Skip to content
Nov 3 / tsauri28

Psikologi Positif?

Psikologi Positif? Selama ini psikologi diidentikan dengan cabang ilmu yang menangani perilaku menyimpang atau bahkan penyakit. Martin Seligman dalam presentasinya di forum TED berikut mengungkap beberapa hasil penelitiannya tentang bagaimana ilmu psikologi dapat digunakan untuk menjadikan orang-orang ‘normal’ menjadi lebih bahagia, lebih memiliki hidup yang bermakna. Martin Seligman menamakannya positive psychology (psikologi positif).

Berikut video presentasinya :

 

Dan saya salinkan transkip presentasinya dalam bahasa Indonesia :)

Ketika saya menjabat sebagai presiden Asosiasi Psikologi Amerika mereka mencoba melatih saya menghadapi media, dan ketika itu saya harus menghadapi CNN mencoba meringkas apa yang akan saya bahas hari ini, yaitu “alasan ke-11 untuk optimis.” Editor Discover memberi tahu kita 10 alasan, saya akan memberitahu Anda yang ke-11.

Jadi CNN datang, dan berkata, “Profesor Seligman, bisakah Anda memberitahu kami keadaan Psikologi sekarang ini? Kami hendak mewawancarai Anda tentang ini.” Saya jawab, “Tentu.” Ia berkata, “Tapi ini CNN, jadi Anda hanya mendapat waktu sebentar.” Saya bertanya, “Berapa kata yang boleh saya ucapkan?” Ia menjawab, “Satu.”

(Suara tawa)

Kamera menyala, dan ia berkata, “Profesor Seligman, bagaimana keadaan Psikologi sekarang ini?” ”Baik.”

(Suara tawa)

“Berhenti. Berhenti. Bukan seperti itu. Kami sebaiknya memberi Anda jatah waktu yang lebih banyak.” ”Berapa kata yang boleh saya ucapkan kali ini?” “Dua kata boleh. Doktor Seligman, bagaimana keadaan Psikologi sekarang ini?” ”Tidak baik.”

(Suara tawa)

“Dengar, Doktor Seligman, kami tahu Anda benar-benar tidak nyaman dengan medium ini.Kami sebaiknya memberi Anda jatah waktu yang cukup. Kali ini Anda boleh mengucapkan tiga kata. Profesor Seligman, bagaimana keadaan Psikologi sekarang ini?” ”Tidak cukup baik.” Inilah yang akan saya bahas pada kesempatan ini.

Saya ingin membahas mengapa Psikologi baik, mengapa tidak baik dan bagaimana nanti, 10 tahun mendatang, menjadi cukup baik. Dengan kesimpulan paralel, nanti saya ingin mengatakan hal yang sama tentang teknologi, tentang hiburan, dan desain, karena masalahnya sangat serupa.

Jadi mengapa Psikologi baik? Selama 60 tahun, Psikologi bekerja dalam model penyakit.10 tahun yang lalu, ketika saya di pesawat dan saya memperkenalkan diri kepada orang di samping saya mereka menjauhi saya. Itu karena menurut mereka, benar sebenarnya,Psikologi itu tentang mencari yang salah pada diri Anda. “Mencari yang tidak beres.”Sekarang jika saya mengatakan kepada orang lain pekerjaan saya, mereka mendekati saya.

Yang baik tentang Psikologi, ada investasi sebesar 30 miliar dollar yang ditanamkan oleh NIMH, tentang bekerja dalam model penyakit, tentang apa yang dimaksud dengan Psikologi, 60 tahun lalu tidak ada gangguan kejiwaan yang dapat diterapi – sepenuhnya tidak nyata. Sekarang, 14 dari gangguan itu bisa diterapi, dua di antaranya dapat disembuhkan.

Selain itu, yang terjadi adalah sebuah ilmu berkembang, ilmu penyakit jiwa. Kita menemukan bahwa konsep-konsep abstrak yang kita sebut dengan depresi, alkoholisme,bisa diukur dengan tepat. Bahwa kita dapat membuat klasifikasi penyakit jiwa. Bahwa kita dapat memahami penyebab penyakit jiwa. Kita dapat melihat seiring waktu pada orang yang sama – orang, misalnya, yang secara genetis mudah terkena schizophrenia, dan bertanya apa kontribusi perawatan, genetis pada penyakit itu, dan kita dapat mengisolasi variabel ketiga dengan mengadakan eksperimen pada penyakit jiwa.

