Sekolah Berbasis ICT: Tidak Sekedar Gengsi
Menjadi sebuah kebanggaan ketika lingkungan kita sudah mulai disentuh oleh teknologi terkini semisal komputer dan internet, selain akan mendapatkan penghargaan oleh banyak pihak juga menjadi ‘nilai jual’ tinggi, misal sekolah yang sudah memiliki area internet hotspot akan lebih banyak diminati oleh calon siswa dibandingkan sekolah yang belum sama sekali memiliki akses internet.
Saya merasa senang ketika melihat kondisi beberapa sekolah saat ini yang terus berusaha menuju pada penggunaan teknologi terkini, sekolah-sekolah berlomba untuk menyelenggarakan pendidikan berbasis Information and Communication Technology (ICT) dengan adanya tuntutan standarisasi kualitas lembaga pendidikan seperti Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) maupun Sekolah Standar Nasional (SSN), merupakan suatu upaya yang keras untuk mencoba
mensejajarkan kualitas pendidikan kita dengan kualitas pendidikan di negara-negara maju, Salut!. Infrastruktur ICT pun semakin hari semakin membuat kita tersenyum optimis, layanan penyedia jasa internet misalnya sudah semakin, itu artinya masa depan ICT sudah bisa diramalkan, tinggal bagaimana pemanfaatannya.
Pendidikan berbasis ICT adalah kondisi ideal ketika seluruh penggerak pendidikan baik siswa, guru, kepala sekolah, dan pihak lainnya tersebut memiliki kultur untuk mengoptimalkan segala macam infrastruktur ICT yang dimiliki. Menurut UNESCO, ICT di sekolah harus mencakup :
(1) ICT untuk memudahkan siswa belajar;
(2) ICT untuk pengembangan profesionalisme guru;
(3) ICT sebagai muatan kurikulum (matapelajaran).
Dari standar UNESCO tersebut jelas menyiratkan bahwa sekolah berbasis ICT tidak sekedar sekolah dengan infrastruktur ICT lengkap saja, tetapi juga memiliki landasan proses yang terstruktur dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berbasis dan berpola pikir ICT, tidak sekedar “gengsi” belaka bukan?.
Sekolah sebagai organisasi pendidikan tentu tidak bisa lepas dari perkembangan teknologi termasuk ICT, dan perlu memerhatikan 3 hal yang wajib ada dalam sebuah organisasi berbasis ICT, yaitu:
- People, artinya semua pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan harus siap dengan perubahan yang ada. Hal ini menjadi sangat penting karena jika tidak ICT akan menjadi hal yang mahal dan tidak produktif. Solusinya, harus adanya program yang terstruktur untuk menyelenggarakan pelatihan-pelatihan ICT di sekolah, tidak hanya bagi siswa, tetapi juga bagi guru, staff TU, dsb.
- Process, yaitu kehadiran ICT di sekolah harus dirancang dengan baik dan terintegrasi dengan kondisi sekolah (misi, rencana strategis dan program). Jarang ditemukan sekolah memiliki blue print tentang keberadaan ICT di sekolah, sehingga arah keberadaannya tidak menjadi jelas, dan sekali lagi akan berimbas pada sesuatu yang mahal dan tidak produktif.
- Technology, ini menjadi faktor terakhir mencakup infrastruktur dan perangkat lainnya. Faktor ini penting ada, namun bukan yang utama.
Perubahan merupakan keniscayaan yang tidak bisa dibendung oleh siapapun, sehingga sekolah sebagai suatu institusi pendidikan seyogyanya mampu mengakomodasi hal ini dengan sigap, dengan tidak sekedar konsentrasi pada pengadaan infrastruktur yang mahal, tetapi juga perlu memperhatikan 3 (tiga) faktor: People, Process dan Technology-nya.
Semoga bermanfaat.
Dipublish Juga di: http://pojokpendidikan.com/2010/11/28/sekolah-berbasis-ict-tidak-sekedar-gengsi/





setuju…