Presentasi yang saya sampaikan kepada teman-teman pengurus Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) UPI November tahun lalu dalam sebuah event kaderisasi pengurus. Berbicara masalah dasar-dasar manajemen organisasi, organisasi masa depan dan organisasi berbasis nilai (value). mudah-mudahan ada manfaatnya bagi pembaca
Hormat Saya,
Kebijakan publik yang tidak memihak rakyat kecil, tidak feasibel dilakukan, tidak efektif dan sebagainya adalah buah dari analisis kebijakan yang keliru. Presentasi ini merupakan intisari dari sebuah buku lama, namun masih menjadi referensi yang sangat relevan tentang bagaimana penentu kebijakan menganalisis hingga melaksanakan dan mengevaluasi suatu kebijakan publik.
Buku ini berjudul “Public Policy Analysis” karya William N. Dunn, semoga bermanfaat
Hormat Saya,

sumber gambar http://www.chrislabrooy.com/UX_design.html
UX (User Experience) adalah sebuah bidang baru yang berangkat dari hubungan manusia dengan teknologi. Interaksi antara manusia dan teknologi didefinisikan dalam desain sebelum diimplementasikan. Desain ini perlu dilakukan untuk memaksimalkan stimulus yang dapat diberikan oleh sebuah teknologi –dalam hal ini website E-learning– kepada penggunanya. Stimulus ini pada akhirnya akan melahirkan respon dan efek tertentu yang diinginkan pengembang terjadi pada pengguna, sehingga lahirlah pengalaman belajar melalui website E-Learning tersebut.
Pada hakikatnya UX bersifat subjektif, artinya bergantung pada penilaian pribadi seseorang sehingga pengembang aplikasi hanya bisa memberikan berbagai stimulus baik berupa grafik, gambar bergerak (animasi), dan sebagainya, sehingga setidaknya pengguna akan mengeluarkan respon, apakah itu meng-klik tombol, mengisi form, dan respon-respon lainnya. Tentu, respon tersebut akan berbeda-beda tiap orangnya. Pada akhirnya perlu dipahami bahwa UX hanya berbicara bagaimana mengoptimasi berbagai stimulus, bukan membahas bagaimana respon itu akan muncul. read more…
Berikut ini presentasi yang saya sampaikan setahun yang lalu dalam satu mata kuliah
, meskipun hanya sebuah tugas mata kuliah tetapi mudah-mudahan bisa bermanfaat lebih luas dan lama. Presentasi ini membahas tentang “Dasar-Dasar Sistem Informasi Pendidikan berbasis TIK”. Mudah-mudahan bermanfaat
Hormat Saya,

Cover Buku: Designing Successful e-Learning
Buku ini merupakan buku yang cukup saya rekomendasikan kepada siapapun yang akan atau sedang mengelola eLearning, baik sebagai developer sistem, desainer instruksional, programmer konten maupun tutor/dosen.
Buku yang ditulis oleh salah seorang begawan Instructional Design Michael Allen (http://alleninteractions.com) memaparkan secara komprehensif dari mulai konsep dasar instruksional hingga teknik desain pembelajaran eLearning yang mudah diterapkan, khususnya di lingkungan learning center perusahaan.
Di covernya Allen mengutip satu pernyataan yang cukup provokatif “Forgot What You Know About Instructional Design and Do Something Interesting“, bagaimana tidak Instructional Design sebagai cabang ilmu yang sudah cukup matang direkomendasikan untuk dilupakan saja!
) read more…
Menghadirkan Konteks yang Tepat dalam eLearning
Berbicara tentang mendesain pembelajaran eLearning, salah satu hal yang menjadi pembeda antara desain yang berhasil dengan desain yang gagal adalah bagaimana desainer instruksional mampu membangun konteks yang tepat.
Pengertian
Secara umum konteks dalam pembelajaran eLearning adalah suatu kerangka kerja dan tolok ukur dalam menghadirkan kondisi awal atau latar belakang kenapa pembelajaran tersebut penting untuk diikuti. Contohnya:
- Calon operator mesin merasa asing dengan mesin modern yang harus dioperasikan
- Nasabah bank yang merasa kecewa dengan pelayanan
- Banyaknya jenis aplikasi yang harus diketahui oleh petugas administrasi.
Konteks yang tepat?
Desain yang berhasil menghadirkan konteks yang tepat adalah ketika pengguna/pembelajar merasa memiliki alasan untuk mengikuti pembelajaran eLearning tersebut. Konteks yang tepat adalah ketika pengguna/pembelajar merasa terikat dan memaknai kondisi tersebut, “yup.., pembelajaran eLearning ini memang sangat saya butuhkan!”
Tips Menghadirkan Konteks yang Tepat
- Tempat yang sebenarnya, apabila permasalahan tentang komplain nasabah maka cerita diawali di meja customer service, bukan di lingkungan kelas yang terdapat papan tulis, kapur tulis dan sebagainya.
- Gunakan storyline yang kuat seperti menghadirkan konflik, situasi kritis, ketegangan, drama atau bahkan humor
- Mulai dengan aktivitas yang relevan (masalah nyata), sebaiknya hindari mengawali pembelajaran dengan pretest yang bersifat akademik seperti pretest soal pilihan ganda.
Demikian pentingnya menghadirkan konteks yang tepat dalam mendesain pembelajaran eLearning, perlu selalu kita ingat bahwa desain pembelajaran eLearning sedikit berbeda dengan mendesain pembelajaran klasikal, karena pengguna/pembelajar tidak langsung berhadapan dengan tutor/dosen tetapi berhadapan langsung dengan konten pembelajaran. read more…

