Skip to content
Jun 30 / tsauri28

Mencari Bentuk Ideal eLearning Sekolah di Indonesia

Hampir 3 tahun ini saya mencoba mencari formula paling tepat untuk melaksanakan eLearning di sekolah-sekolah Indonesia. Ternyata banyak faktor yang harus diperhatikan untuk mengimplementasikan eLearning sebagai sumber belajar bagi siswa-siswa di Indonesia.

1. ketersediaan infrastruktur
masalah klasik dalam implementasi ICT di berbagai bidang termasuk eLearning di lembaga sekolah adalah kurang (tidak) tersedia infrastruktur. tidak dapat dipungkiri syarat utama dalam penyelenggaraan eLearning adalah harus tersedianya infrastruktur internet yang memadai, mustahil jika infrastruktur tidak tersedia kita bermimpi untuk menyelenggarakan eLearning yang berkualitas. akan tetapi, terjadi suatu anomali (setidaknya bagi saya) soal infrastruktur ini, yaitu ketika traffic akses ke situs jejaring sosial begitu besar di Indonesia, artinya orang Indonesia sebetulnya sudah memiliki infrastruktur internet, meskipun yang paling sederhana (melalui jaringan GPRS di handphone). sehingga saya berkesimpulan bahwa sesungguhnya masyarakat Indonesia sudah mulai siap dengan infrastruktur internet.

2. kultur IT literacy (melek IT)
Sesungguhnya kultur IT kita sudah cukup baik dengan melihat data pengguna internet di Indonesia (mencapai 38 juta orang), namun hal tersebut belum senada dengan kultur IT literacy-nya, apa bedanya? IT literacy itu merupakan kebiasaan orang untuk dapat menyelesaikan permasalahan hidupnya melalui IT, sedangkan yang berkembang di Indonesia IT baru sebatas untuk memenuhi kebutuhan entertainment saja, belum menyentuh kebutuhan lainnya.

3. alternatif teknologi
kurangnya alternatif teknologi yang dikenal oleh implementator eLearning di Indonesia menjadi suatu permasalahan tersendiri. Ketika berbicara eLearning (maaf) yang terlintas dalam benak kita adalah satu tools bernama Moodle, sehingga ketika berbicara eLearning kita tidak berangkat dari konsep eLearning yang kita inginkan, malah terbalik – kita ‘terpaksa’ mengikuti konsep yang diberikan tool.

4. Policy dan Leadership
eLearning hanya dipandang sebagai project sesaat adalah sumber kegagalan implementasi yang utama!. Kebijakan yang dilahirkan oleh pimpinan yang sebetulnya tidak memiliki passion terhadap eLearning itu sendiri sangatlah disayangkan, sekedar menggugurkan kewajiban anggaran.

5. Konsep dan tujuan
Masih berhubungan dengan poin 3 di atas, karena alternatif yang terbatas maka pengembangan konsep dan arah tujuan penyelenggaraan eLearning di lembaga pun menjadi bias, awalnya diharapkan menjadi suatu solusi akhirnya dianggap sebagai beban baru.

6. Maintenance
Karena masih dianggap suatu project sekali saja, eLearning pun biasanya mati sebelum berkembang. Maintenance menjadi permasalahan pelik implementasi eLearning di Indonesia. pemahaman tentang prject eLearning yang disamakan dengan project membuat gedung adalah suatu kesalahan besar. Sebetulnya lembaga yang menyelenggarakan eLearning lebih banyak berinvestasi pada pemeliharaan sistem jangka panjang, bukan pada development system saja. Bahkan, saya berpendapat bahwa investasi untuk development bisa sangat minimal kok.

Kesimpulan (sementara)
Dari paparan di atas setidaknya saya memiliki kesimpulan sebagai berikut:

  1. masalah infrastruktur memang permasalahan yang pelik dan mahal, namun hal tersebut dapat diminimalisir dengan menyediakan aplikasi eLearning berbasis mobile (m-learning)
  2. perlu banyak kampanye yang disampaikan agar masyarakat Indonesia pada umumnya memahami bahwa ICT just a tools,not god!, karena dengan menganggap ICT sebagai sesuatu yang wah, masyarakat kita akan terus merasa enggan untuk mencoba.
  3. berangkatlah dari kebutuhan, bukan dari tool yang ada apalagi dari hanya sekedar gengsi!. Setelah merumuskan kebutuhan kita rumuskan ke konsep yang akan dikembangkan, setelah itu baru kita memilih tool yang tepat, bisa jadi hanya dengan tool berupa blog engine kebutuhan kita sudah terpenuhi. dan satu lagi, gengsi akan mengikuti jika kita berhasil dalam mengimplementasikannya!.
  4. Para leader lembaga harus menguasai setidaknya sampai tataran filosofis tentang eLearning ini, sehingga kebijakan yang dikeluarkan menyangkut eLearning bisa diambil tepat guna.
  5. Berpikirlah lebih panjang tentang investasi eLearning. Maksudnya jangan hanya berpikir bahwa membangun eLearning itu hanya cukup sampai sistem kita running dan dapat diakes kapanpun dan dimanapun, berinvestasi lebih lah pada tahap pemeliharaan sistem, termasuk di dalamnya investasi berupa penghargaan bagi para ‘aktivis’ sistem kita.

3 Comments

leave a comment
  1. ren / Aug 31 2010

    sepertinya memang Indonesia gak maju2 bukannya gak bisa maju, tapi standar nye pade belum jelas mereun.. heuheu..

  2. kalajengqueen / Aug 31 2010

    Menurut saya, perlu ketekunan dalam menanamkan paradigma baru pada budaya pendidikan kita.

    kalau jalan tak pakai sandal,
    kade weh ninycak belink
    bisa oge pake sapatu,
    hayu urang tukeuran link,,
    http://wardenhaus.wordpress.com/

  3. Yohan Wibisono / Oct 27 2010

    Nice Article, inspiring. Aku juga suka nulis artikel bidang bisnis di blogku : http://www.yohanwibisono.com, silahkan kunjungi, mudah-mudahan bermanfaat. thx

Leave a Comment