Yang paling baik, kita bisa, dalam 50 tahun terakhir, menemukan terapi obat dan terapi psikologis, dan kemudian kita bisa mengujinya secara teliti, dalam eksperimen acak berdesain kontrol-placebo – membuang yang gagal, menyimpan yang berhasil.

Kesimpulannya, Psikologi dan Psikiatri, dalam 60 tahun terakhir, boleh mengaku bahwa kita membuat orang yang menderita menjadi lebih baik. Ini hebat. Saya bangga akan hal itu. Yang tidak baik adalah konsekuensinya, tiga hal berikut.

Yang pertama, moral – bahwa Psikolog dan Psikiater menjadi Victimologist, Pathologizer;pandangan kami tentang manusia, jika Anda dalam masalah, itu berarti masalah menimpa Anda. Kami lupa bahwa orang mengambil pilihan dan keputusan. Kami lupa akan tanggung jawab. Itu konsekuensi pertama.

Konsekuensi kedua, kami melupakan orang-orang seperti Anda. Kami lupa memperbaiki kehidupan yang normal. Kami melupakan misi untuk membuat orang yang relatif tidak bermasalah menjadi lebih bahagia, lebih merasa utuh, produktif, dan “jenius”, “bertalenta-tinggi”, menjadi kata yang salah. Tidak ada yang mengurusinya.

Masalah ketiga mengenai model penyakit adalah, karena tergesa-gesa untuk melakukan sesuatu bagi orang yang bermasalah, ntuk melakukan sesuatu yang memperbaiki kerusakan, tidak pernah terpikir bagi kita untuk mengembangkan intervensi untuk membuat orang lebih bahagia, intervensi yang positif.

Jadi ini tidak baik. Inilah yang menggiring orang seperti Nancy Etcoff, Dan Gilbert, Mike Csikszentmihalyi dan saya untuk berkecimpung dalam sesuatu yang saya sebut Psikologi Positif, yang memiliki tiga tujuan. Pertama, Psikologi harus memperhatikan kekuatan manusia sama seperti memperhatikan kelemahannya. Psikologi harus memperhatikan pembangunan kekuatan seperti memperhatikan perbaikan kerusakan. Psikologi harus tertarik terhadap hal-hal terbaik dalam hidup, dan harus berusaha membuat kehidupan orang normal menjadi lebih utuh dan memperhatikan orang-orang yang jenius, dan juga yang bertalenta tinggi.

Jadi dalam 10 tahun terakhir dan semoga terus berlanjut, kita melihat awal dari ilmu Psikologi Positif: sebuah ilmu yang membuat hidup lebih layak dijalani. Ternyata kita dapat mengukur kebahagiaan dalam bentuk yang berbeda. Anda semua dapat mengunjungi laman situs tersebut dan mencoba tes kebahagiaan, gratis. Anda dapat bertanya, bagaimana posisi Anda dalam emosi positif, makna, aliran, dibandingkan dengan puluhan ribu orang lainnya? Kami menciptakan kebalikan dari diagnosis terhadap ketidakwarasan: klasifikasi kekuatan dan sifat baik yang dilihat dari rasio jenis kelamin, bagaimana definisinya, cara mendiagnosisnya, apa yang menyusunnya, dan apa yang menghambatnya. Kami menemukan bahwa kita dapat menelaah penyebab dari kondisi positif, hubungan antara aktivitas hemisfer kiri dan aktivitas hemisfer kanan sebagai penyebab kebahagiaan.

Saya menghabiskan hidup saya bekerja dengan orang yang sangat menderita, dan saya banyak bertanya, bagaimana orang yang sangat menderita berbeda dari orang lain? Sejak sekitar enam tahun lalu, kami berfokus pada orang yang sangat bahagia, dan bagaimana mereka berbeda dari orang lain? Satu hal yang kami temukan. Mereka tidak lebih religius, tidak punya tubuh yang lebih baik, tidak punya uang lebih banyak, tidak lebih rupawan,tidak memiliki lebih banyak kejadian baik dan lebih sedikit kejadian buruk. Satu hal yang membuat mereka berbeda: mereka sangat sosial. Mereka tidak duduk di seminar pada Sabtu pagi. (Tawa) Mereka tidak menghabiskan waktu sendiri. Mereka menjalin sebuah hubungan romantis dan memiliki daftar teman yang banyak.

