Kemanakah Roh Kurikulum TIK ??
Kapita Selekta, adalah salah satu mata kuliah yang saya kontrak semester ini. Mungkin hanya kapsel ini mata kuliah yang semester ini mewajibkan saya masuk kelas, karena sisanya kebanyakan tugas di luar.
Perkuliahan minggu ini, kapsel yang diampu langsung oleh Pak Wawan selaku Kaprodi Pendidikan Ilmu Komputer membahas tentang tugas kelompok yang telah dikumpulkan sebelumnya, topiknya adalah kajian kurikulum mata pelajaran TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi). Ada yang menarik? mari kita lihat.
TIK sejak tahun 2004 (kurikulum KBK) telah masuk pada kurikulum resmi di seluruh sekolah, setidaknya menjadi mata pelajaran yang wajib dipelajari, dari sejak SMP sampai SMA. Sejak itu pula, kurikulum terbentuk dan berjalan di seluruh sekolah se-Indonesia. Sebagai mata pelajaran yang baru masuk, TIK masih memiliki kekurangan di sana sini, yaitu :
- Korelasi dengan infrastruktur sangat kental, laboratorium komputer menjadi penentu utama keberhasilan pelaksanaan pembelajaran TIK di sekolah sehingga sekolah-sekolah yang tidak mampu mengadakan laboratorium komputer menjadi tidak bisa optimal
- Pendalaman materi yang kabur, maksud saya bahwa kurikulum yang ada kurang dapat merangsang para pendidik mata pelajaran TIK untuk membuat pendalaman materi yang lebih baik
- Pendidik mata pelajaran TIK di sekolah saat ini didominasi bukan oleh lulusan yang semestinya, yaitu oleh guru mata pelajaran lain dan lulusan ilmu komputer/informatika yang tidak memiliki latar belakang pendidikan sebagai pendidik
- Pemahaman bahwa pelajaran TIK adalah pelajaran yang hanya akan menjadikan peserta didik menjadi seorang operator berbagai perangkat lunak.
Dari ke-empat alasan diatas menggambarkan bahwa kurikulum TIK di SMP maupun SMA belum memiliki roh yang seharusnya ada dalam kurikulum TIK (krisis identitas), padahal sepanjang pengetahuan saya bahwa TIK semestinya dapat mengantarkan peserta didik yang berwawasan luas dan bertindak arif berdasarkan teknologi mutakhir yang berkembang, tidak hanya menjadikan seorang yang hanya bisa klik kanan, klik kiri, drag dan copy paste!. Sebuah tantangan bagi para guru TIK!!.
Salah satu solusi dari permasalahan diatas (menurut Pak Wawan) adalah dengan memasukkan Pendidikan Teknologi Dasar (PTD) kedalam kurikulum TIK saat ini. Pengetahuan Teknologi Dasar secara garis besar adalah merupakan konsep pemahaman terhadap suatu teknologi dari sudut pandang yang ilimiah dan eksak. Dengan Pendidikan Teknologi Dasar ini, pendidik TIK dituntut untuk dapat menganalisa suatu teknologi yang akan diajarkan kepada peserta didik dari sudut pandang yang mendalam sehingga dapat menyampaikan kepada peserta didik bahwa teknologi lahir dari beberapa disiplin ilmu yang saling berhubungan, sehingga tidak hanya menyampaikan “bagaimana melakukannya?” tapi juga “bagaimana itu lahir?”.
Memang diakui, bahwa TIK baru lahir tahun 2004 yang sampai saat ini kurikulumnya pun belum pernah dikaji kembali oleh Pusat Kurikulum (Puskur) Depdiknas pasti menyisakan “celah” yang tidak sedikit, akhirnya kita memang harus terus mendorong agar pendidikan TIK pada khususnya dan pendidikan pada umumnya dapat terus berkembang dan benar – benar dapat menjadikan peserta didik yang cerdas, bertaqwa dan berakhlakul karimah. Amiin.
Hormat Saya,







betul…,,memang untuk saat ini problematika yang terjadi didunia TIK khususnya di pendidikan sudah demikian besarnya…’oleh karena itu perlu adanya suatu terobosan terbaru untuk mengatasi masalah ini..,,kalau terus dibiarkan kapan Indonesia bisa maju..”bener gak..??’
Pendapat Saya berkaitan dengan Kurikulum TIK itu sendiri memang pada saat ini harus diperbaharui, dengan kata lain adalah disesuaikan dengan perkembangan jaman (teknologi) serta kebutuhan dunia khususnya dunia industri, sehingga adanya keterpaduan “Supply and demain” antara lulusan dari pendidikan serta permintaan SDM IT (Information Technology), Saya pun dalam Kuliah Kapita Selekta, dosen Kami Pak Wawan Setiawan berpendapat kurikulum harus diisi dengan PTD (Pendidikan Teknologi Dasar) dan untuk saat ini setidaknya Kurikulum TIK yang sudah ada digunakan sebagai acuan minimun dalam pengajaran.
Harapan: kehidupan Pendidikan Indonesia lebih baik untuk hari ini dan esok hari lebih baik dari hari ini.
Sepenuhnya saya mendukung perjuangan kawan-kawan. Untuk itu saya punya ide, bagaimana kalo setelah kita lulus nanti dan Insya Allah semua lulusan dari jurusan kita menjadi guru TIK (harapan saya) membuat semacam forum. Forum ini diisi mengenai diskusi seputar Pendidikan TIK dan TIK itu sendiri di negri Indonesia tercinta ini. Selain berjuang untuk pendidikan kita juga insya Allah akan mendapat ilmu dan tentunya bisa sambil silaturahmi juga. Amiin.
