5 Prinsip Mendesain Problem Based Course

- Image taken from http://flickr.com/photos/kristalong
Kapan dan di mana menempatkan informasi dari bahan pembelajaran yang ada merupakan misteri yang cukup pelik untuk dipecahkan oleh seorang Desainer Instruksional/Dosen/SME. Terkadang kesalahan penempatan informasi akan menghilangkan ‘makna’ bagi pembelajar. Terdapat 5 prinsip yang digagas oleh David Merrill, yang sering disebut dengan istilah “5 Star Instruction“.
Dalam catatan saya terdahulu: Learning Desain dalam E-Learning telah dibahas tentang pentingnya desain dalam menyampaikan suatu pembelajaran dalam e-learning. Nah, untuk bagaimana mengaplikasikannya saya menemukan model yang menarik yang digagas oleh David Merrill yang disebut “5 Star Instruction“, yaitu lima prinsip yang digunakan dalam menempatkan dan meng-alur-kan informasi dalam pembelajaran, sehingga pengguna/pembelajar tidak kehilangan makna dalam mengakses course. Lima prinsip itu adalah 1) Masalah (Problem) 2) Aktivasi (Activation); 3) Demonstrasi (Demonstration); 4) Aplikasi (Application); 5) Integrasi (Integration).

- 5 Star Instruction (Merrill)
Prinsip Masalah (Problem)
Pembelajaran harus dimulai dengan adanya masalah (problem), hal ini sejalan dengan prinsip “problem based learning”, sehingga apa yang akan disampaikan dalam pembelajaran adalah memang dibutuhkan untuk menyelesaikan permasalahan di dunia nyata. Prinsip ini merupakan pusat/titik utama dalam prinsip “5 star instruction”. Dalam aplikasinya di course, prinsip ini dapat diterapkan melalui konten yang menggambarkan permasalahan di dunia nyata (dapat berupa video, cerita, dsb).
Prinsip Aktivasi (Activation)
Prinsip ini menuntun pembelajar untuk mengingat kembali pengetahuan yang relevan dengan masalah yang telah didefinisikan. Dalam aplikasinya di course, prinsip ini dapat diterapkan melalui pre-test.
Prinsip Demonstrasi (Demonstration)
Prinsip ini memberikan pengetahuan kepada pembelajar bagaimana suatu metode/cara yang ada dapat menyelesaikan masalah yang timbul, prinsip ini menuntut untuk membuat konten yang bersifat How-to. Dalam aplikasinya di course, prinsip ini dapat diterapkan melalui video, wiki, dsb.
Prinsip Aplikasi (Application)
Prinsip ini memberikan akses agar pengguna/pembelajar dapat mensimulasikan apa yang telah dia ketahui melalui bahan ajar sebelumnya ke dalam masalah yang dia miliki. Dalam aplikasinya di course dapat melalui post-test atautest lain yang lebih advance seperti melalui test bersifat multimedia.
Prinsip Integrasi (Integration)
Prinsip ini menuntut agar pembelajar dapat mengintegrasikan pengetahuannya di dunia nyatanya. Apabila dalam prinsip aplikasi masalah itu diberikan oleh tutor/dosen/SME, dalam prinsip ini masalah adalah muncul dari kehidupan/pekerjaan pembelajar itu sendiri. Aplikasinya dalam course dapat melalui forum, blog, dan sebagainya.
—
Pada akhirnya, semestinya pembelajaran melalui e-learning merupakan suatu siklus yang tidak pernah berhenti,course yang didesain dengan menggunakan prinsip di atas akan terus berkembang dan semakin kaya dengan pengetahuan dan keterampilan.
—
Telah diposting juga di http://idelearning.com/2011/06/18/5-prinsip-mendesain-problem-based-course





thanks sharingna sep// eweh gawe buka2 blog.. keren uy.. jadi hayang sakola deui urang..hehe
terkait artikel diluhur, memang saya sepertinya sedikit pernah menerapkan hal tersebut di pemblajaran TIK. wah sepertinya walaupun agak beda kontennya tp untuk pembelajran TIK, 5 metode itu sangat efektif untuk di lakukan, setidaknya dengan memadatkan pembelajaran praktek, sisanya problem based learning.. keren malah anak2 SD bisa lebih hebat ti urang nyieun logo corel-na…hehehe