Tapi hati-hati. Ini data korelasional, bukan sebab-akibat, dan ini kebahagiaan dalam gaya Hollywood yang akan saya sampaikan: kebahagiaan yang meluap-luap, tawa, kegembiraan.Saya akan menyakinkan Anda bahwa itu tidak cukup sesaat lagi Kami mulai dengan melihat intervensi yang ada selama berabad-abad, dari Buddha sampai Tony Robbins.Sekitar 120 intervensi diusulkan yang dianggap dapat membuat orang bahagia. Kami menemukan bahwa sebagian besar bisa kami manualkan, dan kami melakukan eksperimen acak penelitian efikasi dan efektivitasnya. Yaitu, mana yang sebenarnya membuat orang lebih bahagia lebih lama? Dalam beberapa menit ke depan saya akan menceritakan beberapa hasilnya.

Tapi hasil dari semua ini justru misi yang saya ingin Psikologi jalankan, selain misinya dalam menyembuhkan penyakit jiwa, dan selain misinya dalam membuat orang yang menderita menjadi lebih baik, adalah bisakah Psikologi membuat orang lebih bahagia?Untuk menemukan jawabannya — bahagia bukan kata yang sering saya gunakan – kami harus memecahnya menjadi hal-hal yang dapat ditanyakan tentang bahagia. Saya percaya ada tiga hal berbeda – berbeda karena mereka dibangun oleh intervensi yang berbeda, bisa memilih satu saja – tiga bentuk hidup bahagia yang berbeda. Yang pertama, kehidupan yang menyenangkan. Yaitu kehidupan di mana Anda memiliki emosi positif sebanyak mungkin, dan kemampuan untuk memperkuatnya. Yang kedua, kehidupan terikat:kehidupan Anda dalam bekerja, menjadi orang tua, pasangan, waktu senggang, waktu berhenti untuk Anda. Itulah yang Aristoteles maksudkan. Yang ketiga, kehidupan yang bermakna. Jadi saya ingin menceritakan sedikit tentang masing-masing itu dan apa yang kita ketahui mengenainya.

Yang pertama, kehidupan yang menyenangkan, itu yang terbaik, memiliki kesenangan sebanyak mungkin, emosi positif sebanyak mungkin, dan mempelajari ketrampilan, menikmati, menyadari, yang menguatkan semua itu, dan mempertahankannya selama dan sejauh mungkin. Tapi kehidupan yang menyenangkan punya tiga kekurangan, dan itu mengapa Psikologi Positif bukan tentang bahagia dan tidak berakhir di sini.

Kekurangan pertama, ternyata kehidupan yang menyenangkan, pengalaman Anda akan emosi positif, dapat luntur, sekitar 50 persen dapat luntur, dan bahkan tidak bisa banyak diubah. Trik berbeda yang Matthieu [Ricard] dan saya dan orang lain tahu untuk meningkatkan jumlah emosi positif dalam hidup Anda 15 sampai 20 persen, mengambil lebih banyak. Kekurangan yang kedua, emosi positif dapat menjadi biasa dengan cepat.Seperti es krim French vanila, rasa jilatan pertama 100 persen; sampai dengan jilatan keenam, rasanya menghilang. Seperti saya katakan, itu tidak terlalu mudah dibentuk.

Ini mengantarkan kita ke kehidupan kedua. Saya akan menceritakan kepada Anda tentang teman saya, Len, untuk menjelaskan mengapa Psikologi Positif lebih dari sekadar emosi positif, lebih dari sekadar menciptakan kesenangan. Dalam dua dari tiga wilayah besar kehidupan, ketika Len berumur 30, Len sangat sukses. Wilayah pertama, pekerjaan. Ketika berumur 20, ia merupakan pedagang saham. Ketika berumur 25, ia multimiliuner dan pimpinan dari perusahaan perdagangan saham. Kedua, wilayah kesenangan: ia merupakan juara nasional olahraga bridge. Tapi dalam wilayah ketiga, percintaan, Len gagal.Alasannya, Len adalah orang yang dingin. (Suara tawa)

Len seorang introvert. Wanita Amerika yang ia kencani selalu berkata, ”Kamu tidak menyenangkan. Tidak punya emosi positif. Pergi sana.” Len cukup kaya untuk membayar seorang Psikoanalis di Park Avenue, yang selama lima tahun berusaha mencari trauma seksual yang entah bagaimana mengunci emosi positif di dalam dirinya. Tapi hasilnya, tidak ada trauma seksual apa pun. Ternyata … Len tumbuh besar di Long Island, bermain dan menonton sepak bola, dan bermain bridge … Len ada di paling dasar lima persen dari apa yang kita sebut dengan afeksi positif.

