Fenomena Facebook di Dunia Pendidikan Kita
Dimuat dalam Harian Umum Priangan, 10 Februari 2010
“Buru… buka facebook, add urang!” ungkapan tersebut sering saya dengar dari ‘harewos’ para siswa ketika memulai kelas praktikum TIK di lab komputer tiap minggunya. Meski mencoba melarang, tapi ternyata sulit untuk membendung keinginan mereka untuk membuka situs jejaring sosial tersebut, biarlah.. yang penting mereka menggunakannya dengan wajar bukan?.
Pada dasarnya bukan hal yang perlu ditakutkan jika siswa sudah mulai keranjingan dengan sebuah teknologi terkini semisal facebook, karena ini merupakan suatu konsekuensi yang harus kita terima dari perkembangan teknologi, seperti ungkapan dari Dr. Wawan Setiawan, M.Kom (Pembantu Dekan II FPMIPA UPI) “Teknologi itu adalah konsekuensi yang harus diterima oleh semua orang, teknologi bukan lagi sebagai pilihan!”. Artinya kehadiran teknologi tidak bisa ditolak oleh siapapun, karena perkembangannya sungguh sangat kuat dan cepat mempengaruhi segala aspek kehidupan. Maka, jika kita menempatkannya sebagai sebuah pilihan (menggunakan atau tidak menggunakan), kita justru akan tergerus oleh pilihan kita sendiri.
Seperti kita ketahui bersama, facebook merupakan situs jejaring sosial terpopuler di dunia saat ini, bahkan di Indonesia situs ini merupakan situs paling banyak dikunjungi dan satu-satunya yang mampu mengalahkan google yang selama ini selalu memimpin (sumber: Alexa.Com). Hal tersebut mungkin disebabkan oleh banyak faktor pendorong seperti kelengkapan fitur yang dimilikinya dan kesederhanaan antarmuka/interface situs yang mudah digunakan oleh pengguna awam sekalipun.
Di wilayah Priangan Timur, meski saya belum mendapatkan angka persis tentang jumlah pengguna facebook, tetapi saya cukup yakin jika di wilayah Priatim pengguna facebook tidak kalah banyaknya, terbukti dengan ramainya berbagai group dan page yang memiliki kata kunci “Tasikmalaya”, “Garut”, “Ciamis”, dan sebagainya. Dari segi umur, kebanyakan yang bergabung dalam group-group tersebut adalah usia-usia remaja.
Dalam dunia pendidikan, semestinya fenomena “facebook booming” ini bisa menjadi suatu peluang yang dapat dimanfaatkan oleh para penggerak roda pendidikan utamanya guru, kenapa? Karena apabila kita sebagai guru jeli memanfaatkan media ini, selain dapat digunakan untuk pelengkap pembelajaran di kelas juga dapat pula digunakan untuk hal-hal lain, seperti pengawasan pergaulan siswa di luar lingkungan sekolah dan kelas. Namun masalahnya, saat ini sudah berapa banyak guru yang sadar akan hal ini?
Pada dasarnya siswa dalam usia remaja dengan hadirnya media facebook menjadi lebih ekspresif, dengan bebas membuat status, upload foto dan berbagi catatan membuat mereka merasa “semakin ada”. Remaja selalu terpacu untuk melakukan hal-hal yang baru bagi mereka, dengan hadirnya facebook remaja cenderung penasaran untuk melihat profil orang-orang yang dikenalinya, melihat foto-foto dan mengomentari status, dan kadang tidak segan untuk wall-to-wall dengan gurunya, padahal di lapangan mereka enggan untuk berbicara langsung dengan gurunya tersebut. Guru yang cerdas dapat memanfaatkan hal ini, secara tidak langsung apabila guru mau melakukannya, guru bisa ‘menyentuh’ siswa lebih personal, dan apabila sudah berhasil saya yakin guru dapat menjadi pengarah sekaligus pengawas yang baik bagi para siswa, di sekolah maupun di luar sekolah.
Dalam pengamatan saya, fitur-fitur facebook banyak yang dapat dioptimalkan oleh para pendidik, seperti fitur foto tagging misalnya, guru yang bisa merangkul siswanya melalui facebook bisa saja melakukan penjelasan materi pelajaran dengan sebuah foto. Siswa-siswa di-‘tag’ oleh gurunya dan kemudian diminta untuk berkomentar terhadap foto tersebut, dan guru akan bisa mengambil peranan sebagai fasilitator yang baik di sana. Contoh lain, di facebook ternyata telah ada sebuah aplikasi buatan orang Indonesia bernama “Teman Belajar” (http://apps.facebook.com/temanbelajar/) yang bisa saja dimanfaatkan oleh guru-guru dan siswa-siswa untuk melakukan semacam pembelajaran jarak jauh yang bersifat kolaboratif.
