<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Sufyan Tsauri's Blog</title>
	<atom:link href="http://tsauri28.myhaley.com/blog/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tsauri28.myhaley.com/blog</link>
	<description>Let's Blogging !!!</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 09:31:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Proyek: Mengembangkan Alat Peraga dengan Pendekatan Berpikir Desain (1)</title>
		<link>http://tsauri28.myhaley.com/blog/proyek-mengembangkan-alat-peraga-dengan-pendekatan-berpikir-desain-1/</link>
		<comments>http://tsauri28.myhaley.com/blog/proyek-mengembangkan-alat-peraga-dengan-pendekatan-berpikir-desain-1/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Feb 2012 09:31:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tsauri28</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tsauri28.myhaley.com/blog/?p=1063</guid>
		<description><![CDATA[Sejak Januari lalu 5 orang guru SD dari berbagai daerah di bandung secara rutin berkumpul seminggu sekali membentuk fokus grup guna berdiskusi menciptakan alat peraga yang akan mereka ikut sertakan dalam kompetisi. Untuk memuluskannya kami coba menggunakan alat bantu bernama “design thinking” atau berpikir desain. Apa itu Berpikir desain (design thinking)? merujuk pengertian dari situs [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejak Januari lalu 5 orang guru SD dari berbagai daerah di bandung secara rutin berkumpul seminggu sekali membentuk fokus grup guna berdiskusi menciptakan alat peraga yang akan mereka ikut sertakan dalam kompetisi. Untuk memuluskannya kami coba menggunakan alat bantu bernama “design thinking” atau berpikir desain.<span id="more-1063"></span></p>
<div id="_mcePaste">Apa itu Berpikir desain (<em>design thinking</em>)? merujuk pengertian dari situs designthinkingforeducators.com :</div>
<blockquote>
<div id="_mcePaste"><strong>Design Thinking is a mindset.</strong></div>
<div id="_mcePaste">Design Thinking is the confidence that everyone can be part of creating a more desirable future, and a process to take action when faced with a difficult challenge. That kind of optimism is well needed in education.</div>
<div id="_mcePaste">Classrooms and schools across the world are facing design challenges every single day, from teacher feedback systems to daily schedules. Wherever they fall on the spectrum of scale—the challenges educators are confronted with are real, complex, and varied. And as such, they require new perspectives, new tools, and new approaches. Design Thinking is one of them.</div>
</blockquote>
<div id="_mcePaste"><strong>Berpikir desain adalah pola pikir.</strong></div>
<div>Berpikir desain adalah kepercayaan bahwa setiap orang bisa menjadi bagian untuk menciptakan masa depan yang lebih diinginkan, dan proses untuk mengambil tindakan ketika menghadapi sebuah tantangan yang sulit. Semacam optimisme ini juga diperlukan dalam pendidikan.</div>
<div id="_mcePaste">Ruang kelas dan sekolah di seluruh dunia menghadapi tantangan desain setiap hari, dari sistem umpan balik kepada guru jadwal harian. Di mana pun mereka jatuh pada spektrum skala-tantangan pendidik dihadapkan adalah nyata, kompleks, dan bervariasi. Dan dengan demikian, mereka membutuhkan perspektif baru, alat baru, dan pendekatan baru. Berpikir desain adalah salah satunya.</div>
<div>—</div>
<div id="_mcePaste">Berpikir desain adalah pendekatan yang dapat digunakan oleh siapapun untuk ikut andil dalam menciptakan berbagai hal (produk, layanan, metode, dsb) tidak terkecuali bagi para pendidik untuk berinovasi menciptakan pembelajaran yang lebih baik. Melalui pendekatan ini diyakini inovasi yang bersifat<em><strong> bottom up</strong></em> dapat terjadi, yaitu inovasi yang dimunculkan atas kebutuhan di kelas-kelas yang setiap hari guru hadapi. Bukan inovasi yang muncul <strong><em>‘top down</em></strong>‘ yang terkadang pada kenyataannya tidak selalu menjadi jawaban atas permasalahan yang terjadi di kelas.</div>
<div>Dalam proyek kali ini, Pojok Pendidikan menggunakan pendekatan berpikir desain untuk menciptakan sebuah alat peraga (masing-masing guru) yang dapat digunakan di kelas oleh guru-guru yang bersangkutan, langkah-langkah yang dilakukan untuk sementara masih mengadopsi langkah-langkah yang diberikan Ideo, yaitu :</div>
<div id="_mcePaste">
<ol>
<li>Discovery</li>
<li>Interpretation</li>
<li>Ideation</li>
<li>Experimentation</li>
<li>Evolution</li>
</ol>
</div>
<div><a href="http://pojokpendidikan.com/wp-content/uploads/2012/02/designthinksteps.png" rel="shadowbox[post-1063];player=img;"><img title="designthinksteps" src="http://pojokpendidikan.com/wp-content/uploads/2012/02/designthinksteps.png" alt="" width="609" height="319" /></a></div>
<div>Hingga pekan ini, kami telah melakukan hingga tahap<strong><em> ideation</em></strong>, dimana para guru telah mendapatkan ide-ide baru yang kemudian digodok bersama dalam mengembangkan alat peraga yang akan diikut sertakan dalam kompetisi tersebut.</div>
<div><img title="Prototipe Alat Peraga 1" src="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/s720x720/396360_383364658356000_173567629335705_1530244_792486632_n.jpg" alt="" width="576" height="432" /></div>
<div>Harapannya proyek pertama ini dapat menjadi framework atas proyek-proyek kreativitas selanjutnya. Salam #gurukreatif ! <img src="http://pojokpendidikan.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif" alt=":)" /></div>
<p style="text-align: right;">Hormat Saya,</p>
<p style="text-align: right;"><img class="alignright" src="http://www.mylivesignature.com/signatures/85713/tsauri28/e820e545a65f0ad978fa2050defbf27d.png" alt="signature" /></p>
<div id="clear"></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tsauri28.myhaley.com/blog/proyek-mengembangkan-alat-peraga-dengan-pendekatan-berpikir-desain-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jamboreee! Board Game</title>
		<link>http://tsauri28.myhaley.com/blog/jamboreee-board-game/</link>
		<comments>http://tsauri28.myhaley.com/blog/jamboreee-board-game/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Dec 2011 07:40:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tsauri28</dc:creator>
				<category><![CDATA[elearning]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tsauri28.myhaley.com/blog/?p=1055</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Board Game&#8221;, satu istilah yang mulai akrab di telinga saya sejak setahun lalu ketika berkesempatan banyak berdiskusi dengan Mas Eko Nugroho dari Kummara. Banyak hal yang secara pribadi saya dapat dari diskusi-diskusi panjang itu, yang pada intinya saya sangat merasa tertantang untuk selain memainkan juga mulai membuatnya!. Di sisi lain, aktifitas di Pojok Pendidikan pun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright" title="Jamboreee masih versi coba-coba :)" src="http://a4.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/391089_2711436275289_1538363183_2786043_694005916_n.jpg" alt="" width="297" height="285" />&#8220;Board Game&#8221;, satu istilah yang mulai akrab di telinga saya sejak setahun lalu ketika berkesempatan banyak berdiskusi dengan Mas <a href="http://twitter.com/eNugroho" target="_blank">Eko Nugroho</a> dari <a href="http://kummara.com" target="_blank">Kummara</a>. Banyak hal yang secara pribadi saya dapat dari diskusi-diskusi panjang itu, yang pada intinya saya sangat merasa tertantang untuk selain memainkan juga mulai membuatnya!.</p>
<p>Di sisi lain, aktifitas di Pojok Pendidikan pun banyak membentuk saya untuk mengetahui lebih mendalam tentang kebutuhan inovasi dalam kegiatan pembelajaran di kelas, dan saya rasa board game bisa menjadi salah satu solusinya &#8212; anak-anak dan remaja itu suka bermain game!</p>
<p>Singkat cerita, teman-teman inisiator Pojok Pendidikan seperti <a href="http://twitter.com/dausgonia" target="_blank">Daus</a> dan <a href="http://twitter.com/ikhsanperyoga" target="_blank">Ikhsan Peryoga</a> pun menjadi sangat &#8216;keranjingan&#8217; dengan virus ini dan mulai mencoba mendesain beberapa board game yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran, akhirnya secara resmi Pojok Pendidikan memiliki 2 (dua) board game buatan sendiri: &#8216;Hadiah Susu&#8217; demikian kami menyebutnya untuk board game untuk pembelajaran fisika dan &#8216;Bebentengan&#8217; board game yang mengangkat permainan tradisional Jawa Barat yang sekaligus dapat dimanfaatkan bagi pembelajaran Bahasa Sunda.</p>
<p>Ketika event &#8216;Indonesia Bermain 2011&#8242; lalu kami berkesempatan untuk<span id="more-1055"></span> memamerkan kedua board game tersebut, dan luar biasanya kami tidak menyangka bahwa masyarakat (pengunjung) sangat mengapresiasi kedua board game tersebut, termasuk Walikota Bandung Bapak Dada Rosada dan Wakil Gubernur Jawa Barat Bapak Dede Yusuf yang secara langsung datang dan mencoba kedua board game tersebut. Yang menarik ketika didatangi oleh Pak Wagub, selain mencoba board game &#8216;Bebentengan&#8217; kami pun ditantang oleh beliau untuk membuat satu board game yang bertemakan Pramuka!, nah lhoo..</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 614px"><img title="Dede Yusuf Melihat Board Game Bebentengan" src="http://a2.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/291826_2552111850563_1486890320_2888235_31814474_n.jpg" alt="Dede Yusuf Melihat Board Game Bebentengan" width="604" height="453" /><p class="wp-caption-text">Dede Yusuf Melihat Board Game Bebentengan</p></div>
<p>Pramuka, ya Pramuka istilah yang sangat dekat dengan pengalaman berorganisasi saya sejak SD hingga SMA lalu, seakan mengingatkan kembali berbagai aktifitas yang pernah dilakukan, sehingga tantangan dari Bapak Dede Yusuf itu akhirnya saya terima dengan penuh semangat.</p>
<p>Pendek cerita, saya mencoba mengingat kembali aktifitas, istilah dan segala hal yang mungkin dapat diangkat dalam board game yang akan saya buat tersebut, dan setelah menemukan semua itu akhirnya saya memutuskan untuk membuat game Pramuka tingkat Penggalang (umur SD kelas 4 &#8211; SMP kelas 3).</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><img title="Jamboreee prototype 1" src="http://a2.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/377914_2617417444877_1538363183_2749299_233337560_n.jpg" alt="Jamboreee prototype 1" width="600" height="450" /><p class="wp-caption-text">Jamboreee prototype pertama</p></div>
<p>Ide telah didapat, saatnya memikirkan aturan main (game play) dari ide tersebut, akhirnya saya mencoba mengembangkan itu melalui metode prototyping, alhamdulillahnya dapat dengan mudah dilalui, tentu dengan berbagai diskusi dengan teman-teman di <a href="http://pojokpendidikan.com" target="_blank">Pojok Pendidikan</a>.</p>
<p>Terakhir, setelah melalui 3 (tiga) kali siklus &#8216;design-prototype-review&#8217; saya putuskan desain akhir dari game pramuka tersebut, saya namai game tersebut &#8220;Jamboreee!&#8217;. Berikut wujud dari board game pertama saya, meskipun grafik secara lebih sempurna sedang dibuat oleh rekan saya Ikhsan Peryoga yang memang ahlinya di bidang ini <img src='http://tsauri28.myhaley.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 514px"><img class=" " title="Jamboreee Prototype 2" src="http://a5.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/s720x720/388673_2682029460137_1538363183_2775332_2017675417_n.jpg" alt="Jamboreee Prototype 2" width="504" height="378" /><p class="wp-caption-text">Jamboreee Prototype Kedua</p></div>
<p>&nbsp;</p>
<div id="attachment_1058" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><img class="size-full wp-image-1058" title="Board Game Jamboreee!" src="http://tsauri28.myhaley.com/blog/wp-content/uploads/2011/12/AfuOsxbCMAEpFR1.jpg" alt="" width="600" height="448" /><p class="wp-caption-text">Sumber Gambar: Daus Gonia</p></div>
<div id="attachment_1059" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://tsauri28.myhaley.com/blog/wp-content/uploads/2011/12/AfuQrTfCIAAQNbd.jpg" rel="shadowbox[post-1055];player=img;"><img class="size-full wp-image-1059" title="Board Game Jamboreee! diperkenalkan ke Guru-Guru SD di Cileunyi" src="http://tsauri28.myhaley.com/blog/wp-content/uploads/2011/12/AfuQrTfCIAAQNbd.jpg" alt="" width="600" height="448" /></a><p class="wp-caption-text">Board Game Jamboreee! diperkenalkan ke Guru-Guru SD di Cileunyi</p></div>
