, mahasiswa dan alumni). Tidak ada salahnya, jika setiap tugas Mata Kuliah berupa pengembangan produk yang sudah dipetakan sebelumnya untuk menjadi sebuah produk yang memang menjawab permasalahan di lapangan, sehingga setiap tugas tidak ada yang sia-sia (akan berkesinambungan).</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong><br />
Program Ilkom UPI di tahun 2020 sepantasnya sudah bisa menjadi <em>leader</em> dalam berbicara soal aplikasi TIK di dunia pendidikan, baik dari segi subjek (SDM) maupun objek (konten). Sehingga, civitas Program Pendidikan Ilmu Komputer UPI tidak hanya akan menghasilkan guru TIK, namun juga harus menghasilkan entrepreneur dan analis yang bisa mewarnai pendidikan Indonesia dengan TIK. Luar biasa&#8230;</p>
<p style="text-align: right;">Hormat Saya,<img class="alignright" src="http://www.mylivesignature.com/signatures/85713/tsauri28/e820e545a65f0ad978fa2050defbf27d.png" alt="signature" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tsauri28.myhaley.com/blog/future-view-ilkom-upi-2020/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Maknai Hardiknas dengan Go Blog!</title>
		<link>http://tsauri28.myhaley.com/blog/maknai-hardiknas-dengan-go-blog/</link>
		<comments>http://tsauri28.myhaley.com/blog/maknai-hardiknas-dengan-go-blog/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 May 2009 02:09:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tsauri28</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[e-learning]]></category>
		<category><![CDATA[elearning]]></category>
		<category><![CDATA[elearning 2.0]]></category>
		<category><![CDATA[ilkom upi]]></category>
		<category><![CDATA[kurikulum tik]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan ilmu komputer]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Teknologi Dasar]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi dasar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tsauri28.myhaley.com/blog/?p=680</guid>
		<description><![CDATA[Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun ini serasa tidak ada yang istimewa, saya pun ingat ketika melihat status seorang teman yang mengucapkan selamat di facebook. Kemudian saya mencoba mencari makna yang cocok untuk Hardiknas tahun ini, sejenak merenung.. dan keluarlah sebuah kalimat &#8220;Mari maknai Hardiknas dengan semangat berbagi ilmu!&#8221;, demikian status facebook yang saya tulis pagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun ini serasa tidak ada yang istimewa, saya pun ingat ketika melihat status seorang teman yang mengucapkan selamat di facebook. Kemudian saya mencoba mencari makna yang cocok untuk Hardiknas tahun ini, sejenak merenung.. dan keluarlah sebuah kalimat<strong><em> &#8220;Mari maknai Hardiknas dengan semangat berbagi ilmu!&#8221;</em></strong>, demikian status facebook yang saya tulis pagi 2 Mei 2009.</p>
<p>Kenapa kalimat itu yang keluar?. Mungkin karena yang terbesit di benak saya saat ini adalah tentang semangat berbagi ilmu<span id="more-680"></span> bangsa Indonesia yang masih rendah, khususnya pada penulisan konten di ruang publik (internet).</p>
<p>Hal di atas dapat kita lihat betapa masih terbatasnya sumber-sumber bacaan bermutu yang berbahasa Indonesia untuk semua disiplin ilmu. Untuk mencari topik-topik yang sedikit &#8216;<em>advance</em>&#8216;, kita sangat jarang menemukan sumber berbahasa Indonesia. Padahal media untuk berbagi ilmu saat ini sudah sangat terbuka dan sebagian besar GRATIS! (blog, wikipedia, youtube, dsb).</p>
<p><strong>Penyebabnya (mungkin)</strong></p>
<ol>
<li>Budaya menulis yang masih rendah<br />
Pendidikan di negeri kita belum bisa memberikan stimulus yang baik untuk menumbuhkan budaya menulis yang erat hubungannya dengan kemampuan psikomotorik dan afektif. Pendidikan kita masih terlalu dominan untuk menghasilkan manusia yang cerdas kognitif saja.</li>
<li>Anggapan <em>&#8220;Internet adalah sumber yang sangat kaya dan tidak terbatas&#8221;</em><br />
Iklan layanan masyarakat yang mengenalkan tentang pentingnya internet tersebut, disatu sisi memang benar, namun di sisi lain itu membentuk opini bahwa ber-internet hanya untuk &#8216;<em>mendapatkan</em>&#8216; padahal ruang publik ini juga memerlukan banyak kontribusi, harus ditumbuhkan bahwa selain &#8216;mendapatkan&#8217; namun juga perlu ditumbuhkan budaya &#8216;memberi&#8217; dan &#8216;berkontribusi&#8217;.</li>