Gambar dicuil dari theinnovativeeducator.blogspot.com
Pagi ini di lini masa twitter saya dan pak Arief Bahtiar sedikit berbincang tentang bagaimana konsep eLearning dengan menggunakan pendekatan Personal Learning Environments (PLEs) dapat diterapkan di suatu lembaga pendidikan/pelatihan. (bagi yang belum mengetahui apa itu PLEs dan Konsepnya, klik http://tsauri28.myhaley.com/blog/pengertian-ples/)
Pendekatan PLEs merupakan suatu perubahan mendasar dalam melihat pembelajaran melalui eLearning. Selama ini eLearning diidentikan dengan adanya Learning Management System yang memiliki kemampuan untuk menghadirkan kelas virtual secara lengkap, dari mulai pengadaan bahan ajar, aktivitas-aktivitas hingga asesment hasil belajar dan kesemuanya itu dikelola dalam satu “rumah besar” bernama Learning Management System. Nah, dalam pendekatan PLEs, konsep itu dibalik 180 derajat, bahwa pembelajaran eLearning harus berpusat pada pembelajar itu sendiri (bukan pada kelas virtual di LMS), sehingga imbasnya tools yang digunakan bukan hanya LMS, tetapi juga tools lain yang sudah familiar digunakan oleh pembelajar (seperti social network, blog, dll) read more…
Anggapan bahwa kesuksesan suatu E-learning ditentukan oleh konten yang banyak memang ada benarnya, namun tidak sepenuhnya benar! Sesungguhnya percakapan (conversation) adalah aspek lain yang perlu diperhatikan dalam mendesain pembelajaran melalui E-learning ini. — ‘Content is king, conversation is queen!’
Perkembangan teknologi web kian hari kian mengejutkan sehingga banyak konsep-konsep lama harus diganti atau setidaknya diperbaharui. Menurut saya, bidang yang cukup responsif melakukan perubahan adalah bidang E-commerce. Lahirnya teknologi web 2.0 banyak mengubah paradima dan konsep E-commerce saat ini. Akhir-akhir ini lahir istilah yang cukup populer yaitu ‘content is king, conversation is queen’. Ungkapan ini merupakan ungkapan yang mengisyaratkan bahwa dalam melakukan penjualan melalui media internet (e-commerce) selain konten barang/jasa yang harus berkualitas, untuk menjamin hingga calon pembeli melakukan penetrasi pembelian, percakapan (conversation) adalah jurus nan ampuh untuk mewujudkannya.
Dalam pemikiran saya, E-learning pun tidak ubahnya seperti E-commerce, hanya berbeda konteks saja. Dengan demikian ungkapan ‘content is king, conversation is queen’ untuk E-learning pun berlaku! Jika E-commerce menawarkan barang/jasa, maka semestinya E-learning pun menawarkan ‘barang/jasa’ berupa pengalaman belajar (learning experience). Nah, sekarang kita akan bahas sedikit tentang bagaimana konten E-learning yang setegas raja dan percakapan selembut ratu. read more…
Presentasi yang saya sampaikan ketika berkesempatan mengisi workshop selama 2 hari di salah satu SMA di Kabupaten Bandung tahun 2010 lalu, tema yang saya sampaikan tentang “Learning Management System dan penerapannya di sekolah”. Semoga bermanfaat

- Image taken from http://flickr.com/photos/kristalong
Kapan dan di mana menempatkan informasi dari bahan pembelajaran yang ada merupakan misteri yang cukup pelik untuk dipecahkan oleh seorang Desainer Instruksional/Dosen/SME. Terkadang kesalahan penempatan informasi akan menghilangkan ‘makna’ bagi pembelajar. Terdapat 5 prinsip yang digagas oleh David Merrill, yang sering disebut dengan istilah “5 Star Instruction“.
Dalam catatan saya terdahulu: Learning Desain dalam E-Learning telah dibahas tentang pentingnya desain dalam menyampaikan suatu pembelajaran dalam e-learning. Nah, untuk bagaimana mengaplikasikannya saya menemukan model yang menarik yang digagas oleh David Merrill yang disebut “5 Star Instruction“, yaitu lima prinsip yang digunakan dalam menempatkan dan meng-alur-kan informasi dalam pembelajaran, sehingga pengguna/pembelajar tidak kehilangan makna dalam mengakses course. Lima prinsip itu adalah 1) Masalah (Problem) 2) Aktivasi (Activation); 3) Demonstrasi (Demonstration); 4) Aplikasi (Application); 5) Integrasi (Integration). read more…