<p>Catatan: Board Game ini nanti akan kami produksi massal setelah desain grafik finalnya rilis <img src='http://tsauri28.myhaley.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: right;">Hormat Saya,</p>
<p style="text-align: right;"><img class="alignright" src="http://www.mylivesignature.com/signatures/85713/tsauri28/e820e545a65f0ad978fa2050defbf27d.png" alt="signature" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tsauri28.myhaley.com/blog/jamboreee-board-game/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Generasi Digital: Anak-Anak Tak Perlu Diajari Teknologi</title>
		<link>http://tsauri28.myhaley.com/blog/generasi-digital-anak-anak-tak-perlu-diajari-teknologi/</link>
		<comments>http://tsauri28.myhaley.com/blog/generasi-digital-anak-anak-tak-perlu-diajari-teknologi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Dec 2011 10:45:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tsauri28</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tsauri28.myhaley.com/blog/?p=1038</guid>
		<description><![CDATA[Pernah dengar istilah &#8220;digital immigrant&#8221; dan &#8220;digital native&#8221; ? kedua terminologi tersebut lahir untuk menunjukan perbedaan antara generasi anak-anak dan remaja (digital native) dibandingkan dengan generasi dewasa (digital immigrant) dalam hal kemampuan mengadaptasi teknologi secara alamiah. Sebuah riset yang dilakukan oleh pemikir bidang pendidikan India: Sugata Mitra sangat menarik perhatian saya, bahwa anak-anak pedalaman India [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-full wp-image-1041" title="sugata mitra project" src="http://tsauri28.myhaley.com/blog/wp-content/uploads/2011/12/sugatamitra.jpg" alt="" width="500" height="297" /></p>
<p>Pernah dengar istilah <em><strong>&#8220;digital immigrant&#8221;</strong></em> dan <em><strong>&#8220;digital native&#8221;</strong></em> ? kedua terminologi tersebut lahir untuk menunjukan perbedaan antara generasi anak-anak dan remaja <em><strong>(digital native)</strong></em> dibandingkan dengan generasi dewasa<em><strong> (digital immigrant)</strong></em> dalam hal kemampuan mengadaptasi teknologi secara alamiah.</p>
<p>Sebuah riset yang dilakukan oleh pemikir bidang pendidikan India: <strong>Sugata Mitra</strong> sangat menarik perhatian saya, bahwa anak-anak pedalaman India yang dalam hal ini buta aksara hanya membutuhkan waktu yang relatif sebentar untuk menguasai komputer. Tidak percaya?, mari lihat video ceramah beliau di forum TEDx berikut :</p>
<p><object width="526" height="374" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="wmode" value="transparent" /><param name="bgColor" value="#ffffff" /><param name="flashvars" value="vu=http://video.ted.com/talk/stream/2010G/Blank/SugataMitra_2010G-320k.mp4&amp;su=http://images.ted.com/images/ted/tedindex/embed-posters/SugataMitra-2010G.embed_thumbnail.jpg&amp;vw=512&amp;vh=288&amp;ap=0&amp;ti=949&amp;lang=id&amp;introDuration=15330&amp;adDuration=4000&amp;postAdDuration=830&amp;adKeys=talk=sugata_mitra_the_child_driven_education;year=2010;theme=rethinking_poverty;theme=unconventional_explanations;theme=how_the_mind_works;event=TEDGlobal+2010;tag=Technology;tag=children;tag=development;tag=education;tag=third+world;tag=web;&amp;preAdTag=tconf.ted/embed;tile=1;sz=512x288;" /><param name="src" value="http://video.ted.com/assets/player/swf/EmbedPlayer.swf" /><param name="pluginspace" value="http://www.macromedia.com/go/getflashplayer" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><embed width="526" height="374" type="application/x-shockwave-flash" src="http://video.ted.com/assets/player/swf/EmbedPlayer.swf" allowFullScreen="true" allowScriptAccess="always" wmode="transparent" bgColor="#ffffff" flashvars="vu=http://video.ted.com/talk/stream/2010G/Blank/SugataMitra_2010G-320k.mp4&amp;su=http://images.ted.com/images/ted/tedindex/embed-posters/SugataMitra-2010G.embed_thumbnail.jpg&amp;vw=512&amp;vh=288&amp;ap=0&amp;ti=949&amp;lang=id&amp;introDuration=15330&amp;adDuration=4000&amp;postAdDuration=830&amp;adKeys=talk=sugata_mitra_the_child_driven_education;year=2010;theme=rethinking_poverty;theme=unconventional_explanations;theme=how_the_mind_works;event=TEDGlobal+2010;tag=Technology;tag=children;tag=development;tag=education;tag=third+world;tag=web;&amp;preAdTag=tconf.ted/embed;tile=1;sz=512x288;" pluginspace="http://www.macromedia.com/go/getflashplayer" allowfullscreen="true" allowscriptaccess="always" /></object></p>
<p>Saya salinkan juga transkip ceramah beliau sebagai berikut :</p>
<blockquote><p>Pernyataan di atas itu sepertinya sangat jelas Saya memulainya dengan pernyataan itu 12 tahun yang lalu dan saya memulainya dalam konteks negara berkembang tapi, anda yang sekarang ada disini, berasal dari berbagai penjuru dunia Jadi, jika anda melihat peta negara anda, saya pikir anda akan menyadari bahwa pada tiap negara di bumi ini,anda dapat membuat lingkaran-lingkaran kecil dan berkata, &#8221;Inilah tempat-tempat dimana tidak terdapat guru-guru yang bagus&#8221; Di atas itu semua,dari tempat-tempat itulah berbagai masalah muncul. Jadi, kita memiliki masalah yang ironis.Guru-guru yang bagus tidak mau mengajar di tempat-tempat dimana keberadaan mereka sangat dibutuhkan.</p>
<p>Saya memulainya pada tahun 1999 untuk mencoba memecahkan masalah tersebut dengan sebuah eksperimen yang sangat sederhana di New Delhi. Yakni, saya hanya menempatkan sebuah komputer pada dinding sebuah daerah kumuh di New Delhi. Anak-anak disitu tidak bersekolah. Mereka tidak mengerti sedikit pun Bahasa Inggris. Mereka tidak pernah melihat komputer sebelumnya, dan mereka tidak tahu internet. Saya menyambungkan komputer tersebut dengan internet berkecepatan tinggi &#8212; dipasang kira-kira setinggi 1 meter dari tanah &#8211; dan saya menyalakannya dan meninggalkannya disitu.Setelah itu, kami menemukan beberapa hal yang menarik yang akan anda lihat. Saya melakukan eksperimen seperti ini lagi di berbagai daerah di India dan kemudian hingga ke belahan dunia laindan menemukan bahwa anak-anak akan belajar melakukan apa yang ingin mereka pelajari untuk dilakukan.</p>
<p>Ini adalah eksperimen pertama saya &#8211; anak lelaki berusia delapan tahun, yang di sebelah kanan itusedang mengajarkan siswanya, seorang anak perempuan berusia enam tahun, dia sedang mengajarkan bagaimana melakukan browsing.Anak lelaki ini tinggal di India bagian tengah &#8211;yakni di Rajashtan Village, dimana anak-anak belajar merekam musik mereka sendiri dan memainkannya berulang-ulang satu sama lain,dan dalam proses ini, mereka mampu menghibur diri mereka sendiri. Mereka melakukan semua itu dalam waktu empat jam sejak mereka melihat komputer untuk pertama kalinya. Di sebuah desa lain di selatan India, anak-anak ini memasang sebuah kamera video dan mencoba mengambil photo seekor lebah. Mereka mengunduhnya dari Disney.com atau situs-situs lainnya, 14 hari setelah komputer tersebut dipasang di kampung mereka. Jadi, setelah eksperimen tersebut, kami menyimpulkan bahwa kelompok anak-anak dapat belajar menggunakan komputer dan internet dengan sendirinya, siapapun atau dimanapun mereka berada</p>
<p>Saat itu, saya menjadi semakin ambisius dan kemudian ingin mencari tahu apalagi yang dapat anak-anak lakukan dengan komputer. Kami memulai sebuah eksperimen di Hyderabad, India,dimana saya memberikan komputer pada sekelompok anak &#8211; mereka berbicara Bahasa Inggris dengan aksen Telugu yang sangat kental.Saya memberikan mereka sebuah komputer yang memiliki kemampuan untuk memunculkan teks dari ucapan yang dapat anda peroleh dengan gratis di Windows, dan saya meminta mereka berbicara pada komputer itu. Lalu, ketika mereka berbicara pada komputer tersebut, komputer itu akan otomatis mengetik kata yang mereka ucapkan namun melantur dan mereka berkata, &#8220;Komputer itu tidak mengerti apapun yang kami ucapkan.&#8221; Lalu saya katakan, &#8220;Yah, saya akan meninggalkan komputer ini selama dua bulan disini. Belajarlah bagaimana caranya komputer itumemahami ucapan kalian.&#8221; Anak-anak itu berkata, &#8220;Bagaimana kami melakukannya.&#8221; Dan saya bilang, &#8221;Sebenarnya, saya juga tidak tahu bagaimana caranya.&#8221; (Ketawa) Lalu saya pergi(Ketawa) Dua bulan kemudian&#8211; dan eksperimen ini dimuat di jurnal &#8220;Information Technology for International Development&#8221; &#8211; aksen anak-anak tersebut telah berubah dan mereka dengan sangat luar biasa mampu berbicara Bhs. Inggris murni dengan aksen Inggris dimana saya melatih untuk menyelaraskan ucapan dengan teks pada komputer. Dengan kata lain, mereka kini berbicara mirip seperti James Tooley. (Ketawa) Jadi, mereka mampu melakukan pembelajaran itu dengan sendirinya. Setelah itu, saya mulai melakukan eksperimen dengan berbagai hal lain dimana mereka bisa belajar dengan mandiri.</p>
<p>Saya mendapat panggilan telepon dari Kolombo,dari almarhum Arthur C. Clarke, yang berkata, &#8220;Saya ingin tahu apa yang terjadi.&#8221; Karena dia tidak bisa bepergian, maka saya yang menghampirinya kesana Dia menyampaikan dua hal yang menarik,&#8221;Kalau ada guru yang bisa digantikan perannya oleh mesin, maka gantikanlah.&#8221; (Ketawa) Yang kedua, dia berkata bahwa, &#8221;Jika anak-anak memiliki minat, maka pendidikan akan berjalan.&#8221;Dan saya melakukan hal tersebut langsung di lapangan, jadi setiap kali saya melakukannya dan saya mengingat dia.</p>
<p>(Video) Arthur C. Clarke: &#8220;Dan mesin-mesin itu benar-benar mampu menolong orang, sebab anak-anak dapat dengan cepat belajar untuk menavigasi dan mencari berbagai hal yang menarik buat mereka. Dan jika kamu memiliki minat, maka kamu memiliki pendidikan.&#8221;</p>
<p>Saya kemudian melakukan eksperimen tersebut di Afrika Selatan. Anak lelaki ini berusia 15 tahun.</p>
<p>&#8220;&#8230;.. Saya bermain games &#8230;.. &#8230; seperti hewan-hewan, &#8230; .. dan mendengarkan musik&#8230;&#8221;</p>
<p>Saya bertanya, &#8220;Apakah kamu mengirim email?&#8221;Dia menjawab, &#8220;Ya, dan email-email itu mampu melewat samudera.&#8221; Dan ini di Kamboja, daerah pedesaan di Kamboja &#8211; sebuah permainan artimatika yang konyol, yang tak seorangpun anak mau memainkannya di kelas atau di rumah. Yah anda tahu, mereka mungkin akan melemparkan permainan itu pada anda. Dan berkata, &#8220;Permainan ini membosankan.&#8221; Namun jika anda membiarkan permainan tersebut di jalanan, dan setelah tidak ada orang dewasa disitu, maka mereka akan saling menunjukan satu sama lainkemampuan mereka dalam bermain games tersebut. Inilah yang mereka lakukan Sepertinya mereka sedang bermain perkalian. Dan di berbagai wilayah di India, setelah berjalan dua tahun, anak-anak mulai menggunakan Google untuk mengerjakan PR. Hasilnya, guru-guru melaporkan adanya peningkatan yang luar biasa pada Bahasa Inggris anak-anak itu &#8211; (Ketawa)peningkatan yang cepat dalam berbagai hal. Guru-guru berkata, &#8220;Anak-anak telah menjadi pemikir yang hebat, dan sebagainya.&#8221; (Ketawa) Dan memang seperti itu adanya. Maksud saya, jika banyak hal kita bisa temukan di Google, kenapa harus memasukan banyak hal itu ke kepala kita?Lalu, pada akhir empat tahun berikutnya, Saya menemukan bahwa anak-anak tersebut mampu melakukan navigasi internet guna mencapai tujuan pendidikan mereka sendiri.</p>
<p>Saat itu, saya mendapat bantuan dana yang sangat besar dari Universitas Newcastle yang ditujukan untuk membangun pendidikaan di India.Newcastle menghubungi saya. Saya bilang, &#8220;Saya akan melakukannya di Delhi.&#8221; Mereka menjawab, &#8220;Tidak mungkin kamu menggunakan jutaan Pounds uang Universitas hanya dengan berdiam di Delhi.&#8221; Lalu pada tahun 2006, Saya membeli jaket yang sangat tebal dan pergi ke NewcastleSaya ingin menguji limit dari sistem ini.Eksperimen pertama yang saya lakukan di luar Newcastle, yang sebenarnya saya lakukan di India.Saya menetapkan target baru yang sangat mustahil: dapatkah anak-anak Tamil berusia 12 tahun di sebuah kampung di selatan India belajar biotechnology dalam Bahasa Inggris dengan sendirinya? Dan saya akan menguji mereka. Dan nilai mereka, nol. Saya berikan mereka bahan pengajaran. Dan kembali saya menguji mereka.Hasilnya kembali, nol. Saya kembali dan berkata, &#8220;Yah, dalam hal tertentu, guru memang dibutuhkan.&#8221;</p>