<li>Keteladanan<br />
Para pakar di negeri ini masih sangat jarang yang mau berbagi melalui jaringan internet, apalagi sampai melakukan <em>conversation</em>. Budaya menulis mungkin harus juga diberikan stimulus dengan keteladanan seperti yang dilakukan oleh <a href="http://romisatriawahono.net/">Pak Romi</a>, terus terang saya pun menjadi termotivasi menulis di blog ini salah satunya karena beliau.</li>
</ol>
<p><strong>Peluang untuk Pendidik<br />
</strong></p>
<p>Dari kondisi yang ada, hal ini malah menjadi peluang yang sangat terbuka untuk para pendidik untuk dapat mengembangkan diri.</p>
<ol>
<li>Mengimbangi <em>lifestyle</em> siswa<br />
Ketika pendidik mau terjun untuk berkreasi di dunia maya, hal ini akan berdampak luar biasa, bukankah dunia siswa saat ini adalah dunia facebook, dunia friendster dan dunia blogging?</li>
<li>Portofolio<br />
Tulisan-tulisan di blog akan sangat ampuh jika dijadikan sebuah portofolio, karena setiap tulisan yang dipublish akan selalu ada selama tidak dihapus. <em>Search engine</em> seperti google pun akan terus mengindex semua tulisan yang ada di jaringan internet.</li>
<li>Amal yang tak putus pahalanya &#8211;<em>ilmu yang bermanfaat</em><br />
Ketika tulisan kita dibaca dan bermanfaat untuk orang lain, bukankah itu merupakan ilmu yang bermanfaat?. Oleh karena itu, marilah kita mulai memberikan banyak manfaat untuk orang lain.</li>
</ol>
<p>Kesimpulannya, mari maknai hari pendidikan ini dengan semangat berbagi ilmu di internet, mari perkaya content dengan content-content berbahasa Indonesia dan berangkat dari realita-realita lokal.</p>
<p style="text-align: right;">Hormat Saya,<img class="alignright" src="http://www.mylivesignature.com/signatures/85713/tsauri28/e820e545a65f0ad978fa2050defbf27d.png" alt="signature" /></p>
<div id="clear"></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tsauri28.myhaley.com/blog/maknai-hardiknas-dengan-go-blog/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa E-Learning 2.0 Itu?</title>
		<link>http://tsauri28.myhaley.com/blog/apa-e-learning-20-itu/</link>
		<comments>http://tsauri28.myhaley.com/blog/apa-e-learning-20-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Apr 2009 22:50:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tsauri28</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[development]]></category>
		<category><![CDATA[e-learning]]></category>
		<category><![CDATA[elearning]]></category>
		<category><![CDATA[elearning 2.0]]></category>
		<category><![CDATA[ilkom upi]]></category>
		<category><![CDATA[kurikulum tik]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan ilmu komputer]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Teknologi Dasar]]></category>
		<category><![CDATA[rekomendasi]]></category>
		<category><![CDATA[rpp]]></category>
		<category><![CDATA[silabus]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi dasar]]></category>
		<category><![CDATA[tsauri28]]></category>
		<category><![CDATA[Web Services]]></category>
		<category><![CDATA[Webservice]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tsauri28.myhaley.com/blog/?p=640</guid>
		<description><![CDATA[Sudah banyak penelitian tentang bagaimanakah caranya sebuah kegiatan pembelajaran bisa dihadirkan secara virtual atau online, sehingga kegiatan pembelajaran bisa dilakukan dimanapun dan kapanpun. (Mungkin) semua sepakat bahwa e-learning lah jawabannya. Telah 1 (satu) dekade lebih ide e-learning tersebut ramai diperbincangkan oleh banyak kalangan, dan sudah banyak pula yang telah menerapkannya. Akan tetapi, kebanyakan implementasi di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah banyak penelitian tentang bagaimanakah caranya sebuah kegiatan pembelajaran bisa dihadirkan secara <em>virtual</em> atau <em>online</em>, sehingga kegiatan pembelajaran bisa dilakukan dimanapun dan kapanpun. (Mungkin) semua sepakat bahwa <em>e-learning</em> lah jawabannya.</p>