Guru Jangan Mau Gaptek!
“Ah.. Bapak mah teu gaul..!!”,ungkapan itu mungkin pernah kita dengar dari para siswa kita, tentu kita tidak bisa marah karena memang iya, rata-rata guru kita belum “gaul” menurut pandangan mereka para siswa. Salah satu ukuran “gaul” para siswa adalah menyangkut penggunaan teknologi, termasuk di dalamnya facebook. Saya mengajak para guru untuk tidak gaptek (gagap teknologi), karena sekali lagi, bahwa teknologi itu merupakan suatu konsekuensi perkembangan zaman.
Mungkin beberapa saran di bawah ini bisa dilaksanakan oleh kita para guru yang berkeinginan untuk “melek teknologi” :
- Mulailah memiliki akun facebook, jika kesulitan bertanya ke siswa bukan pilihan yang buruk bukan?
- Bertahaplah menambahkan jaringan khususnya dengan para siswa kita sendiri, add satu persatu atau minta mereka untuk meng-add kita
- Kenali dan manfaatkan fitur-fitur facebook dengan cerdas, yang penting dapat menyentuh siswa-siswa kita dengan lebih personal
- Aktiflah di group atau aplikasi yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan pembelajaran (elearning).
Kesimpulan
Di tengah isu profesionalisme guru saat ini, dimana guru dituntut untuk mampu memberikan pembinaan optimal terhadap siswa-siswanya, tentunya salah satu indikatornya adalah hubungan antara guru dan siswa yang harmonis, guru sebagai pamong. Kehadiran facebook sebagai sebuah konsekuensi perkembangan teknologi sepatutnya dapat menjadi suatu momentum berharga bagi para guru profesional untuk meningkatkan kualitasnya, dengan merangkul siswa lebih personal.
Mari menjadi guru profesional!
Penulis :
Asep Sufyan Tsauri
Guru TIK MTs. Mu’awanah Cisayong & Staff Lab Pendidikan TIK, Ilmu Komputer UPI Bandung
Hormat Saya,





saya setuju dgn tulisan bapak. Teknologi sepatutnya jangan dihindari atau ditakuti, apalagi melarang anak didik kita untuk menjauhi teknologi. Kalau bisa guru mengarahkan n mengantisipasi siswa agar tdk terpengaruh dengan dampak negatif dari teknologi tersebut.
Saya juga mengalami kejadian yang sama dengan bapak, kalau siswa masuk ke lab. kata facebook sering terdengar. Tapi dengan kecanduan siswa terhadap facebook tsb saya malah memanfaatkanx. Saya mengijinkan Siswa membuka face jika tugas yang diberikan telah selesai. Dan hasilnya adalah siswa berlomba-lomba menyelesaikan tugas mereka. Jadi facebook dapat meningkatkan motivasi belajar siswa (perlu diadakan penelitian he…he…)
Malahan dengan facebook kita dapat merangkum, memotivasi dan mengawasi kegiatan mereka. Dengan facebook jg siswa dapat mengeluarkan uneg-unegx (tuk terhindar dr stress), belajar menulis n siapa tau dapat mengembangkanx menjadi sebua tulisan. Masih banyak sebenarnya manfaat facebook buat anak didik kita…
LIke this:)
keren! keep writting
terima kasih, haduh lagi menurun nih semangat ngeblog-nya.. hiks..
iya bener yg namanya tehnology ada segi positif dan negatifnya..tergantung individu yang menggunakannya…
ngomong2 ada yg bs ngehack blog wordpres yg menyesatkan ga nich uda segala upaya untuk menghack blog ini tp tetep aza muncul,blog ini sangan menghina umat muslim yaitu beritamuslim.wordpres.com
Terima kasih sudah berkunjung..
Mengenai blog beritamuslim itu sudah sampai ke menkominfo, mudah2an bisa segera ditindaklanjuti ke pihak wordpress.com nya. soal hack rasanya sediikit sulit karena kita harus bisa masuk ke server wordpress.com nya itu sendiri.
mantep pak..saya juga pengen bisa nulis yang bagus gini…
jgn lupa berkunjung balik ya pak..
hohoho… siap menuju TKP!
mantap kang asep.. artikel ini udah cocok dipasang di koran Pikiran Rakyat nih..
apa udah ya???
makasih ndra, ahh dikau suka memuji.. kan seharusnya bukan koran PR, tapi kompas..