<p>Saya memanggil 26 anak Mereka datang dan saya katakan ke mereka bahwa terdapat beberapa hal yang sangat sulit pada komputer ini. Saya tidak akan kaget jika kalian tidak memahami apapun.Semuanya dalam Bahasa Inggris, .. lalu saya pergi. (Ketawa) Saya tinggalkan mereka dengan komputer itu. Saya kembali dua bulan kemudiandan 26 anak itupun berbaris sambil membisu.Saya katakan, &#8220;Apakah kalian menemukan sesuatu dari komputer itu?&#8221; Mereka menjawab, &#8220;Ya, kami menemukannya.&#8221; &#8221;Apakah kalian memahaminya?&#8221;. &#8220;Tidak, tak satupun.&#8221; Lalu saya berkata, &#8221;Berapa lama kalian mempelajari komputer itu sebelum kalian memutuskan bahwa kalian tak mampu memahami apapun?&#8221; Mereka menjawab, &#8220;Kami memperhatikannya setiap hari.&#8221;Saya tanya lagi, &#8220;Selama dua bulan, kalian memperhatikan komputer itu dan tak memahami apapun?&#8221; Lalu seorang anak gadis berusia 12 tahun mengangkat tangan dan berkata, dengan serius, &#8221;Selain fakta bahwa replikasi molekul DNA yang tak sesuai dapat menyebabkan penyakit genetik, kami tak memahami apapun selain itu.&#8221;</p>
<p>(Ketawa)</p>
<p>(Tepuk tangan)</p>
<p>(Ketawa)</p>
<p>Butuh waktu tiga tahun bagi saya untuk menerbitkannya Eksperimen itu diterbitkan pada &#8220;British Journal of Educational Technology&#8221;. Salah seorang juri pada jurnal tersebut dan juga juri bagi makalah saya tersebut, berkata, &#8221;Terlalu menakjubkan untuk dapat dipercaya,&#8221; yang artinya sangat tidak baik. Salah seorang anak gadis mengajarkan dirinya sendiri untuk menjadi guru.Anak yang ini. Ingat, mereka tidak belajar Bahasa Inggris. Saya menyunting sedikit bagian akhirnya dan bertanya, &#8220;Apakah nueron itu?&#8221; dan dia berkata, &#8220;Neuron? Neuron?&#8221; Dan dia bertingkah seperti ini. Apapun ekspresinya, hal itu sangat tidak baik.</p>
<p>Nilai mereka meningkat dari Nol hingga 30 persen, angka yang sebenarnya mustahil mengingat kondisi pendidikan seperti itu. Tapi nilai 30 persen tetap tidak membuat mereka lulus. Dan saya melihat mereka memiliki seorang temanseorang gadis yang bekerja sebagai akuntan lokal, dan mereka sering bermain bola bersama.Saya tanyakan pada gadis itu, &#8220;Apakah kamu mau mengajarkan mereka biotekhnologi, cukup supaya mereka lulus saja?&#8221; Dia menjawab, &#8220;Bagaimana melakukannya? Saya tidak paham pelajaran itu.&#8221;Saya bilang, &#8220;Kamu cukup gunakan metode seorang nenek.&#8221; Dia bertanya, &#8220;Seperti apa itu?&#8221;Saya bilang, &#8220;Yang harus kamu lakukan hanyalahberdiri di belakang anak-anak itu dan puji mereka setiap saat. Katakan saja, &#8216;Wah, hebat. Bagus sekali. Apakah itu? Kamu bisa mengulanginya? Tunjukan lagi kepada saya seperti apa?&#8221;&#8216; Dan dia melakukan itu selama dua bulan. Dan nilai anak-anak pun meningkat jadi 50, nilai yang sama seperti yang diraih oleh anak-anak sekolah mewah di Delhi yang diajar oleh guru biotekhnologi terlatih.</p>
<p>Lalu saya kembali ke Newcastle, dengan hasil seperti itu, dan menyimpulkan bahwa ada sesuatu terjadi disini yang menjadi sangat serius. Dan setelah melakukan berbagai eksperimen di berbagai tempat terpencil, Saya tiba pada sebuah tempat paling terpencil yang pernah saya tahu.(Ketawa) Jaraknya sekitar 5.000 mil dari Delhiyakni kota kecil bernama Gateshead. Di Gateshead, saya mengambil 32 anak, dan mulai menjalankan metode eksperimen tersebut. Saya mengelompokkan mereka menjadi 4 siswa per kelompok Saya katakan, &#8220;Silahkan kalian buat kelompok masing-masing empat orang. Tiap kelompok dapat menggunakan satu komputer, bukan empat komputer.&#8221; Ingat, satu komputer seperti yang saya pasang di dinding daerah kumuh itu. &#8221;Kalian dapat bertukar kelompok. Kalian dapat berpindah ke kelompok lain jika kalian tidak suka kelompok kalian, dan sebagainya. Kalian boleh pergi ke kelompok lain, intip pekerjaan mereka, perhatikan apa yang mereka lakukan, lalu kembali ke kelompok kalian dan akui bahwa pekerjaan itu hasil kerja kelompok kalian.&#8221; Saya jelaskan pada mereka, bahwa banyak riset ilmiah dijalankan dengan metode ini.</p>
<p>(Ketawa)</p>
<p>(Tepuk tangan)</p>
<p>Anak-anak itu nampak senang sekali dan berkata,&#8221;Apa yang harus kami lakukan?&#8221; Saya berikan mereka pertanyaan GCSE (Soal ujian untuk anak usia 14-16 tahun di Inggris) Kelompok pertama, kelompok yang terbaik, mampu menjawab pertanyaan dalam waktu 20 menit. Dan kelompok terjelek mampu menjawab dalam waktu 45 menit.Mereka menggunakan semua media yang mereka tahu &#8211; newsgroup, Google, Wikipedia, &#8221;Ask Jeeves&#8221;, dan lain-lain. Guru mereka bertanya, &#8220;Apakah ini pembelajaran yang mendalam?&#8221; Saya jawab, &#8220;Ya mari kita coba.&#8221; Saya kembali lagi setelah dua bulan Saya berikan mereka ujian tulis &#8211; tanpa komputer, tanpa kerjasama satu sama lain, dsb.&#8221; Rata-rata skor mereka ketika mengerjakan tes dengan komputer dan berkelompok adalah 76 persen. Ketika saya melakukan eksperimen ini, ketika saya melakukan tes ini, setelah dua bulan, skor mereka tetap &#8230; 76 persen. Ada semacam penghafalan pada anak-anak tersebut, saya mencurigai demikian karena mereka saling berbicara satu sama lain. Seorang anak yang bekerja di depan sebuah komputertidak akan melakukan hafalan Saya menemukan hasil lanjutan yang hampir sulit untuk dipercaya,dimana skor mereka naik setiap waktu. Karena guru mereka berkata bahwa setelah sesi belajar selesai, anak-anak tetap menggunakan Google.</p>
<p>Disini, di Inggris, saya menelepon para nenek,setelah eksperimen Kuppam. Dan anda tahu,nenek-nenek di Inggris itu sangat penuh semangat 200 orang dari mereka kemudian mau jadi sukarelawan. (Ketawa) Perjanjiananya adalah bahwa mereka harus mencurahkan waktu satu jam duduk di rumah masing-masing sehari dalam sepekan. Dan mereka melakukannya, Dan selama dua tahun terakhir, lebih dari 600 pengajaranterjadi melalui Skype, menggunakan apa yang siswa saya sebut dengan &#8220;Granny Cloud&#8221; (Nenek yang mengajar) . Para &#8220;Granny Cloud&#8221; tersebut duduk di seberang sana. Saya dapat menyambungkan mereka ke sekolah manapun yang saya mau.</p>
<p>Guru: You can&#8217;t catch me (kamu tidak bisa menangkap saya). Katakan. You can&#8217;t catch me</p>
<p>Anak-anak: You can&#8217;t catch me</p>
<p>Guru: I&#8217;m the gingerbread man (saya adalah lelaki kue jahe).</p>
<p>Anak-anak: I&#8217;m the gingerbread man.</p>
<p>Guru: Bagus sekali&#8230;</p>
<p>Kembali ke Gateshead, seorang anak gadis berusia 10 tahun berbicara tentang inti agama Hindu selama 15 menit. Hal-hal tentang Hindu yang sebenarnya saya juga tidak paham. Dua anak ini menonton video-video di TEDTalk.Awalnya mereka ingin menjadi pemain sepakbola.Setelah menonton 8 video TEDTalks, dia ingin menjadi Leonardo da Vinci.</p>
<p>(Ketawa)</p>
<p>(Tepuk tangan)</p>
<p>Sangat sederhana.</p>
<p>Inilah yang saya bangun saat ini. Mereka menyebutnya SOLEs: Self Organized Learning Environments (Lingkungan Belajar yang Mandiri).Furniture ini dirancang supaya anak-anak dapat duduk di depan layar yang besar, dengan koneksi internet berkecepatan tinggi, namun mereka harus berkelompok. Jika mereka mau, mereka dapat menghubungi Granny Cloud. Ini adalah SOLE di Newcastle. Mediatornya dari India.</p>
<p>Seberapa jauh yang bisa kami capai? Saya akan bahan satu hal lagi sebelum saya menghentikan percakapan ini. Saya pergi ke Torino di bulan Mei.Saya meminta semua guru menjauhi siswa saya, sekelompok siswa berusia 10 tahun. Saya hanya berbicara dalam Bahasa Inggris, sementara mereka hanya bisa berbicara Bahasa Italia, artinya kami tidak bisa saling berkomunikasi. Saya memulai pelajaran dengan menuliskan sebuah pertanyaan dalam Bahasa Inggris di papan tulisAnak-anak itu melihatnya dan berkata, &#8220;Apakah itu?&#8221; Saya jawab, &#8220;Kerjakan saja.&#8221; Dan anak-anak tersebut mengetik pertanyaan itu di Google dan menerjemahkannya ke Bahasa Italia kembali ke Google dalam Bahasa Italia. 15 menit kemudian &#8230;Pertanyaannya adalah: Where is Calcutta? Untuk menjawab pertanyaan ini, mereka hanya butuh waktu 10 menit. Saya mencoba pertanyaan yang lebih sulit. Siapa Pitagoras dan apa yang dia temukan? Anak-anak itu terdiam sesaat, dan lalu berkata,&#8221;Anda salah menuliskan namanya.seharusnya Pitagora.&#8221; Lalu, dalam waktu 20 menit,gambar segitiga muncul di layar. Hal ini membuat bulu roma saya berdiri. Mereka adalah anak-anak berusia 10 tahun. Dalam waktu 30 menit, mereka mampu menemukan Teori Relatifitas. Lalu?</p>
<p>(Ketawa)</p>
<p>(Tepuk tangan)</p>
<p>Anda tahu apa yang sebenarnya terjadi? Saya pikir kita baru saja melewati sebuah sistem yang otonom. Sistem yang otonom adalah sistemdimana sebuah struktur muncul tanpa intervensi eksplisit dari luar. Sistem yang otonom juga selalu muncul dengan cara dimana sistem tersebut mulai melakukan banyak hal, yang sebenarnya tidak dirancang untuk menjadi seperti itu. Itu sebabnya kenapa anda berekasi seperti ini,karena hal itu tampak mustahil. Saya pikir kita bisa menebak sekarang. Pendidikan adalah sebuah sistem yang otonom, dimana pembelajaran merupakan sebuah fenomena yang muncul. Butuh waktu bertahun-tahun bagi saya untuk membuktikannya, melalui eksperimen, tapi saya akan mencobanya. Namun sementara ini, terdapat sebuah metode tersedia. Satu juta anak, kita butuh 100 juta mediator &#8211; ada lebih banyak lagi dari itu di planet ini &#8211; 10 juta SOLE, 180 miliar Dollar dalam waktu 10 tahun. Kita mampu merubah segala hal.</p>
<p>Terima kasih</p>
<p>(Tepuk tangan)</p></blockquote>
<p style="text-align: right;">Hormat Saya,</p>
<p style="text-align: right;"><img class="alignright" src="http://www.mylivesignature.com/signatures/85713/tsauri28/e820e545a65f0ad978fa2050defbf27d.png" alt="signature" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tsauri28.myhaley.com/blog/generasi-digital-anak-anak-tak-perlu-diajari-teknologi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Renungan Hari Guru Nasional: Didn&#8217;t You Have Bigger Dreams ?</title>
		<link>http://tsauri28.myhaley.com/blog/renungan-hari-guru-nasional-didnt-you-have-bigger-dreams/</link>
		<comments>http://tsauri28.myhaley.com/blog/renungan-hari-guru-nasional-didnt-you-have-bigger-dreams/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Nov 2011 06:37:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tsauri28</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tsauri28.myhaley.com/blog/?p=1048</guid>
		<description><![CDATA[Shubuh tadi ketika pertama melihat timeline twitter, twitt pertama yang muncul adalah twit dari seorang teman yang membagikan link video pendek dari youtube&#8230; jujur saya sempat termenung ketika melihat video tersebut. Berikut video yang saya maksud : &#160; &#160; Video tersebut menceritakan tentang seorang anak yang amat berterima kasih pada seorang guru yang dengan tanpa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Shubuh tadi ketika pertama melihat timeline twitter, twitt pertama yang muncul adalah twit dari seorang teman yang membagikan link video pendek dari youtube&#8230; jujur saya sempat termenung ketika melihat video tersebut. Berikut video yang saya maksud :</p>
<p>&nbsp;<br />
<iframe width="420" height="315" src="http://www.youtube.com/embed/l48FyAmQNOc" frameborder="0" allowfullscreen></iframe><br />
&nbsp;<br />
Video tersebut menceritakan tentang seorang anak yang amat berterima kasih pada seorang guru yang dengan tanpa pamrih memberikannya pendidikan, bimbingan, dan motivasi untuk terus maju di masa remajanya.</p>
<p>Semoga guru-guru di Indonesia hari ini masih tetap menjadi pelita harapan dalam kegelapan, masih menjadi pahlawan tanpa tanda jasa, tidak sekedar pekerjaan ataupun profesi yang terlalu sempit dimaknai dengan sejumlah rupiah.</p>