<p>Telah 1 (satu) dekade lebih ide <em>e-learning</em> tersebut ramai diperbincangkan oleh banyak kalangan, dan sudah banyak pula yang telah menerapkannya. Akan tetapi, kebanyakan implementasi di lapangan, sistem yang dibangun ternyata sebagian besar tidak bisa berjalan dengan baik dan tahan lama, banyak <em>situs e-learning</em><span id="more-640"></span> baik di industri maupun institusi pendidikan <em><strong>&#8220;Mati sebelum Berkembang&#8221;</strong></em>. Sebuah penelitian menyebutkan, bahwa kegagalan penerapan e-learning tersebut diakibatkan oleh kakunya sistem yang diterapkan, sehingga pengguna sistem merasa kurang termotivasi untuk menggunakannya. Sistem yang dimaksud adalah sistem yang melakukan pendekatan implementasi e-learning dengan metode <em>Virtual Learning Environment</em> (VLE), yaitu dengan pengembangan ruang <em>virtual</em> yang sengaja dibuat untuk tujuan pembelajaran. Konsekuensi dari metode VLE ini adalah harus adanya sistem &#8216;besar&#8217; yang menampung semua aspek pembelajaran seperti di kelas konvensional. Guru menyimpan semua bahan pembelajaran, dan siswa harus mengikuti semua proses yang ada, dari mulai membaca materi sampai mengikuti ujian. Bagi guru yang kurang motivasi, maka &#8216;ruang&#8217; yang telah dibuat tersebut tentu akan menjadi tugas tambahan yang memberatkan, begitupun siswanya. VLE lebih mengutamakan pemenuhan kebutuhan institusional dibandingkan dengan kebutuhan personal.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="kurang motivasi" src="http://breathewithme.files.wordpress.com/2008/07/lack-motivation-3.jpg" alt="" width="259" height="320" /></p>
<p>Di sisi lain, perkembangan web 2.0 telah banyak mengubah perilaku masyarakat pengguna internet. Kecendrungannya memperlihatkan bahwa pengguna menjadi semakin narsis, <em>mobile</em> dan sensitif. Web 2.0 ini melahirkan banyak sekali pilihan aplikasi online untuk digunakan masyarakat pengguna internet, dari mulai aplikasi blogging sederhana sampai dengan aplikasi sosial (<em>social media</em>) dengan interaktifitas dan konektivitas tinggi semacam facebook dan secondlife. Setiap orang menjadi sangat narsis, mobile dan sensitif karena hal tersebut. Setiap orang menjadi sangat bebas menentukan pilihannya untuk mengikuti <em>&#8216;madzhab&#8217;</em> mana untuk mengekspresikan dirinya di internet, boleh jadi sekarang menjadi <em>facebookaholic</em>, minggu depan menjadi <em>secondlifaholic</em>!. Semuanya bebas pilih!!</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="collaborative" src="http://i.ehow.com/images/GlobalPhoto/Articles/2100625/4personalities_Full.jpg" alt="" width="360" height="238" /></p>
<p>Nah, lalu apa sebenarnya e-learning 2.o itu?. <strong>E-learning 2.0</strong> itu adalah<strong><em> sebuah pendekatan sistem e-learning yang dipengaruhi oleh perkembangan teknologi web 2.0</em></strong> (Wikipedia), artinya e-learning yang lebih mengakomodir sifat narsistik, <em>mobile-isme</em> dan sensitifitas para penggunanya.</p>
<p>E-learning 2.0 memiliki pendekatan yang berbeda, jika e-learning 1.0 bersifat VLE maka e-learning 2.0 bersifat PLEs, yaitu singkatan dari <em>Personal Learning Environments</em>. Sistem dibangun untuk memenuhi kebutuhan personal penggunanya dibandingkan dengan institusionalnya. Sehingga model ini ciri khasnya adalah :</p>
<ol>
<li>Setiap orang memiliki kewenangan penuh dalam mengatur kegiatan pembelajarannya</li>
<li>Setiap orang berhak memberikan masukan tentang bahan pembelajaran</li>
<li>Guru atau mentor memiliki tugas yang lebih ringan, yaitu hanya menjadi fasilitator dan moderator (tidak harus menyiapkan bahan pembelajaran keseluruhan)</li>
<li>Tingkat kolaborasi menjadi lebih tinggi</li>
<li>Penilaian<strong> proses belajar</strong> tiap siswa dapat dilakukan, tidak seperti e-learning 1.0 yang hanya memungkinkan melakukan evaluasi di akhir saja.</li>
</ol>
<p>Pengembangan sistem e-learning 2.0 ini sudah banyak dilakukan oleh banyak pihak (Indonesia saya belum menemukan), namun masih terdapat banyak kekurangan. Ini menjadi satu peluang bagi para peneliti dan pengembang sistem untuk berkonsentrasi pada hal ini, karena saya meyakini ini bisa menjadi masa depan e-learning (di Indonesia juga).</p>
<p style="text-align: right;">Hormat Saya,<img class="alignright" src="http://www.mylivesignature.com/signatures/85713/tsauri28/e820e545a65f0ad978fa2050defbf27d.png" alt="signature" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tsauri28.myhaley.com/blog/apa-e-learning-20-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Dynamic Page Served (once) in 0.548 seconds -->