Sudah saatnya paradigma pemikiran kita beralih, jangan hanya anggap mata pelajaran TIK itu adalah pelajaran komputer saja, tetapi harus lebih luas dari itu TIK adalah Teknologi Informasi dan Komunikasi seutuhnya. Hal ini mudah-mudahan dapat mendorong agar negeri ini mejadi negeri yang memiliki kearifan berteknologi.
kurikulum disusun seideal mungkin, tapi di lapangan??
ga tau mau jawab apa, bukan karena tidak tahu.
tapi tak bisa mengungkapkannya seperti apa dan sejauh mana
First, dalam mata pelajaran apapun, kajian ilmu manapun, utamanya di sekolah2, karena kita seorang pendidik, maka tugas utama kita ya mendidik. adapun basic kita adalah ‘TIK’ maka, bagaimana caranya kita membawakan ruh ‘mendidik’ pada saat kita mengajar, baik itu di kelas, atau memang seringkalinya di lab. It’s show time, Bro..
sperti Asep blg : bertindak arif. jadi inget matkul etika profesi.. but it’s a pity.. an cuma inget darh dan cinta-nya p’away..hehe
satu hal, dengan memasukkan TIk didalam kurikulum sekolah, akan berfungsi membantu siswa utk belajar TIK dan nmenggunakan segala potensi yang ada untuk pengembangan kemampuan diri. nah, pengembangan kemampuan diri ini.. bener kata Asep tidak hanya menjadikan seorang yang hanya bisa klik kanan, klik kiri, drag dan copy paste!. tetapi peserta didik yang yang berwawasan luas dan bertindak arif berdasarkan teknologi mutakhir yang berkembang,
memang ini sebuah tantangan yang berat. its hard to do but live is a struggle, is it right??
Berbagi pengalaman ketika PLP semester kemarin :
Ketika saya menjelaskan materi di lab, saya sendiri menyadari apa yg saya sampaikan itu sudah membosankan anak-anak, dan ternyata ada anak yang sedang asyik chating dengan HP-nya!, hehe.. Ironis ya..
SK dan KD mata pelajaran TIK memang terlalu teknis, anak SMA kelas 1 masa masih belajar “mencet” tombol power?!?
Pelajaran Tik adalah salah satu ilmu komunikasi yang handal dalam aktifitas sehari2, oleh karena itu kami minta kurikulum yang lengkap khususnya untuk SMP supaya bisa belajar praktek sendiri tanpa harus diajarkan setiap hari, sedangkan kurikulum yang ada selama ini sangat masih kurang.
terimakasih sebelumnya.
Terima kasih. Pemikiran Anda membantu saya untuk menyelesaikan thesis saya di pascasarjana UNJ. Program studi yang saya ambil Teknologi Pendidikan. Secara singkat, teknologi adalah menghasilkan nilai tambah pada sistem, proses, dan produk. Secara garis besar, thesis saya ingin membuat sebuah sistem di mana pembelajaran TIK di sekolah-sekolah tidak “belajar program untuk menjalankan program”, tapi bagaimana supaya “belajar program untuk belajar bidang studi tertentu”. Jadi TIK itu seharusnya seperti yang sudah Anda sebutkan di atas. Saya ada di facebook juga, kalau mau terus kontak
Saya ikut berbahagia kalau memang ini membantu studi anda. Insyaallah kapan-kapan saya kontak
Terima kasih sudah berkomentar di sini.
PTD yang dimaksud, contohnya seperti apa Sep..?
PTD esensinya sebetulnya adalah untuk memperkenalkan teknologi secara komprehensif, agar siswa dapat dengan bijak memanfaatkannya.
Namun, ada pula yang menanggapinya dengan membuat mata pelajaran PTD (tersendiri), hal ini pun sedang di godok di FPMIPA UPI
wah kena banget deh…
TIK menjadi kurikulum yang mendasarkan perkembangan zaman memang harus disesuaikan dengan perkembangan yang ada, bahan ajarnya pun harus mengikuti perkembangannya. PTD emang diperlukan untuk membentuk jatidiri anak didik sehingga kesalahan pemanfaatan media IT tidak salah kaprah sehingga memiliki benteng untuk membatasi pengaruh negatif virus IT dan anak tidak jadi error di tantangan masa depan.
Menjadi Guru TIK bisa dikatakan mudah dan susah, mudah jika kita mengajar di sekolah favorit dan memiliki labkom yg lengkap dan didukung murid yg berkualitas baik, tp bayangkan jika kita mengajar TIK didaerah pinggiran dan kita tidak punya LAB yg memadai lalu yg kita ajar adalah murid yg sudah hopeless,dan tidak punya semangat belajar. dituntut keahlian sang guru untuk memotivasi siswanya agar menyukai pelajaran yg diajarkan.
membaca artikelnya saya tertarik… namun biaya untuk pembuatan Lab PTD yang berkwaliitas memang menjadi kendala setiap sekolah. dan belum siapnya tenaga untuk ptd juga menjadi kendala. atau tenaga IT dengan PTD menurut saya ada perbedaan. dimana lulusan IT lebih cenderung kepada tenaga komputer sedang PTD merupakan jurusan yg kompleks yang membidangi Tekhnologi scara umum.