Mengapa Tipe Belajar Penting dalam E-Learning?
Pembaca mungkin sudah familiar dengan istilah learning style, yang konon katanya bahwa setiap orang memiliki cara yang berbeda-beda dalam mempelajari suatu hal, seperti contoh penulis lebih memilih mempelajari sesuatu dengan melihat gambar dan video dibandingkan harus melihat atau membaca ‘text-book’ yang luar biasa tebal, akan tetapi berbeda dengan rekan penulis yang lebih nyaman membaca text-book untuk mempelajarinya, karena katanya bisa mempelajarinya lebih detail dan komprehensif. Ya, itulah learning style! Setiap orang memiliki cara dan kebiasaan yang berbeda untuk belajar.
Berbicara learning style dalam konteks pembelajaran melalui elearning tentu akan menimbulkan pertanyaan yang standar yaitu apa? bagaimana? dan mengapa?
Apa
Tipe belajar adalah cara atau metode seorang individu dalam mempelajari sesuatu. Setiap orang pasti memiliki kecenderungan yang dominan terhadap suatu tipe belajar, meskipun tidak menutup kemungkinan dapat pula menggunakan tipe belajar lain untuk beberapa kasus.
Apa saja tipe belajar?
dilihat dari modalitas seseorang, tipe belajar seseorang dikelompokan menjadi tipe visual, tipe auditory dan tipe kinestetik. Sedangkan menurut Kolb dengan variabel yang berbeda mengelompokkan tipe belajar menjadi 4 tipe, yaitu tipe reflectors, theorists, pragmatists dan activists.
Dalam pembelajaran elearning nampaknya kita (khususnya penulis) belum terlalu memperhatikan ini ketika mengembangkan course maupun konten, padahal meskipun melalui elearning kita perlu memperhatikan user (pembelajar) agar hasil pembelajarannya optimal.
Bagaimana
Pertanyaannya bagaimana agar pembelajaran elearning kita dapat menyesuaikan dengan tipe belajar para user (pembelajar)-nya? Hal ini perlu ditinjau secara komprehensif dimulai dari ketika kita merencanakan/mempersiapkan pembelajaran, melaksanakan, memantau hingga mengevaluasi pembelajaran elearning kita.
Dalam tahap perencanaan kita perlu mendefinisikan karakteristik dominan user yang akan mengikuti pembelajaran elearning kita, apakah dominan tipe theorists atau tipe lainnya (misal). Dalam tahap pelaksanaan pembelajaran kita perlu menyesuaikan aktivitas pembelajaran kita dengan tipe tersebut, tentu tidak tepat membuat aktivitas membaca jurnal-jurnal bagi user yang ternyata dominan memiliki tipe activists. Dalam tahap evaluasi pun perlu disesuaikan, apabila tipe pembelajar dominan tipe theorists kita menyiapkan assessment berupa portofolio.
Mengapa
Terakhir pertanyaan pamungkas adalah mengapa kita perlu repot-repot memperhatikan tipe belajar user? Jawabannya tentu kembali pada kemauan kita untuk meningkatkan mutu dari pembelajaran elearning kita. Penulis berpendapat bahwa semakin kita mampu membuat pembelajaran ini tepat sesuai dengan tipe belajar user-nya, maka semakin baik pula mutunya. Mutu di sini berbicara tentang mutu lulusan dan mutu proses pembelajarannya pula. ***
Wallahu’alam
Hormat Saya,






