E-learning telah lahir dan berkembang dalam hampir 2 dekade ini, banyak hasil-hasil pemikiran yang mencoba menghadirkan e-learning sebagai sebuah alternatif pembelajaran dan pendidikan baik di sekolah-sekolah maupun di industri-industri besar.
Praktek E-Learning telah pula melahirkan banyak perangkat lunak bernama Learning Management System atau Course Management System seperti Moodle, Sakai, Dokeos dan masih banyak lagi yang lainnya. Namun sayang, dalam implementasinya belum memberikan hasil yang menggembirakan, hal ini disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya adalah kurang motivasi dari pengguna software (siswa dan guru) tersebut untuk menjadikannya sebuah wahana pembelajaran yang menyenangkan, —alih-alih membantu, malah membuat beban baru!.
Melihat hal tersebut maka lahirlah sebuah pemikiran-pemikiran bagaimana agar pengguna merasa tetap nyaman dengan e-learning. Salah satunya adalah lahir sebuah konsep pendekatan pengembangan e-learning bernama “Personal Learning Environments (PLEs)“.
Personal Learning Environments atau disingkat PLEs adalah sebuah pendekatan atau cara pandang e-learning dilihat dari sudut pandang pengalaman belajar mandiri siswa/pengguna. Graham Attwell mendefinisikan PLEs sebagai berikut :
Personal Learning Environments (PLE) as an idea that firstly integrates “pressures and movements” like lifelong learning, informal learning, learning styles, new approaches to assessment, cognitive tools. Furthermore, PLEs are inspired by the success of “sticky” new technologies in ubiquitous computing and social software.

Lain halnya dengan Graham Attwell, Mohamed Amine Chatti mengibaratkan PLEs sebagai perlengkapan kecil-kecil namun lengkap, berbeda dengan LMS atau sering disebut dengan e-learning dengan pendekatan Virtual Learning Environment (VLE) sebagai “pisau swiss“.
Intinya bahwa PLEs melihat e-learning sebagai sebuah aktivitas yang biasa dilakukan seseorang ketika online, tools-nya bebas, bisa dengan social networking, blog atau tools lainnya. Hal ini diharapkan demotivasi yang biasa terjadi dapat dihilangkan atau setidaknya dikurangi.
Untuk lebih memahami, berikut presentasi tentang PLEs :
PLEs adalah sebuah pendekatan atau cara pandang terhadap e-learning sebagai sebuah aktivitas pembelajaran yang dilakukan secara online oleh pembelajar (siswa) dengan tools yang biasa dan disenangi oleh pembelajar yang bersangkutan. PLEs ini diprediksikan akan menjadi titik tolak utama dalam pengembangan sistem e-learning di masa yang akan segera datang.
Artikel ini merupakan salah satu topik penelitian di Program Studi Pendidikan Ilmu Komputer UPI Bandung, sebuah Program Studi yang menghasilkan guru TIK.
Hormat Saya,

kalau memang merencanakan e-learning, mbok yo website myhaley.com itu di update….
masa' posting terakhir tahun 2008. terlalu sibuk ya mas?…:)
Berat banget buka blog ini mas… butuh waktu sekitar 45 detik baru kebuka semuanya…
Salut sama blog dan rencananya sih sebenernya…
salam kenal…
Saya masih newbie yang pingin punya banyak kenalan buat belajar.
thank's sudah mengingatkan, memang sudah terlalu lama ditinggalkan web utamanya, insyaallah secepatnya dibenahi.
salam kenal mas
haha..niat banget itu mas hafid ngitung ..nyampe tau kebuka 45 detik segala.. overall artikel yang bagus.. ternyata pengertian e-learning itu bisa segitu luasnya ya.. yang saya tahu sih e-learning itu ya moodle lagi moodle lagi hehe… teruskan sep.. eh iya tapi saya setuju itu situs myhalley update atuh.. kok gitu gitu aja isinyaa… terus poto c handrina ganti ih..hihihi
— 26 August 2009betul ndra,, Moodle dan LMS lainnya biasa disebut e-learning dengan pendekatan Virtual Learning Environment (VLE), aplikasinya lebih ke penciptaan virtual classroom, sedangkan e-learning dg PLEs ini pendekatannya seperti disebutkan di atas.
Thx dah komen lg, hehe
— 27 August 2009Tag-tag yang diizinkan : <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>