<p>Selamat Hari Guru Nasional 2011.</p>
<p style="text-align: right;">Hormat Saya,</p>
<p style="text-align: right;"><img class="alignright" src="http://www.mylivesignature.com/signatures/85713/tsauri28/e820e545a65f0ad978fa2050defbf27d.png" alt="signature" /></p>
<div id="clear"></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tsauri28.myhaley.com/blog/renungan-hari-guru-nasional-didnt-you-have-bigger-dreams/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Revolusi Pendidikan ala Sir Ken Robinson</title>
		<link>http://tsauri28.myhaley.com/blog/revolusi-pendidikan-ala-sir-ken-robinson/</link>
		<comments>http://tsauri28.myhaley.com/blog/revolusi-pendidikan-ala-sir-ken-robinson/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Nov 2011 10:36:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tsauri28</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tsauri28.myhaley.com/blog/?p=1033</guid>
		<description><![CDATA[Sir Ken Robinson merupakan satu tokoh lagi yang sedang saya kagumi, khususnya dalam hal pemikiran beliau tentang dunia pendidikan. Ide utamanya tentang kekhawatiran beliau (dan mungkin kita semua) akan dunia pendidikan yang hari ini seakan seperti makanan cepat saji (fast food) istilah yang menunjukan bahwa sistem pendidikan kita telah sesak dengan berbagai standarisasi, linearitas dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-full wp-image-1034" title="ken robinson" src="http://tsauri28.myhaley.com/blog/wp-content/uploads/2011/11/kenrobinson.jpg" alt="" width="450" height="316" /></p>
<p>Sir Ken Robinson merupakan satu tokoh lagi yang sedang saya kagumi, khususnya dalam hal pemikiran beliau tentang dunia pendidikan. Ide utamanya tentang kekhawatiran beliau (dan mungkin kita semua) akan dunia pendidikan yang hari ini seakan seperti <strong>makanan cepat saji <em>(fast food)</em></strong> istilah yang menunjukan bahwa sistem pendidikan kita telah sesak dengan berbagai <strong>standarisasi, linearitas dan berbasis pemikiran industrialisasi</strong>, padahal manusia dilahirkan begitu sempurna, memiliki bakat dan minat yang unik tiap orangnya.</p>
<p>Berikut ceramah beliau berjudul &#8220;<em><strong>Bring on the Learning Revolution!</strong></em>&#8221; di forum TEDx.</p>
<p><object width="526" height="374" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="wmode" value="transparent" /><param name="bgColor" value="#ffffff" /><param name="flashvars" value="vu=http://video.ted.com/talk/stream/2010/Blank/SirKenRobinson_2010-320k.mp4&amp;su=http://images.ted.com/images/ted/tedindex/embed-posters/SirKenRobinson-2010.embed_thumbnail.jpg&amp;vw=512&amp;vh=288&amp;ap=0&amp;ti=865&amp;lang=id&amp;introDuration=15330&amp;adDuration=4000&amp;postAdDuration=830&amp;adKeys=talk=sir_ken_robinson_bring_on_the_revolution;year=2010;theme=whipsmart_comedy;theme=the_rise_of_collaboration;theme=how_the_mind_works;theme=master_storytellers;theme=the_creative_spark;theme=how_we_learn;event=TED2010;tag=children;tag=creativity;tag=education;tag=invention;&amp;preAdTag=tconf.ted/embed;tile=1;sz=512x288;" /><param name="src" value="http://video.ted.com/assets/player/swf/EmbedPlayer.swf" /><param name="pluginspace" value="http://www.macromedia.com/go/getflashplayer" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><embed width="526" height="374" type="application/x-shockwave-flash" src="http://video.ted.com/assets/player/swf/EmbedPlayer.swf" allowFullScreen="true" allowScriptAccess="always" wmode="transparent" bgColor="#ffffff" flashvars="vu=http://video.ted.com/talk/stream/2010/Blank/SirKenRobinson_2010-320k.mp4&amp;su=http://images.ted.com/images/ted/tedindex/embed-posters/SirKenRobinson-2010.embed_thumbnail.jpg&amp;vw=512&amp;vh=288&amp;ap=0&amp;ti=865&amp;lang=id&amp;introDuration=15330&amp;adDuration=4000&amp;postAdDuration=830&amp;adKeys=talk=sir_ken_robinson_bring_on_the_revolution;year=2010;theme=whipsmart_comedy;theme=the_rise_of_collaboration;theme=how_the_mind_works;theme=master_storytellers;theme=the_creative_spark;theme=how_we_learn;event=TED2010;tag=children;tag=creativity;tag=education;tag=invention;&amp;preAdTag=tconf.ted/embed;tile=1;sz=512x288;" pluginspace="http://www.macromedia.com/go/getflashplayer" allowfullscreen="true" allowscriptaccess="always" /></object><br />
<span id="more-1033"></span>Sekaligus berikut saya lampirkan pula transkip dari ceramah tersebut :</p>
<p>&nbsp;</p>
<blockquote><p>Saya berada di sini empat tahun lalu, dan saya ingat, pada waktu itu, bahwa ceramah-ceramahnya tidak ditaruh online; saya rasa ceramah-ceramah itu diberikan kepada TEDsters dalam sebuah kotak, satu kotak set DVD, yang ditaruh di rak mereka, sampai sekarang.</p>
<p>(Tawa)</p>
<p>Dan ternyata Chris menelepon saya satu minggu setelah saya memberikan ceramah dan dia berkata, &#8220;Kita akan memulai untuk menaruhnya online. Bisakah kita menaruh ceramah anda online?&#8221; Dan saya berkata, &#8220;Tentu saja.&#8221;</p>
<p>Dan empat tahun selanjutnya, seperti yang saya bilang, itu telah dilihat oleh empat&#8230; Er, itu sudah didownload empat juta kali. Jadi saya bisa menganggap bahwa itu bisa dikali 20 atau suatu angka untuk mendapatkan jumlah orang yang sudah menontonnya. Dan seperti yang Chris bilang, ada sebuah rasa lapar untuk video saya.</p>
<p>(Tawa)</p>
<p>(Tepuk tangan)</p>
<p>&#8230;. tidakkah anda merasa?</p>
<p>(Tawa)</p>
<p>Jadi, semua kejadian ini hanyalah sekumpulan langkah-langkah terperinci untuk membuat saya melakukan ceramah sekali lagi, jadi inilah ceramahnya.</p>
<p>(Tawa)</p>
<p>Al Gore berbicara di Konferensi TED yang saya hadiri empat tahun lalu dan membahas tentang krisis iklim. Dan saya merujuk kepada itu di akhir dari ceramah saya sebelumnya. Jadi saya ingin mulai dari sana karena saya hanya punya 18 menit, jujur saya. Jadi, sebagaimana yang saya katakan&#8230;</p>
<p>(Tawa)</p>
<p>Anda tahu, dia benar. Maksud saya, ada sebuah krisis iklim yang sangat besar, tentu saja. Dan saya rasa jika orang tidak percaya, mereka harus keluar lebih sering. (Tawa) Tapi saya juga merasa bahwa ada satu krisis iklim lain, yang separah,yang punya asal-usul yang sama, dan yang harus kita tangani dengan urgensi yang sama. Dan yang saya maksudkan adalah &#8211; dan anda mungkin berkata, &#8220;Lihat, saya baik-baik saja. Saya punya satu krisis iklim; saya tidak benar-benar butuh yang kedua.&#8221; Tapi ini adalah krisis, bukan tentang sumber daya alam, walaupun saya juga percaya hal itu, tapi sebuah krisis sumber daya manusia.</p>
<p>Saya percaya, pada dasarnya, sebagaimana sudah dikatakan oleh banyak pembicara beberapa hari ini, bahwa kita tidak mendayagunakan dengan baik bakat dan talenta kita. Banyak orang melewati seluruh hidupnya tanpa mengetahui apakah bakat mereka sebenarnya, atau jika mereka bahkan punya bakat. Saya bertemu dengan berbagai macam orang yang tidak berpikir bahwa mereka ahli dalam satupun hal.</p>
<p>Sebenarnya, sekarang saya agak membagi dunia ke dalam dua kelompok. Jeremy Bentham, filsuf utilitarian yang termasyhur, suatu kali pernah mengungkapkan argumen ini. Dia berkata, &#8220;Ada dua tipe orang di dunia ini, mereka yang membagi dunia ke dalam dua tipe dan mereka yang tidak.&#8221;(Tawa) Ya, saya setuju. (Tawa)</p>
<p>Saya bertemu berbagai macam orang yang tidak menikmati apa yang mereka lakukan. Mereka hanyalah menjalani hidup mereka melewati hari demi hari. Mereka tidak memperoleh kepuasan besar dari apa yang mereka lakukan. Mereka bertahan dan tabah, bukannya menikmatinya, dan menunggu akhir minggu tiba. Tapi saya juga bertemu dengan orang-orang yang mencintai apa yang mereka kerjakan dan tidak dapat membayangkan melakukan hal lain. Jika anda berkata kepada mereka, &#8220;Jangan lakukan ini lagi,&#8221; mereka akan bertanya-tanya apa yang anda maksudkan. Karena itu bukanlah apa yang mereka kerjakan, itu jati diri mereka. Mereka bilang, &#8221;Tapi ini saya, kamu tahu. Sangatlah bodoh bagi saya untuk meninggalkan ini, karena ini menunjukkan diri saya yang paling otentik.&#8221; Dan ini tidaklah benar untuk orang kebanyakan. Faktanya, berlawanan dengan itu, saya rasa ini jelaslah hanya sekelompok kecil orang. Dan saya rasa ada banyak</p>
<p>penjelasan yang mungkin untuk hal ini. Dan yang paling atas di antaranya adalah pendidikan,karena pendidikan, dapat dikatakan,menjerumuskan banyak sekali orang-orang dari bakat alami mereka. Dan sumber daya manusia adalah seperti sumber daya alam; mereka seringkali tertimbun dalam. Anda harus mencarinya. Dan mereka tidaklah berada di permukaan. Anda harus menciptakan situasi di mana mereka dapat mencuat dan muncul. Dan seperti yang anda dapat bayangkan pendidikan adalah caranya. Tapi seringkali tidak. Setiap sistem pendidikan di dunia sedang direformasi saat ini Dan ini tidaklah cukup. Reformasi tidak lagi berguna, karena itu hanya meningkatkan sebuah model yang rusak. Apa yang kita butuhkan &#8211; dan kata ini telah digunakan berkali-kali dalam beberapa hari belakangan &#8211; bukanlah evolusi,melainkan revolusi dalam bidang pendidikan.(Sistem pendidikan yang ada sekarang) haruslah ditransformasikan menjadi sesuatu yang lain.</p>
<p>(Tepuk tangan)</p>
<p>Salah satu tantangan utamanya adalah berinovasi secara fundamental dalam pendidikan. Inovasi sangatlah sulit karena itu berarti melakukan sesuatu yang orang-orang kebanyakan tidak merasa gampang. Itu berarti mempertanyakan apa yang telah kita terima apa adanya, hal-hal yang kita anggap sudah jelas. Masalah terbesar dari reformasi atau transformasi adalah tirani dari penalaran awam, hal-hal yang orang-orang pikirkan, &#8221;Ya, itu tidak mungkin dilakukan dengan cara lain karena caranya biasanya begitu.&#8221;</p>
<p>Baru-baru ini saya menjumpai satu kutipan keren dari Abraham Lincoln, yang saya pikir akan membuat anda senang untuk dikutip saat ini.(Tawa) Dia berkata begini pada Desember 1862kepada rapat tahunan kedua Kongres. Saya harus menjelaskan bahwa saya tidak tahu apa yang terjadi pada saat itu. Kami tidak mengajarkan sejarah Amerika di Inggris. (Tawa) Kami menekannya. Anda tahu, memang kebijakannya begitu. (Tawa) Jadi, pastinya, sesuatu yang luar biasa sedang terjadi pada Desember 1862, yang mana orang-orang Amerika di antara kita pastilah tahu.</p>
<p>Tapi dia berkata begini: &#8221;Dogma-dogma dari masa lalu yang tentram tidaklah lagi memadai untuk masa sekarang yang berangin kencang. Situasi saat ini penuh dengan kesulitan, dan kita haruslah naik bersama-sama dengan situasi ini.&#8221; Saya suka sekali dengan itu. Bukan naik menuju, melainkan naik bersama-sama dengan. &#8221;Karena kasus (yang kita hadapi) adalah baru, maka haruslah kita berpikir dengan cara yang baru, dan bertindak dengan cara yang baru, Haruslah kita memerdekakan diri kita barulah kita dapat menyelamatkan negara kita.&#8221;</p>
<p>Saya suka kata itu, &#8220;disenthrall.&#8221; (memerdekakan)Tahukah anda apa artinya? Bahwa ada ide-ide yang menawan dan mempesona kita, yang dengan mudah kita asumsikan selalu benarsebagai bentuk alami, sebagaimana seharusnya.Dan banyak dari ide-ide kita telah dibentuk, bukan untuk memenuhi keadaan abad ini, tapi untuk mengatasi keadaan abad sebelumnya. Tapi pemikiran kita masih terhipnotis dengannya. Dan kita haruslah memerdekakan diri kita dari beberapa ide-ide tersebut. Sekarang, ini lebih mudah diomongkan dibanding dilaksanakan.Sangatlah sulit untuk mengetahui, apa yang anda asumsikan selalu benar. Dan alasannya adalah anda telah mengasumsikannya selalu benar.</p>
