Bagaimana Mengevaluasi eLearning Berbasis PLEs

Gambar dicuil dari theinnovativeeducator.blogspot.com
Pagi ini di lini masa twitter saya dan pak Arief Bahtiar sedikit berbincang tentang bagaimana konsep eLearning dengan menggunakan pendekatan Personal Learning Environments (PLEs) dapat diterapkan di suatu lembaga pendidikan/pelatihan. (bagi yang belum mengetahui apa itu PLEs dan Konsepnya, klik http://tsauri28.myhaley.com/blog/pengertian-ples/)
Pendekatan PLEs merupakan suatu perubahan mendasar dalam melihat pembelajaran melalui eLearning. Selama ini eLearning diidentikan dengan adanya Learning Management System yang memiliki kemampuan untuk menghadirkan kelas virtual secara lengkap, dari mulai pengadaan bahan ajar, aktivitas-aktivitas hingga asesment hasil belajar dan kesemuanya itu dikelola dalam satu “rumah besar” bernama Learning Management System. Nah, dalam pendekatan PLEs, konsep itu dibalik 180 derajat, bahwa pembelajaran eLearning harus berpusat pada pembelajar itu sendiri (bukan pada kelas virtual di LMS), sehingga imbasnya tools yang digunakan bukan hanya LMS, tetapi juga tools lain yang sudah familiar digunakan oleh pembelajar (seperti social network, blog, dll)
IMHO, konsep PLEs ini memang masih “terlalu muda” untuk dianggap dapat sepenuhnya menggantikan paradima eLearning yang selama ini identik dengan LMS. Setidaknya terdapat beberapa tantangan dan pertanyaan yang harus dijawab seiring pengembangannya, yaitu:
- Mungkinkah PLEs ini diterapkan di lembaga pendidikan yang pada prakteknya akan sangat sulit melakukan labelisasi, legalisasi, atau validasi? (pernyataan pak Arief
) - Sulitnya melakukan asesmen (evaluasi pembelajaran) bagi peserta, karena data/jejak belajar siswa akan tersebar di begitu banyak tempat
- Mungkinkah adanya standarisasi konten PLEs ini, karena apabila ditinjau dari konsep dasarnya justru spirit PLEs adalah “tidak distandarisasi”?
- (Pertanyaan lain silahkan ditambahkan)
Nah, untuk sementara ini Saya sendiri belum menemukan jawaban yang benar-benar sahih atas pertanyaan dan tantangan di atas, hanya untuk jawaban sementara ada beberapa asumsi yang dapat saya sampaikan:
- Untuk melakukan asesmen hasil belajar, kita memerlukan suatu validasi dan sistem untuk melakukan penilaian belajar dan pengetahuan. hal ini sebetulnya memang sedang banyak didiskusikan oleh para peneliti eLearning di Amerika dan Eropa, silahkan kunjungi kursus “Learning and Knowledge Analytics” -> http://scope.bccampus.ca/course/view.php?id=365
- Perubahan paradigma ke PLEs tidak sekedar perubahan paradigma tools, akan tetapi ada perubahan yang lebih besar lagi yaitu perubahan kebiasaan (habit) orang untuk belajar dan berkolaborasi. sebagai contoh, PLEs ini akan berhasil jika kesadaran akan belajar dan keinginan untuk berkolaborasi antar pembelajar/tutor harus tinggi, seperti yang ditunjukkan pada kursus di atas (poin 1) -> http://scope.bccampus.ca/course/view.php?id=365
- Perubahan kebiasaan itu tentu harus dimulai dari tutor/dosen/guru karena perannya akan sangat berbeda antara peran dosen dengan menggunakan Learning Management System dibandingkan dengan menggunakan tools web 2.0
Sekian dulu curhatnya, semoga seiring waktu pertanyaan yang belum terjawab itu dapat ditemukan ![]()
Hormat Saya,






aslm pak sy mo tnya metode pangujiannya pake ap pak ,. untuk memuat PLE ithu