mantap
thanks
visit : akhmad06.student.ipb.ac.id
aku rasa sah sah saja, asal kita bisa memenage dengan baik dan sosok guru bisa mengarahkan agar teknologi itu jangan sampai disalah gunakann, atau memberi kesempatan kepada orang yang gak bertanggung jawab untuk menyalah gunaka data kia
Salam Kenal dariku, nice artikel
Sekalian mau bilang Met Puasa bagi yang puasa. Met sejahtera bagi yang gak njalanin. Semoga selamat & damai dimuka Bumi. Amin
kang, tertarik buat neh buat artikle pendidikan…
Selain penggunan media sosial sebagai "tools" dalam dunia pendidikan, kita juga harus menyadari bahwa sistem pendidikan yang kita pakai sekarang ini (dan dikebanyakan negara lain di dunia) masih mengacu pada sistem pendidikan era industrialisasi (abad 19 & 20). Kurikulum sistem pendidikan industrialisasi lahir dari kebutuhan dan tuntutan ekonomi pada saat itu dan sudah tidak tepat lagi diterapkan dalam era informasi (internet economy).
Facebook hanyalah sebuah aplikasi, yang kita butuhkan adalah broadband sebagai infrastruktur informasi dan ekonomi di era informasi ini. Broadband kecepatan tinggi yang tersebar dan harga terjangkau akan merombak dan merubah pendidikan dan ekonomi suatu negara dan bangsa. Broadband akan melahirkan banyak inovasi maupun terobosan baru dalam segala aspek kehidupan manusia–e-health, e-education, e-government, dan masih banyak lagi kemudahan lain dalam hidup yang dapat kita nikmati. Anggap saja Facebook adalah "mobil" dan broadband adalah "jalan tol".
Sebelumnya terima kasih sudah mau berkunjung Pak/Mas/Om King tirto
point pertama saya sepakat!, diakui atau tidak bidang pendidikan selalu 'terlambat' dalam hal adaptasi terhadap perkembangan, terlalu banyak faktor yg menyebabkannya. Tapi, saya tetap optimis tahap ini akan dilalui oleh pendidikan kita
point ke-dua menurut saya ini seperti fenomena 'ayam dan telur', ayam dulu apa telur dulu?, mobil dulu atau jalan tol dulu?
, tapi saya tidak mau berpolemik, intinya semua sektor harus didorong untuk terus dioptimalkan. (baca http://tsauri28.myhaley.com/blog/mencari-bentuk-i…)
Kalau menurut saya, hari ini justru dengan infrastruktur yg masih terbatas, konten lokal kita sedang masa krisis!, akses ada, tapi sedikit sekali alternatif yg bisa diakses anak2, makanya saya memberi masukan tulisan ini
setuju bung..terlepas dari pro dan kontra tentang “Facebook Fever”..bagi saya pribadi, kata “jeli melihat peluang” bagi seorang guru wajib hukumnya..tanpa bermaksud mengkonotasikan kata tersebut layaknya seorang bisnisman,ketajaman visi dan intuisi sangatlah diperlukan..itu kalo bangsa ini gak mau dibilang “follower” alias ngikut aja tanpa bisa memanfaatkan peluang bagi terciptanya generasi penerus yang cerdas..”like this..”..hhehehhehehehehe…
nice post….
visit me ok…
fmipa unand
mantap kok pak..
Mantabb … Seorang guru yang tidak menutup diri terhadap perkembangan teknologi merupakan salah satu ciri-2 guru profesional. Tentunya dengan adanya kemajuan IT akan dapat membantu dalam proses pembelajaran …
Setuju …. Kemajuan teknologi bukanlah hal yang perlu ditakutkan oleh pendidik. Justru dengan adanya kemajuan IT akan membantu guru dalam proses pembelajaran. Dan salah satu ciri-2 guru profesional tentunya kalau terbuka dengan perkembangan IPTEK …
betu Gan…., ada istilah dalam sebuah kalimat begini " WAKTU TERUS BERJALAN…., JAMAN-PUN TERUS BERUBAH. KITA MAU MENGIKUTI PERUBAHAN JAMAN ATAU TIDAK, YANG PASTI JAMAN TIDAK AKAN MENUNGGU KITA BERUBAH TERLEBIH DAHULU BARU SI JAMAN BERUBAH " jika kita sepakat dengan hal ini, siappun diri kita ya mesti siap dengan segala perubahan dan perkembangan jaman…bukan begitu gan….????
ane tgu kedatangn-nya di lapak ane ya agan-agan semua….salam kenal dan salam sukses u kita semua…..
wahono
Hehehe…Iya…, sekarang semua mesti mengikuti perkembangan teknologi…Miris aja liat orang beli gadget canggih tapi cuman buat nampang…