<p>Jadi coba saya tanyakan anda sesuatu yang mungkin telah anda asumsikan selalu benar.Siapakah di antara kalian ini yang usianya di atas 25 tahun? Saya percaya itu bukan sesuatu yang anda asumsikan. Saya percaya anda memang tahu faktanya. Apakah ada yang usianya di bawah 25 tahun? Bagus. Sekarang, kalian yang usianya di atas 25, dapatkah anda angkat tangan jika anda menggunakan jam tangan? Nah, banyak sekali dari kita, bukan? Tanyalah ruangan yang penuh dengan anak muda pertanyaan yang sama. Anak muda tidaklah memakai jam tangan. Saya tidak mengatakan bahwa mereka tidak dapat atau mereka tidak boleh, mereka seringkali hanyalah memilih untuk tidak. Dan alasannya, anda tahu, bahwa kita dibesarkan di budaya pre-digital, kita yang berusia 25 ke atas. Jadi untuk kita, jika anda ingin mengetahui waktu, anda haruslah memakai sesuatu untuk dapat mengetahuinya. Remaja sekarang tinggal di dunia yang telah terdigitisasi,dan waktu, bagi mereka, ada di mana-mana.Mereka tidak melihat alasan untuk melakukan hal ini. Dan, omong-omong, anda juga tidak harus melakukan ini juga; hanya saja anda selalu melakukannya, dan anda jadi keterusan. Anak perempuan saya tidak pernah menggunakan jam tangan, Kate, yang usianya 20. Dia tidak melihat gunanya. Seperti yang dia katakan, &#8220;Itu alat yang hanya punya satu fungsi.&#8221; (Tawa) &#8221;Seperti, betapa konyolnya itu?&#8221; Dan saya berkata, &#8220;Tidak, tidak, ini menunjukkan tanggal juga.&#8221; (Tawa) &#8221;Ada banyak fungsinya.&#8221;</p>
<p>Tapi anda lihat, ada hal-hal yang mempesona kita dalam pendidikan. Mari saya beri anda beberapa contoh. Salah satu di antaranya adalah ide mengenai linearitas, mulai dari sini, dan anda menempuh sebuah jalur, dan jika anda melakukan semuanya dengan benar, anda akan menjadi siap untuk seumur hidup anda. Semua orang yang telah berbicara di TED secara tidak langsung, atau bahkan kadang secara langsung, memberikan cerita yang berbeda, bahwa hidup ini tidaklah linear, tapi organik. Kita menciptakan hidup kita secara simbiotik seiring dengan eksplorasi bakat-bakat kita dalam kaitannya dengan situasi yang tercipta untuk kita (karena bakat-bakat kita). Tapi anda tahu, kita telah menjadi terobsesi dengan pemikiran tentang linearitas ini. Dan mungkin puncak tertinggi pendidikan adalah masuk ke perguruan tinggi.Saya rasa kita terobsesi dengan membuat orang masuk kuliah, masuk ke suatu jenis perguruan tinggi. Saya tidak bilang bahwa anda tidak usah kuliah, tapi tidak semua orang perlu pergi, dan tidak semua orang perlu pergi sekarang. Mungkin mereka pergi belakangan, tidak langsung.</p>
<p>Dan saya berada di San Fransisco beberapa waktu yang lalu menandatangani buku. Ada satu orang ini yang membeli satu buku, dan usianya sekitar 30an. Dan saya bertanya, &#8220;Apa pekerjaan anda?&#8221; Dan dia berkata, &#8220;Saya pemadam kebakaran.&#8221; Dan saya bertanya, &#8220;Berapa lama anda telah menjadi pemadam kebakaran?&#8221; Dia berkata, &#8220;Selalu, saya selalu menjadi pemadam kebakaran.&#8221; Dan saya bertanya lagi, &#8220;Oke, sejak kapan anda memutuskan hal itu?&#8221; Dia berkata, &#8220;Sejak kecil.&#8221; Dia berkata, &#8220;Sebetulnya, itu menjadi masalah untuk saya di sekolah, karena di sekolah, semua orang mau menjadi pemadam kebakaran.&#8221;Dia berkata, &#8220;Tapi saya benar-benar mau menjadi pemadam kebakaran.&#8221; Dan dia berkata, &#8220;Ketika saya hampir lulus, guru-guru saya tidak menganggap saya serius. Ada satu guru ini yang tidak menganggap saya serius. Dia bilang saya membuang hidup saya jika saya hanya memilih untuk menjadi pemadam kebakaran, bahwa saya harus kuliah, saya harus menjadi seorang profesional, bahwa saya punya potensi yang besar, dan saya membuang bakat saya jika saya menjadi pemadam kebakaran.&#8221; Dan dia berkata, &#8220;Itu sangatlah memalukan karena dia berkata itu di depan kelas, dan saya benar-benar merasa terpukul. Tapi itu adalah apa yang saya inginkan, dan begitu saya lulus sekolah, saya melamar menjadi pemadam kebakaran dan saya diterima.&#8221;Dan dia berkata, &#8220;Anda tahu, saya berpikir tentang guru saya itu barusan, beberapa menit yang lalu ketika anda sedang berbicara, mengenai guru ini,&#8221;dia berkata, &#8220;karena enam bulan yang lalu, saya menyelamatkan hidupnya.&#8221; (Tawa) Dia berkata, &#8220;Dia mengalami kecelakaan mobil, dan saya menariknya keluar, memberikan pernapasan buatan, dan saya menyelamatkan nyawa istrinya juga.&#8221; Dia berkata, &#8220;Saya rasa dia lebih menganggap baik saya sekarang.&#8221;</p>
<p>(Tawa)</p>
<p>(Tepuk tangan)</p>
<p>Anda tahu, bagi saya, komunitas masyarakat tergantung kepada diversitas dari bakat, bukannya konsepsi tunggal dari kemampuan. Dan di tengah dari tantangan kita &#8211; (Tepuk tangan) Dan di tengah tantangan kita adalah untuk menyusun kembali pandangan kita tentang kemampuan dan tentang kepandaian. Linearitas ini adalah sebuah masalah.</p>
<p>Ketika saya tiba di L.A. (Los Angeles) sekitar sembilan tahun yang lalu, Saya menjumpai sebuah kalimat di kebijakan yang niatnya baik,yang bertuliskan, &#8220;Kuliah dimulai di taman kanak-kanak (TK).&#8221; Tidaklah benar. (Tawa) Sama sekali tidak benar. Kalau kita punya waktu, saya dapat menjelaskannya lebih dalam, tapi kita tidak punya waktu. (Tawa) TK dimulai di TK. (Tawa) Seorang teman saya pernah bilang, &#8221;Kamu tahu, seorang anak tiga tahun bukanlah separuh yang usianya enam tahun&#8221; (Tawa) (Tepuk tangan) Mereka tiga tahun.</p>
<p>Tapi seperti yang kita baru saja dengan di sesi sebelumnya, ada kompetisi yang demikian sekarang ini untuk dapat masuk TK, untuk dapat masuk ke TK yang benar, bahwa orang-orang diwawancarai untuk itu pada usia tiga tahun. Anak-anak duduk di depan panel yang tidak terkesan,anda tahu, dengan resume mereka, (Tawa)membolak-balik dan berkata, &#8220;Apa? Hanya ini saja?&#8221; (Tawa) (Tepuk tangan) &#8221;Anda telah ada selama 36 bulan, dan hanya ini saja?&#8221; (Tawa)&#8221;Anda tidak punya prestasi apa-apa. Yang saya bisa lihat, anda menghabiskan enam bulan pertama hanya menyusu.&#8221; (Tawa) Lihat, sebagai konsep itu adalah sangat konyol, tapi orang-orang tertarik dengan itu.</p>
<p>Masalah besar lainnya adalah mengenai konformitas. Kita telah membangun sistem pendidikan kita dengan model makanan cepat saji. Ini juga adalah sesuatu yang Jamie Oliver bahas beberapa hari yang lalu. Anda tahu ada dua model untuk menjamin kualitas dalam katering.Satu adalah makanan cepat saji, di mana semuanya standar. Yang satunya lagi adalah seperti restoran-restoran Zagat dan Michelin. di mana semuanya tidak terstandardisasi, mereka disesuaikan dengan keadaan lokal. Dan kita telah menjual diri kita ke dalam model cepat saji pendidikan. Dan ini menghabiskan energi dan menguras semangat kita sama seperti makanan cepat saji menguras tubuh fisik kita.</p>
<p>(Tepuk tangan)</p>
<p>Saya rasa kita harus menyadari beberapa hal di sini. Satu adalah bahwa bakat manusia sungguhlah sangat beragam. Orang-orang memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Saya baru tahu baru-baru ini bahwa saya diberikan gitar ketika saya masih kecil kurang lebih pada usia yang sama Eric Clapton mendapatkan gitar pertamanya. Anda tahu, Eric berhasil, hanya itu saja yang saya bisa katakan. (Tawa) Bisa dibilang, saya tidak berhasil. Saya tidak dapat membuat benda ini untuk bekerja tidak peduli betapa sering dan betapa kuatnya saya meniupnya. Tidak bisa jalan.</p>
<p>Tapi bukan hanya tentang itu. Juga mengenai antusiasme. Seringkali, orang-orang mahir di bidang yang tidak mereka pedulikan. Itu mengenai antusiasme, dan yang merangsang semangat dan energi kita. Dan jika anda melakukan hal yang anda cintai, di bidang yang anda mahir, waktu akan berjalan dengan cara yang benar-benar berbeda. Istri saya baru saja selesai menulis sebuah novel, dan saya pikir itu adalah buku yang bagus, tapi dia menghilang selama berjam-jam.Anda tahu ini, jika anda melakukan sesuatu yang anda cintai, satu jam terasa seperti lima menit.Jika anda melakukan sesuatu yang tidak menggetarkan jiwa anda, lima menit akan terasa seperti satu jam. Dan alasan utama begitu banyak orang memilih keluar dari pendidikan adalah karena itu tidak memberikan mereka semangat, itu tidak memberikan energi dan antusiasme bagi mereka.</p>
<p>Jadi saya rasa kita harus mengubah metaforanya.Kita harus beranjak dari apa yang pada dasarnya sebuah model industri dari pendidikan, sebuah model manufaktur, yang didasari oleh linearitasdan konformitas dan mengelompokkan orang. Kita harus bergerak menuju sebuah model yang didasari lebih kepada prinsip-prinsip agrikultur.Kita harus menyadari bahwa perkembangan manusia bukanlah sebuah proses mekanik,melainkan proses organik. Dan kita tidak dapat memprediksi hasil dari perkembangan manusia;yang dapat kita lakukan hanyalah, layaknya petani,menciptakan kondisi di mana mereka dapat berkembang.</p>
<p>Jadi ketika kita melihat reformasi pendidikan dan transformasinya, itu bukanlah seperti menggandakan sistem. Ada banyak yang bagus seperti KIPP, itu adalah sistem yang hebat. Ada banyak sekali model yang hebat. Ini adalah tentang menyesuaikan dengan keadaan anda, dan mempersonalisasikan pendidikan kepada orang-orang yang anda ajari. Dan hal ini, saya rasaadalah jawaban untuk masa depan karena ini bukanlah mengenai membuat sebuah solusi baru;namun menciptakan sebuah gerakan dalam pendidikan di mana orang-orang dapat mengembangkan solusi-solusi mereka sendiri,namun dengan bantuan dari luar yang didasari oleh kurikulum yang terpersonalisasi.</p>
<p>Sekarang, di ruangan ini, ada orang-orang yang mewakili sumber daya yang luar biasa di bidang bisnis, di multimedia, di internet. Teknologi-teknologi ini, digabungkan dengan bakat luar biasa dari guru-guru, menyediakan kesempatan untuk merevolusikan pendidikan. Dan saya mengajak anda untuk terlibat di dalamnya karena ini sangat penting, bukan hanya untuk diri kita sendiri, tapi juga untuk masa depan anak-anak kita. Namun kita harus berpindah dari model industri ke model agrikultur, di mana tiap sekolah dapat berkembang besok. Di sanalah anak-anak mengalami hidup. Atau di rumah, jika di sanalah mereka memilih untuk belajar dengan keluarga atau teman-temannya.</p>
<p>Sudah ada banyak ceramah tentang impianselama beberapa hari ini. Dan saya ingin dengan cepat &#8211; Saya sangat terkesan dengan lagu Natalie Merchant semalam, menemukan puisi lama. Saya ingin membacakan anda sepotong pendek puisidari W.B. Yeats, yang beberapa di antara kalian mungkin kenal. Dia menulis ini untuk kekasihnya,Maud Gonne, dan dia meratapi kenyataan bahwadia tidak dapat memberikan kekasihnya apa yang dia pikir kekasihnya inginkan. Jadi dia berkata, &#8220;Saya punya sesuatu yang lain, tapi mungkin itu bukan tidak cocok buatmu.&#8221;</p>
<p>Dia berkata begini: Jikalau aku mempuyai kain sulaman surgawi, yang ditenun dari emas dan cahaya keperakan, Birunya dan remangnya dan kain gelap layaknya malam, dan terang, dan setengah terang, aku kan menebarkan kain-kain itu di bawah kakimu; Tapi aku, seorang miskin,hanya punya mimpiku; Maka aku menebarkan mimpi-mimpiku di bawah kakimu; Tapaklah dengan lembut karena engkau menapaki mimpi-mimpiku.&#8221; Dan setiap hari, di mana saja, anak-anak kita menebar mimpi-mimpi mereka di bawah kaki kita. Dan kita haruslah menapak dengan lembut.</p>
<p>Terima kasih.</p>
<p>(Tepuk tangan)</p>
<p>Terima kasih banyak.</p></blockquote>
<p style="text-align: right;">Hormat Saya,<img class="alignright" src="http://www.mylivesignature.com/signatures/85713/tsauri28/e820e545a65f0ad978fa2050defbf27d.png" alt="signature" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tsauri28.myhaley.com/blog/revolusi-pendidikan-ala-sir-ken-robinson/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Presentasi: Perencanaan Pendidikan dengan Pendekatan Strategik</title>
		<link>http://tsauri28.myhaley.com/blog/presentasi-perencanaan-pendidikan-dengan-pendekatan-strategik/</link>
		<comments>http://tsauri28.myhaley.com/blog/presentasi-perencanaan-pendidikan-dengan-pendekatan-strategik/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Oct 2011 22:26:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tsauri28</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tsauri28.myhaley.com/blog/?p=979</guid>
