Konektivisme: Jangan Mau Belajar TIK
“Untuk para pelajar SMP dan SMA, jangan mau belajar mata pelajaran TIK jika hanya belajar membuat makalah dan presentasi dengan perangkat lunak bajakan. Jangan mau pula jika anda diperlakukan selayaknya robot, disuruh klik kanan, lalu klik kiri.. dan selesailah dua jam pelajaran TIK anda di sekolah dalam seminggu, tanpa anda mengerti esensinya.”
Itulah bentuk kerisauan saya tentang aplikasi kurikulum mata pelajaran TIK di sekolah saat ini, bukan berarti saya tidak setuju 100% dengan hal itu, tetapi saya merasa itu bukanlah esensi sesungguhnya kurikulum TIK di Sekolah Menengah. Saya bukan tidak sepakat jika mata pelajaran TIK di sekolah salah satunya adalah mempelajari untuk menggunakan beberapa perangkat lunak, tapi ada yang lebih penting dibandingkan dengan hal itu, ada satu hal yang dilupakan dalam penyusunan kurikulum TIK, dan itu sangat penting!.
Pelajaran TIK di Sekolah Menengah bukan bertujuan untuk menciptakan teknokrat di bidang informatika seperti layaknya di Universitas, (semestinya) tujuannya adalah untuk membentuk karakter siswa untuk terbiasa menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk membantu kehidupannya, membantu menyelesaikan masalah dan membantunya belajar lebih cepat dan efisien. Sehingga akan menjadi apapun (pekerjaan) siswa itu kelak, dapat menggunakan teknologi dengan tepat dan bijaksana.
Satu hal yang belum dimasukkan kedalam kurikulum TIK di sekolah ini adalah tentang bagaimana menggunakan teknologi untuk belajar dan untuk kehidupan yang lebih luas. Mungkin terdengar terlalu teoritis, namun itulah yang justru harus menjadi semangat dari pengembangan kurikulum TIK untuk SMP maupun SMA, sehingga penyalahgunaan teknologi seperti film-film porno yang selama ini dilakukan oleh sebagian remaja kita akan semakin berkurang.
Berbicara tentang teknologi dan cara belajar, ada sebuah teori pembelajaran baru yang diungkapkan oleh ilmuan bernama Stephen Downes dan George Siemens, yaitu teori connectivism atau konektivisme. Saya berpendapat, seharusnya pelajaran TIK dilandasi oleh teori ini, sehingga pelajaran TIK dapat menjadi motor untuk perubahan gaya belajar siswa dan gaya mengajar guru yang dapat menerima teknologi yang berubah begitu cepat.
Menurut George Siemens, konektivisme memiliki prinsip-prinsip sebagai berikut:
- Pembelajaran dan pengetahuan berada dalam keaneka-ragaman (diversity) pandangan/pendapat/opini.
- Pembelajaran merupakan suatu proses menghubungkan sumber sumber informasi terutama node node khusus. Selain itu, pembelajaran dapat terjadi di luar diri manusia ( may reside in non-human appliances )
- Kapasitas untuk dapat mengetahui lebih penting dari pada apa yang saat ini diketahui.
- Mendorong dan memelihara hubungan hubungan diperlukan untuk memfasilitasi terjadinya pembelajaran berkelanjutan.
- Kemampuan untuk melihat hubungan hubungan antara bidang bidang, ide ide, dan konsep konsep merupakan keterampilan inti.
- Kemutakhiran (akurat, pengetahuan up-to-date) merupakan tujuan dari kegiatan pembelajaran connectivism
- Pengambilan keputusan merupakan proses pembelajaran.
- Memilih apa yang akan dipelajari sangat penting dalam menghadapi “banjir informasi”.
- Makna dari informasi yang masuk harus dilihat melalui “kacamata” suatu pergeseran realitas. Suatu jawaban yang benar saat ini dapat salah besok pagi karena adanya perubahan “iklim” informasi yang mempengaruhi keputusan tersebut.
Akhirnya saya berharap agar kurikulum TIK dapat terus ditinjau dengan banyak sudut pandang yang kreatif. Agar mata pelajaran “teknologi” ini tidak malah jadi mata pelajaran yang tidak peka perubahan.
————-
Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya tentang “Kemanakah Roh Kurikulum TIK?“.
Hormat Saya,





teringat seseorang yang pernah b’janji kalo ga akhir mei maka awal Juni. duka tah emut henteu
Pendidikan yang membebaskan diperlukn pada semua disiplin ilmu, semangat dasar yang seharusnya tertanam pada warga belajar mampu meyakini semua orang bisa, dan tidak ada guru menggurui. Ada satu sekolah alternatif di salatiga (al qoriyah thoyyibah) yang setelah saya berkunjung ke sana, sedikitnya telah berhasil melakukan metode pembelajaran demikian. Sungguh menarik kawan..semua peserta didik memegang alat, di sekolah yang di sana disebut lumbung, tempat sema aktivitas dikerjakan.
mmhh good idea..
klo boleh tau program kongkrit untuk pengaplikasiannya d lapangan seperi apa…
tanks be4..^^
Substansi tulisan anda sudah memadai, karena begitulah materi atau kompetensi yang terapat di dalam silabus mata pelajaran TIK. Coba anda pertajam dengan pernyataan “dari sisi itulah keberadaan jurusan pendidikan ilmu komputer sangat diperlukan” untuk memberikan kontribusi terhadap materi TIK di sekolah. Selain itu ada baiknya judul tulisan tidak bernuansa propokasi, tetapi lebih menggugah. Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah: kebutuhan bahasa yang komunikatif, karenanya pelajari pula beberapa gaya dan cara menulis. Semoga bermanfaat.
@Naufal: terima kasih masukkannya, memang sedang terus belajar berfikir, menggambarkan dan menuliskannya.
Siswa yang belajar TIK saat ini masih berfikir bahwa pelajaran TIK haruslah di depan komputer dengan seabreg kemampuan atau soal yang dikerjakannya. Selain itu, apa beda nya kurikulum TIK di SMP dan SMA saat ini? masih berkutat mempelajari sebuah aplikasi yang notabene harus kita beli.
betul.kurikulum SMP dengan SMA hampir tidak ada bedanya…
materi yang diulang-ulang…