		<description><![CDATA[Perencanaan pendidikan merupakan satu domain penting dalam menjamin keberhasilan sistem pendidikan nasional. Berikut presentasi beberapa saat yang lalu tentang konsep perencanaan pendidikan dengan pendekatan strategik. Semoga bermanfaat Educational planning &#8211; strategic planning approach View more presentations from Asep Sufyan Tsauri Hormat Saya, &#160;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perencanaan pendidikan merupakan satu domain penting dalam menjamin keberhasilan sistem pendidikan nasional. Berikut presentasi beberapa saat yang lalu tentang konsep perencanaan pendidikan dengan pendekatan strategik. Semoga bermanfaat <img src='http://tsauri28.myhaley.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<div style="width:425px" id="__ss_8476150"> <strong style="display:block;margin:12px 0 4px"><a href="http://www.slideshare.net/tsauri28/educational-planning-strategic-planning-approach" title="Educational planning - strategic planning approach" target="_blank">Educational planning &#8211; strategic planning approach</a></strong> <iframe src="http://www.slideshare.net/slideshow/embed_code/8476150" width="425" height="355" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe>
<div style="padding:5px 0 12px"> View more <a href="http://www.slideshare.net/" target="_blank">presentations</a> from <a href="http://www.slideshare.net/tsauri28" target="_blank">Asep Sufyan Tsauri</a> </div>
</p></div>
<p style="text-align: right;">Hormat Saya,</p>
<p style="text-align: right;"><img class="alignright" src="http://www.mylivesignature.com/signatures/85713/tsauri28/e820e545a65f0ad978fa2050defbf27d.png" alt="signature" /></p>
<div id="clear"></div>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tsauri28.myhaley.com/blog/presentasi-perencanaan-pendidikan-dengan-pendekatan-strategik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Presentasi: Manajemen Organisasi</title>
		<link>http://tsauri28.myhaley.com/blog/presentasi-manajemen-organisasi/</link>
		<comments>http://tsauri28.myhaley.com/blog/presentasi-manajemen-organisasi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Sep 2011 22:18:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tsauri28</dc:creator>
				<category><![CDATA[elearning]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tsauri28.myhaley.com/blog/?p=941</guid>
		<description><![CDATA[Presentasi yang saya sampaikan kepada teman-teman pengurus Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) UPI November tahun lalu dalam sebuah event kaderisasi pengurus. Berbicara masalah dasar-dasar manajemen organisasi, organisasi masa depan dan organisasi berbasis nilai (value). mudah-mudahan ada manfaatnya bagi pembaca Manajemen organisasi (kmnu upi) View more presentations from Asep Sufyan Tsauri Hormat Saya, &#160;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Presentasi yang saya sampaikan kepada teman-teman pengurus Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) UPI November tahun lalu dalam sebuah event kaderisasi pengurus. Berbicara masalah dasar-dasar manajemen organisasi, organisasi masa depan dan organisasi berbasis nilai (value). mudah-mudahan ada manfaatnya bagi pembaca <img src='http://tsauri28.myhaley.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><div style="width:425px" id="__ss_5938866"> <strong style="display:block;margin:12px 0 4px"><a href="http://www.slideshare.net/tsauri28/manajemen-organisasi-kmnu-upi" title="Manajemen organisasi (kmnu upi)">Manajemen organisasi (kmnu upi)</a></strong> <iframe src="http://www.slideshare.net/slideshow/embed_code/5938866" width="425" height="355" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe>
<div style="padding:5px 0 12px"> View more <a href="http://www.slideshare.net/">presentations</a> from <a href="http://www.slideshare.net/tsauri28">Asep Sufyan Tsauri</a> </div>
</p></div>
</p>
<p style="text-align: right;">Hormat Saya,<img class="alignright" src="http://www.mylivesignature.com/signatures/85713/tsauri28/e820e545a65f0ad978fa2050defbf27d.png" alt="signature" />
<div id="clear">&nbsp;</div></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tsauri28.myhaley.com/blog/presentasi-manajemen-organisasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Presentasi: Intisari Buku Public Policy Analysis</title>
		<link>http://tsauri28.myhaley.com/blog/presentasi-intisari-buku-public-policy-analysis/</link>
		<comments>http://tsauri28.myhaley.com/blog/presentasi-intisari-buku-public-policy-analysis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 31 Aug 2011 21:27:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tsauri28</dc:creator>
				<category><![CDATA[Download]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tsauri28.myhaley.com/blog/?p=943</guid>
		<description><![CDATA[Kebijakan publik yang tidak memihak rakyat kecil, tidak feasibel dilakukan, tidak efektif dan sebagainya adalah buah dari analisis kebijakan yang keliru. Presentasi ini merupakan intisari dari sebuah buku lama, namun masih menjadi referensi yang sangat relevan tentang bagaimana penentu kebijakan menganalisis hingga melaksanakan dan mengevaluasi suatu kebijakan publik. Buku ini berjudul &#8220;Public Policy Analysis&#8221; karya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kebijakan publik yang tidak memihak rakyat kecil, tidak feasibel dilakukan, tidak efektif dan sebagainya adalah buah dari analisis kebijakan yang keliru. Presentasi ini merupakan intisari dari sebuah buku lama, namun masih menjadi referensi yang sangat relevan tentang bagaimana penentu kebijakan menganalisis hingga melaksanakan dan mengevaluasi suatu kebijakan publik.</p>
<p>Buku ini berjudul <strong>&#8220;Public Policy Analysis&#8221;</strong> karya William N. Dunn, semoga bermanfaat <img src='http://tsauri28.myhaley.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><div style="width:425px" id="__ss_5939099"> <strong style="display:block;margin:12px 0 4px"><a href="http://www.slideshare.net/tsauri28/intisari-buku-public-policy-analysis-william-n-dunn" title="Intisari Buku Public Policy Analysis (William N. Dunn)">Intisari Buku Public Policy Analysis (William N. Dunn)</a></strong> <iframe src="http://www.slideshare.net/slideshow/embed_code/5939099" width="425" height="355" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe>
<div style="padding:5px 0 12px"> View more <a href="http://www.slideshare.net/">presentations</a> from <a href="http://www.slideshare.net/tsauri28">Asep Sufyan Tsauri</a> </div>
</p></div>
</p>
<p style="text-align: right;">Hormat Saya,<img class="alignright" src="http://www.mylivesignature.com/signatures/85713/tsauri28/e820e545a65f0ad978fa2050defbf27d.png" alt="signature" />
<div id="clear">&nbsp;</div></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tsauri28.myhaley.com/blog/presentasi-intisari-buku-public-policy-analysis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>E-Learning UX</title>
		<link>http://tsauri28.myhaley.com/blog/e-learning-ux/</link>
		<comments>http://tsauri28.myhaley.com/blog/e-learning-ux/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Aug 2011 00:11:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tsauri28</dc:creator>
				<category><![CDATA[elearning]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tsauri28.myhaley.com/blog/?p=1026</guid>
		<description><![CDATA[UX (User Experience) adalah sebuah bidang baru yang berangkat dari hubungan manusia dengan teknologi. Interaksi antara manusia dan teknologi didefinisikan dalam desain sebelum diimplementasikan. Desain ini perlu dilakukan untuk memaksimalkan stimulus yang dapat diberikan oleh sebuah teknologi –dalam hal ini website E-learning– kepada penggunanya. Stimulus ini pada akhirnya akan melahirkan respon dan efek tertentu yang diinginkan pengembang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 542px"><img class="  " title="ux" src="http://www.chrislabrooy.com/project/UX_design_dot_net/UX_Final_high_950px2.jpg" alt="" width="532" height="388" /><p class="wp-caption-text">sumber gambar http://www.chrislabrooy.com/UX_design.html</p></div>
<p>UX (<em>User Experience</em>) adalah sebuah bidang baru yang berangkat dari hubungan manusia dengan teknologi. Interaksi antara manusia dan teknologi didefinisikan dalam desain sebelum diimplementasikan. Desain ini perlu dilakukan untuk memaksimalkan stimulus yang dapat diberikan oleh sebuah teknologi –dalam hal ini <em>website</em> E-learning– kepada penggunanya. Stimulus ini pada akhirnya akan melahirkan respon dan efek tertentu yang diinginkan pengembang terjadi pada pengguna, sehingga lahirlah pengalaman belajar melalui <em>website</em> E-Learning tersebut.</p>
<p>Pada hakikatnya UX bersifat subjektif, artinya bergantung pada penilaian pribadi seseorang sehingga pengembang aplikasi hanya bisa memberikan berbagai stimulus baik berupa grafik, gambar bergerak (animasi), dan sebagainya, sehingga setidaknya pengguna akan mengeluarkan respon, apakah itu meng-klik tombol, mengisi <em>form</em>, dan respon-respon lainnya. Tentu, respon tersebut akan berbeda-beda tiap orangnya. Pada akhirnya perlu dipahami bahwa UX hanya berbicara bagaimana mengoptimasi berbagai stimulus, bukan membahas bagaimana respon itu akan muncul.<span id="more-1026"></span></p>
<p>Hal-hal yang harus diperhatikan untuk memaksimalkan <em>user experience</em> adalah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li><strong>Navigasi</strong><br />
Navigasi dalam sebuah <em>website</em> merupakan kunci tersampaikannya informasi hingga sesuai dengan yang ingin pengembang sampaikan. Dengan pengaturan navigasi yang tepat dan ringkas memungkinkan pengguna nyaman berinteraksi di <em>website</em> tersebut.</li>
<li><strong>Pemilihan Warna</strong><br />
Salah satu faktor yang dapat dijadikan acuan dalam menawarkan <em>user experience</em> sebuah<em> website</em> adalah dengan memilih warna yang sesuai dengan karakteristik task yang ditawarkan, seperti untuk menegaskan user untuk mengklik tombol, maka lebih baik tombol berwarna merah misalnya.</li>
<li><strong>Typografi</strong> (pengaturan huruf)<br />
Pengaturan huruf memiliki peranan penting dalam membimbing pengguna memahami arsitektur <em>website</em>, pemilihan dan pengaturan huruf yang tidak tepat akan menyebabkan pengguna ‘tersesat’ di <em>website</em> kita dan tentunya memberikan ‘<em>bad experience</em>’ bagi pengguna.<br />
<strong>5 hal penting tentang typografi:</strong></p>
<ul>
<li>Jenis Huruf</li>
<li>Pengaturan Kontras</li>
<li>Bangun Hirarki</li>
<li>Berikan ruang yang cukup (<em>white space</em>)</li>
<li>Konsisten</li>
</ul>
</li>
<li><strong>Arsitektur Informasi</strong><br />
Arsitektur informasi adalah metode untuk merancang, memetakan dan mengevaluasi informasi-informasi yang ada dan harus ada ke dalam sebuah halaman-halaman web yang dikembangkan. Melalui arsitektur informasi yang baik, <em>website</em> akan memiliki keandalan berupa kesederhanaan, kemudahan akses dan tentunya memberikan <em>experience</em> yang baik bagi pengguna.</li>
</ol>
<p>Dalam merancang E-learning UX, tentukan jenis LMS yang akan dibangun termasuk pada jenis LMS seperti apa. Kemudian lihat <em>audience </em>yang akan terlibat dan analisis karakteristiknya. Setelah itu tentukan fitur-fitur apa yang akan dimunculkan serta alur informasinya.***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tsauri28.myhaley.com/blog/e-learning-ux/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Presentasi: Dasar Sistem Informasi Pendidikan</title>
		<link>http://tsauri28.myhaley.com/blog/presentasi-dasar-sistem-informasi-pendidikan/</link>
		<comments>http://tsauri28.myhaley.com/blog/presentasi-dasar-sistem-informasi-pendidikan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Jul 2011 22:11:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tsauri28</dc:creator>
				<category><![CDATA[Download]]></category>
		<category><![CDATA[elearning]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tsauri28.myhaley.com/blog/?p=939</guid>
		<description><![CDATA[Berikut ini presentasi yang saya sampaikan setahun yang lalu dalam satu mata kuliah , meskipun hanya sebuah tugas mata kuliah tetapi mudah-mudahan bisa bermanfaat lebih luas dan lama. Presentasi ini membahas tentang &#8220;Dasar-Dasar Sistem Informasi Pendidikan berbasis TIK&#8221;. Mudah-mudahan bermanfaat Sistem informasi pendidikan #1 View more presentations from Asep Sufyan Tsauri Hormat Saya, &#160;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berikut ini presentasi yang saya sampaikan setahun yang lalu dalam satu mata kuliah <img src='http://tsauri28.myhaley.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> , meskipun hanya sebuah tugas mata kuliah tetapi mudah-mudahan bisa bermanfaat lebih luas dan lama. Presentasi ini membahas tentang &#8220;Dasar-Dasar Sistem Informasi Pendidikan berbasis TIK&#8221;. Mudah-mudahan bermanfaat <img src='http://tsauri28.myhaley.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>
<div style="width:425px" id="__ss_5662843"> <strong style="display:block;margin:12px 0 4px"><a href="http://www.slideshare.net/tsauri28/sistem-informasi-pendidikan-1" title="Sistem informasi pendidikan #1">Sistem informasi pendidikan #1</a></strong> <iframe src="http://www.slideshare.net/slideshow/embed_code/5662843" width="425" height="355" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe>
<div style="padding:5px 0 12px"> View more <a href="http://www.slideshare.net/">presentations</a> from <a href="http://www.slideshare.net/tsauri28">Asep Sufyan Tsauri</a> </div>
</p></div>
</p>
<p style="text-align: right;">Hormat Saya,<img class="alignright" src="http://www.mylivesignature.com/signatures/85713/tsauri28/e820e545a65f0ad978fa2050defbf27d.png" alt="signature" />
<div id="clear">&nbsp;</div></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tsauri28.myhaley.com/blog/presentasi-dasar-sistem-informasi-pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Resensi Buku: Designing Successful e-Learning</title>
		<link>http://tsauri28.myhaley.com/blog/resensi-buku-designing-successful-e-learning/</link>
		<comments>http://tsauri28.myhaley.com/blog/resensi-buku-designing-successful-e-learning/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jul 2011 01:24:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tsauri28</dc:creator>
				<category><![CDATA[elearning]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[development]]></category>
		<category><![CDATA[e-learning]]></category>
		<category><![CDATA[elearning 2.0]]></category>
		<category><![CDATA[rekomendasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tsauri28.myhaley.com/blog/?p=1022</guid>
		<description><![CDATA[Buku ini merupakan buku yang cukup saya rekomendasikan kepada siapapun yang akan atau sedang mengelola eLearning, baik sebagai developer sistem, desainer instruksional, programmer konten maupun tutor/dosen. Buku yang ditulis oleh salah seorang begawan Instructional Design Michael Allen (http://alleninteractions.com) memaparkan secara komprehensif dari mulai konsep dasar instruksional hingga teknik desain pembelajaran eLearning yang mudah diterapkan, khususnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 442px"><img title="Cover Buku: Designing Successful e-Learning" src="http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/284366_2217052796011_1538363183_2395887_5075201_n.jpg" alt="" width="432" height="500" /><p class="wp-caption-text">Cover Buku: Designing Successful e-Learning</p></div>
<p>Buku ini merupakan buku yang cukup saya rekomendasikan kepada siapapun yang akan atau sedang mengelola eLearning, baik sebagai developer sistem, desainer instruksional, programmer konten maupun tutor/dosen.</p>
<p>Buku yang ditulis oleh salah seorang begawan <em>Instructional Design</em> Michael Allen (<a title="Allen Interactions" href="http://alleninteractions.com" target="_blank">http://alleninteractions.com</a>) memaparkan secara komprehensif dari mulai konsep dasar instruksional hingga teknik desain pembelajaran eLearning yang mudah diterapkan, khususnya di lingkungan learning center perusahaan.</p>
<p>Di covernya Allen mengutip satu pernyataan yang cukup provokatif &#8220;<em>Forgot What You Know About Instructional Design and Do Something Interesting</em>&#8220;, bagaimana tidak Instructional Design sebagai cabang ilmu yang sudah cukup matang direkomendasikan untuk dilupakan saja! <img src='http://tsauri28.myhaley.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> )<span id="more-1022"></span></p>
<p>Konsep yang diusung Allen secara umum bahwa suatu pembelajaran eLearning tidak hanya berbicara di ranah instruksional semata, tetapi harus juga diperhatikan<em> pre-instructional</em> dan <em>post-instructional-</em>nya juga, sehingga pembelajaran yang dihadirkan melalui eLearning dapat bermakna, selalu diingat dan memotivasi pembelajar.</p>
<div id="attachment_1023" class="wp-caption aligncenter" style="width: 490px"><img class="size-full wp-image-1023" title="allen-models" src="http://tsauri28.myhaley.com/blog/wp-content/uploads/2011/07/allen-models.jpg" alt="" width="480" height="156" /><p class="wp-caption-text">Model Successful E-Learning Michael Allen</p></div>
<p>Selain itu, Allen memberikan tips dan trik yang mudah untuk diadopsi oleh para desainer eLearning dalam 3 (tiga) hal: <em>meaningful learning, memorable learning </em>dan <em>motivational learning</em>.</p>
<p>Secara umum apabila saya berikan rating 1-5, buku ini dapat rating 4.</p>
<p>Semoga bermanfaat <img src='http://tsauri28.myhaley.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: right;">Hormat Saya,</p>
<p style="text-align: right;"><img class="alignright" src="http://www.mylivesignature.com/signatures/85713/tsauri28/e820e545a65f0ad978fa2050defbf27d.png" alt="signature" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tsauri28.myhaley.com/blog/resensi-buku-designing-successful-e-learning/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menghadirkan Konteks yang Tepat dalam eLearning</title>
		<link>http://tsauri28.myhaley.com/blog/konteks-dalam-elearning/</link>
		<comments>http://tsauri28.myhaley.com/blog/konteks-dalam-elearning/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Jul 2011 04:28:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tsauri28</dc:creator>
				<category><![CDATA[elearning]]></category>
		<category><![CDATA[e-learning]]></category>
		<category><![CDATA[elearning 2.0]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tsauri28.myhaley.com/blog/?p=1019</guid>
		<description><![CDATA[Menghadirkan Konteks yang Tepat dalam eLearning Berbicara tentang mendesain pembelajaran eLearning, salah satu hal yang menjadi pembeda antara desain yang berhasil dengan desain yang gagal adalah bagaimana desainer instruksional mampu membangun konteks yang tepat. Pengertian Secara umum konteks dalam pembelajaran eLearning adalah suatu kerangka kerja dan tolok ukur dalam menghadirkan kondisi awal atau latar belakang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_416"><img title="BORING-CLASS" src="http://idelearning.com/wp-content/uploads/2011/07/BORING-CLASS.jpg" alt="" width="575" height="383" />Menghadirkan Konteks yang Tepat dalam eLearning</p>
</div>
<blockquote><p>Berbicara tentang mendesain pembelajaran eLearning, salah satu hal yang menjadi pembeda antara desain yang berhasil dengan desain yang gagal adalah bagaimana desainer instruksional mampu membangun konteks yang tepat.</p></blockquote>
<h3>Pengertian</h3>
<p>Secara umum konteks dalam pembelajaran eLearning adalah suatu kerangka kerja dan tolok ukur dalam menghadirkan kondisi awal atau latar belakang kenapa pembelajaran tersebut penting untuk diikuti. Contohnya:</p>
<ol>
<li>Calon operator mesin merasa asing dengan mesin modern yang harus dioperasikan</li>
<li>Nasabah bank yang merasa kecewa dengan pelayanan</li>
<li>Banyaknya jenis aplikasi yang harus diketahui oleh petugas administrasi.</li>
</ol>
<h3>Konteks yang tepat?</h3>
<p>Desain yang berhasil menghadirkan konteks yang tepat adalah ketika pengguna/pembelajar merasa memiliki alasan untuk mengikuti pembelajaran eLearning tersebut. Konteks yang tepat adalah ketika pengguna/pembelajar merasa terikat dan memaknai kondisi tersebut, <em>“yup.., pembelajaran eLearning ini memang sangat saya butuhkan!”</em></p>
<h3>Tips Menghadirkan Konteks yang Tepat</h3>
<ul>
<li>Tempat yang sebenarnya, apabila permasalahan tentang komplain nasabah maka cerita diawali di meja customer service, bukan di lingkungan kelas yang terdapat papan tulis, kapur tulis dan sebagainya.</li>
<li>Gunakan storyline yang kuat seperti menghadirkan konflik, situasi kritis, ketegangan, drama atau bahkan humor</li>
<li>Mulai dengan aktivitas yang relevan (masalah nyata), sebaiknya hindari mengawali pembelajaran dengan pretest yang bersifat akademik seperti pretest soal pilihan ganda.</li>
</ul>
<p>Demikian pentingnya menghadirkan konteks yang tepat dalam mendesain pembelajaran eLearning, perlu selalu kita ingat bahwa desain pembelajaran eLearning sedikit berbeda dengan mendesain pembelajaran klasikal, karena pengguna/pembelajar tidak langsung berhadapan dengan tutor/dosen tetapi berhadapan langsung dengan konten pembelajaran.<span id="more-1019"></span></p>
<p>Telah juga dipublish di <a href="http://idelearning.com/2011/07/24/menghadirkan-konteks-yang-tepat-dalam-elearning">http://idelearning.com/2011/07/24/menghadirkan-konteks-yang-tepat-dalam-elearning</a></p>
<p style="text-align: right;">Hormat Saya,</p>
<p style="text-align: right;"><img class="alignright" src="http://www.mylivesignature.com/signatures/85713/tsauri28/e820e545a65f0ad978fa2050defbf27d.png" alt="signature" /></p>
<div id="clear"></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tsauri28.myhaley.com/blog/konteks-dalam-elearning/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Mengevaluasi eLearning Berbasis PLEs</title>
		<link>http://tsauri28.myhaley.com/blog/bagaimana-mengevaluasi-elearning-berbasis-ples/</link>
		<comments>http://tsauri28.myhaley.com/blog/bagaimana-mengevaluasi-elearning-berbasis-ples/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jul 2011 04:25:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tsauri28</dc:creator>
				<category><![CDATA[elearning]]></category>
		<category><![CDATA[e-learning]]></category>
		<category><![CDATA[elearning 2.0]]></category>
		<category><![CDATA[ple]]></category>
		<category><![CDATA[ples]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tsauri28.myhaley.com/blog/?p=1006</guid>
		<description><![CDATA[Pagi ini di lini masa twitter saya dan pak Arief Bahtiar sedikit berbincang tentang bagaimana konsep eLearning dengan menggunakan pendekatan Personal Learning Environments (PLEs) dapat diterapkan di suatu lembaga pendidikan/pelatihan. (bagi yang belum mengetahui apa itu PLEs dan Konsepnya, klik http://tsauri28.myhaley.com/blog/pengertian-ples/) Pendekatan PLEs merupakan suatu perubahan mendasar dalam melihat pembelajaran melalui eLearning. Selama ini eLearning [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1007" class="wp-caption aligncenter" style="width: 410px"><img class="size-full wp-image-1007" title="Bagaimana mengevaluasi eLearning berbasis PLEs?" src="http://tsauri28.myhaley.com/blog/wp-content/uploads/2011/07/personal_social_network.jpg" alt="" width="400" height="300" /><p class="wp-caption-text">Gambar dicuil dari theinnovativeeducator.blogspot.com</p></div>
<p>Pagi ini di lini masa twitter <a title="twitter asep sufyan tsauri" href="http://twitter.com/tsauri28" target="_blank">saya</a> dan <a href="http://twitter.com/ariefbb" target="_blank">pak Arief Bahtiar</a> sedikit berbincang tentang bagaimana konsep eLearning dengan menggunakan pendekatan Personal Learning Environments (PLEs) dapat diterapkan di suatu lembaga pendidikan/pelatihan. <em><strong>(bagi yang belum mengetahui apa itu PLEs dan Konsepnya, klik <a href="http://tsauri28.myhaley.com/blog/pengertian-ples/">http://tsauri28.myhaley.com/blog/pengertian-ples/</a>)</strong></em></p>
<p>Pendekatan PLEs merupakan suatu perubahan mendasar dalam melihat pembelajaran melalui eLearning. Selama ini eLearning diidentikan dengan adanya Learning Management System yang memiliki kemampuan untuk menghadirkan kelas virtual secara lengkap, dari mulai pengadaan bahan ajar, aktivitas-aktivitas hingga asesment hasil belajar dan kesemuanya itu dikelola dalam satu &#8220;rumah besar&#8221; bernama Learning Management System. Nah, dalam pendekatan PLEs, konsep itu dibalik 180 derajat, bahwa pembelajaran eLearning harus berpusat pada pembelajar itu sendiri (bukan pada kelas virtual di LMS), sehingga imbasnya tools yang digunakan bukan hanya LMS, tetapi juga tools lain yang sudah familiar digunakan oleh pembelajar (seperti social network, blog, dll)<span id="more-1006"></span></p>
<p>IMHO, konsep PLEs ini memang masih &#8220;terlalu muda&#8221; untuk dianggap dapat sepenuhnya menggantikan paradima eLearning yang selama ini identik dengan LMS. Setidaknya terdapat beberapa tantangan dan pertanyaan yang harus dijawab seiring pengembangannya, yaitu:</p>
<ol>
<li>Mungkinkah PLEs ini diterapkan di lembaga pendidikan yang pada prakteknya akan sangat sulit melakukan labelisasi, legalisasi, atau validasi? (pernyataan pak Arief <img src='http://tsauri28.myhaley.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> )</li>
<li> Sulitnya melakukan asesmen (evaluasi pembelajaran) bagi peserta, karena data/jejak belajar siswa akan tersebar di begitu banyak tempat</li>
<li>Mungkinkah adanya standarisasi konten PLEs ini, karena apabila ditinjau dari konsep dasarnya justru spirit PLEs adalah &#8220;tidak distandarisasi&#8221;?</li>
<li>(Pertanyaan lain silahkan ditambahkan)</li>
</ol>
<p><span style="font-size: small;"><span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;">Nah, untuk sementara ini Saya sendiri belum menemukan jawaban yang benar-benar sahih atas pertanyaan dan tantangan di atas, hanya untuk jawaban sementara ada beberapa asumsi yang dapat saya sampaikan:</span></span></p>
<ol>
<li>Untuk melakukan asesmen hasil belajar, kita memerlukan suatu validasi dan sistem untuk melakukan penilaian belajar dan pengetahuan. hal ini sebetulnya memang sedang banyak didiskusikan oleh para peneliti eLearning di Amerika dan Eropa, silahkan kunjungi kursus &#8220;Learning and Knowledge Analytics&#8221; -&gt; <a href="http://scope.bccampus.ca/course/view.php?id=365">http://scope.bccampus.ca/course/view.php?id=365</a></li>
<li>Perubahan paradigma ke PLEs tidak sekedar perubahan paradigma tools, akan tetapi ada perubahan yang lebih besar lagi yaitu perubahan kebiasaan (habit) orang untuk belajar dan berkolaborasi. sebagai contoh, PLEs ini akan berhasil jika kesadaran akan belajar dan keinginan untuk berkolaborasi antar pembelajar/tutor harus tinggi, seperti yang ditunjukkan pada kursus di atas (poin 1) -&gt; <a href="http://scope.bccampus.ca/course/view.php?id=365">http://scope.bccampus.ca/course/view.php?id=365</a></li>
<li>Perubahan kebiasaan itu tentu harus dimulai dari tutor/dosen/guru karena perannya akan sangat berbeda antara peran dosen dengan menggunakan Learning Management System dibandingkan dengan menggunakan tools web 2.0</li>
</ol>
<p><span style="font-size: small;"><span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;">Sekian dulu curhatnya, semoga seiring waktu pertanyaan yang belum terjawab itu dapat ditemukan <img src='http://tsauri28.myhaley.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /><br />
</span></span></p>
<p style="text-align: right;">Hormat Saya,</p>
<p style="text-align: right;"><img class="alignright" src="http://www.mylivesignature.com/signatures/85713/tsauri28/e820e545a65f0ad978fa2050defbf27d.png" alt="signature" /></p>
<div id="clear"></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tsauri28.myhaley.com/blog/bagaimana-mengevaluasi-elearning-berbasis-ples/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Content is King, Conversation is Queen!</title>
		<link>http://tsauri28.myhaley.com/blog/content-is-king-conversation-is-queen/</link>
		<comments>http://tsauri28.myhaley.com/blog/content-is-king-conversation-is-queen/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Jul 2011 06:42:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tsauri28</dc:creator>
				<category><![CDATA[elearning]]></category>
		<category><![CDATA[e-learning]]></category>
		<category><![CDATA[elearning 2.0]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi dasar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tsauri28.myhaley.com/blog/?p=982</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Anggapan bahwa kesuksesan suatu E-learning ditentukan oleh konten yang banyak memang ada benarnya, namun tidak sepenuhnya benar! Sesungguhnya percakapan (conversation) adalah aspek lain yang perlu diperhatikan dalam mendesain pembelajaran melalui E-learning ini. — ‘Content is king, conversation is queen!’ Perkembangan teknologi web kian hari kian mengejutkan sehingga banyak konsep-konsep lama harus diganti atau setidaknya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: center;"><img src="http://idelearning.com/wp-content/uploads/2011/07/contentiskingconvisqueen_thumb.jpg" alt="contentiskingconvisqueen" width="510" height="283" border="0" /></div>
<p>&nbsp;</p>
<blockquote><p>Anggapan bahwa kesuksesan suatu E-learning ditentukan oleh konten yang banyak memang ada benarnya, namun tidak sepenuhnya benar! Sesungguhnya percakapan (<em>conversation</em>) adalah aspek lain yang perlu diperhatikan dalam mendesain pembelajaran melalui E-learning ini. — ‘Content is king, conversation is queen!’</p></blockquote>
<p>Perkembangan teknologi web kian hari kian mengejutkan sehingga banyak konsep-konsep lama harus diganti atau setidaknya diperbaharui. Menurut saya, bidang yang cukup responsif melakukan perubahan adalah bidang E-commerce. Lahirnya teknologi web 2.0 banyak mengubah paradima dan konsep E-commerce saat ini. Akhir-akhir ini lahir istilah yang cukup populer yaitu<em> ‘content is king, conversation is queen’</em>. Ungkapan ini merupakan ungkapan yang mengisyaratkan bahwa dalam melakukan penjualan melalui media internet (e-commerce) selain konten barang/jasa yang harus berkualitas, untuk menjamin hingga calon pembeli melakukan penetrasi pembelian, percakapan <em>(conversation)</em> adalah jurus nan ampuh untuk mewujudkannya.</p>
<p>Dalam pemikiran saya, E-learning pun tidak ubahnya seperti E-commerce, hanya berbeda konteks saja. Dengan demikian ungkapan <em>‘content is king, conversation is queen’</em> untuk E-learning pun berlaku! Jika E-commerce menawarkan barang/jasa, maka semestinya E-learning pun menawarkan ‘barang/jasa’ berupa pengalaman belajar (<em>learning experience</em>). Nah, sekarang kita akan bahas sedikit tentang bagaimana konten E-learning yang setegas raja dan percakapan selembut ratu.<span id="more-982"></span></p>
<h3>Konten Setegas Raja</h3>
<p>Salah satu konsep pengembangan konten E-learning yang saya sukai adalah konsep <strong><em>action based content</em></strong> milik<a href="http://www.cathy-moore.com/" target="_blank">Chaty Moore</a>. Menurut Moore, dalam membuat konten E-learning yang setegas raja haruslah berfokus pada aktivitas yang nyata sehingga pada akhirnya merupakan konten yang benar-benar bermanfaat dalam menyelesaikan suatu masalah di kehidupan nyata.</p>
<p>Langkah praktis yang ditawarkan konsep tersebut adalah :</p>
<ol>
<li>Tentukan <em>goal </em>yang akan dicapai melalui konten yang akan dibangun, goal harus bersifat aksi nyata.</li>
<li>Inventarisasi kompetensi yang harus dimiliki oleh <em>user</em> agar dapat mencapai <em>goal </em>di atas.</li>
<li>Tentukan aktivitas yang dapat mencapai kompetensi di atas.</li>
<li>Berikan informasi secukupnya agar <em>user </em>dapat melakukan aktivitas di atas.</li>
</ol>
<h3>Percakapan Selembut Ratu</h3>
<p>Suatu kursus E-learning yang sukses harus mengakomodasi kepentingan <em>user</em> yang sedang belajar. Salah satu langkahnya adalah dengan membuka kanal komunikasi dua arah yang baik dan efektif. Jika dalam E-commerce adanya <em>costumer service</em> adalah hal yang mutlak ada, maka dalam E-learning-pun begitu. Dosen/instruktur/widyaiswara/guru adalah ‘CS’ dalam kursus E-learning. Apabila dalam E-commerce <em>technical live support</em> itu wajib adanya, maka dalam E-learning-pun tidak ubahnya seperti itu. Harus ada pihak yang dapat dihubungi apabila terjadi kesalahan-kesalahan teknis yang dialami oleh <em>user</em> dalam mengeksplorasi kursus E-learning.</p>
<h3>4 Senjata Luar biasa milik Raja dan Ratu</h3>
<p>Pada akhirnya, raja dan ratu yang diwakili oleh konten dan percakapan tetap harus memiliki senjata pamungkas agar E-learning yang didesain dapat menjadikan pengguna benar-benar belajar. Berikut 4 jurus rahasia milik Michael Allen yang dibocorkan melalui bukunya berjudul “Designing Successful E-Learning” :</p>
<p><strong>Jurus 1: Kontekstual</strong></p>
<p>Raja dan ratu harus memberikan konteks yang sesuai dengan kondisi pengguna.</p>
<p><strong>Jurus 2: Tantangan</strong></p>
<p>Raja dan ratu harus menawarkan tantangan dalam setiap konten dan percakapan dalam sebuah E-learning.</p>
<p><strong>Jurus 3: Aktifitas</strong></p>
<p>Raja dan Ratu harus fokus pada memberikan aktivitas, bukan sekedar <em>transfer of information</em>.</p>
<p><strong>Jurus 4: Umpan Balik</strong></p>
<p>Raja dan Ratu harus menjadi teman sejawat sekaligus tutor yang mampu memberikan umpan balik yang positif dalam setiap aktivitas yang dilakukan oleh pengguna.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sudahkah E-learning kita memiliki raja dan ratu? <img src="http://idelearning.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif" alt=":)" /></p>
<h4></h4>
<h4>—</h4>
<p>Sebelumnya telah dipublish di IDeLearning.Com : <a href="http://idelearning.com/2011/07/04/content-is-king-conversation-is-queen">http://idelearning.com/2011/07/04/content-is-king-conversation-is-queen</a></p>
<h4><strong>Referensi:</strong></h4>
<p>Action Packed Elearning, <a href="http://www.cathy-moore.com/">http://www.cathy-moore.com</a></p>
<p>Allen, Michael. 2007. Designing Successful E-Learning. Pfeiffer.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tsauri28.myhaley.com/blog/content-is-king-conversation-is-queen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Presentasi: Learning Management System di Sekolah</title>
		<link>http://tsauri28.myhaley.com/blog/presentasi-learning-management-system-di-sekolah/</link>
		<comments>http://tsauri28.myhaley.com/blog/presentasi-learning-management-system-di-sekolah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Jun 2011 22:04:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tsauri28</dc:creator>
				<category><![CDATA[Download]]></category>
		<category><![CDATA[elearning]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tsauri28.myhaley.com/blog/?p=937</guid>
		<description><![CDATA[Presentasi yang saya sampaikan ketika berkesempatan mengisi workshop selama 2 hari di salah satu SMA di Kabupaten Bandung tahun 2010 lalu, tema yang saya sampaikan tentang &#8220;Learning Management System dan penerapannya di sekolah&#8221;. Semoga bermanfaat Learning management system &#8211; elearn series View more presentations from Asep Sufyan Tsauri Hormat Saya,]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Presentasi yang saya sampaikan ketika berkesempatan mengisi workshop selama 2 hari di salah satu SMA di Kabupaten Bandung tahun 2010 lalu, tema yang saya sampaikan tentang &#8220;Learning Management System dan penerapannya di sekolah&#8221;. Semoga bermanfaat <img src='http://tsauri28.myhaley.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<div id="__ss_5661806" style="width: 425px;">
<p><strong style="display: block; margin: 12px 0 4px;"><a title="Learning management system - elearn series" href="http://www.slideshare.net/tsauri28/learning-management-system-elearn-series">Learning management system &#8211; elearn series</a></strong> <iframe src="http://www.slideshare.net/slideshow/embed_code/5661806" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" width="425" height="355"></iframe></p>
<div style="padding: 5px 0 12px;">View more <a href="http://www.slideshare.net/">presentations</a> from <a href="http://www.slideshare.net/tsauri28">Asep Sufyan Tsauri</a></div>
</div>
<p style="text-align: right;"><span id="more-937"></span>Hormat Saya,</p>
<p style="text-align: right;"><img class="alignright" src="http://www.mylivesignature.com/signatures/85713/tsauri28/e820e545a65f0ad978fa2050defbf27d.png" alt="signature" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tsauri28.myhaley.com/blog/presentasi-learning-management-system-di-sekolah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Dynamic Page Served (once) in 1.022 seconds -->
<!-- Cached page served by WP-Cache -->