Pertanyaannya, apakah Len tidak bahagia? Saya jawab tidak. Bertentangan dengan apa yang Psikologi katakan tentang 50 persen bawah ras manusia dalam afeksi positif, Len orang yang paling bahagia yang pernah saya tahu. Dia tidak terjebak dalam neraka ketidakbahagiaan dan itu karena Len, seperti kebanyakan dari Anda, sangat mampu mengalir. Ketika ia berjalan di lantai American Exchange pada 9.30 pagi hari, waktu berhenti untuknya. Dan berhenti sampai bel penutupan. Ketika kartu pertama dimainkan,sampai 10 hari kemudian turnamen berakhir, waktu berhenti untuk Len.

Inilah apa yang Mike Csikszentmihalyi maksudkan, tentang aliran, dan ini berbeda dari kesenangan. Kesenangan punya rasa yang mentah: Anda tahu itu terjadi. Anda memikirkan dan merasakannya. Tapi apa yang Mike katakan kemarin, ketika mengalir, Anda tidak dapat merasakan apa pun. Ketika Anda mendengarkan musik. Waktu berhenti. Anda berada dalam konsentrasi intens. Inilah karakteristik dari kehidupan yang baik. Kami percaya ada resep untuk itu, dan resepnya, mengetahui kekuatan tertinggi Anda. Sekali lagi, ada tes yang valid dari lima kekuatan tertinggi Anda. Dan kemudian membentuk kembali kehidupan Anda untuk bisa menggunakannya sebanyak mungkin. Membentuk kembali pekerjaan, percintaan Anda, permainan, pertemanan, cara Anda menjadi orang tua.

Hanya satu contoh: saya bekerja dengan orang ini, pelayan di Genuardi’s. Ia benci pekerjaannya. Ia bekerja untuk kuliah. Kekuatan tertingginya, kecerdasan sosial, jadi ia membentuk kembali pekerjaannya agar cocok dengannya menjadi pusat perhatian setiap pelanggan. Jelas ia gagal. Tapi apa yang ia lakukan menemukan kekuatan tertingginya, dan membentuk kembali pekerjaannya dengan menggunakannya sebanyak mungkin. Apa yang Anda dapatkan bukanlah senyuman. Anda tidak tampak seperti Debbie Reynolds. Anda tidak selalu cekikikan. Yang Anda dapatkan, lebih banyak penyerapan. Jadi itu jalan kedua. Yang pertama, emosi positif. Yang kedua, aliran yang membahagiakan.

Jalan ketiga, makna. Ini kebahagiaan yang paling dimuliakan, secara tradisional. Makna dalam pandangan ini terdiri dari — sangat paralel dengan kebahagiaan, mengetahui apa kekuatan tertinggi Anda, dan bagaimana menggunakannya kepada dan untuk melayani sesuatu yang lebih besar dari diri Anda.

Saya menyebutkan bahwa ketiga jenis kehidupan, kehidupan yang menyenangkan,kehidupan yang baik, dan kehidupan yang bermakna, orang-orang berusaha mencari jawaban, apakah ada hal yang bisa mengubah hidup mereka cukup lama? Jawabannya, ya. Saya akan memberikan beberapa contoh. Ini telah diperiksa secara teliti. Dilakukan dengan cara yang sama ketika kita mengetes obat untuk mengetahui kinerjanya. Jadi kami melakukan eksperimen acak, kontrol-plasebo, studi jangka panjang dari intervensi yang berbeda. Hanya untuk mengambil contoh intervensi yang menurut kami punya efek, ketika kami mengajarkan orang tentang kehidupan yang menyenangkan, bagaimana cara mendapatkan kesenangan lebih dalam hidup, salah satu tugasnya, untuk melatih kemampuan menyadari, menikmati, dan Anda harus mendesain hari yang indah. Sabtu berikutnya, pilih satu hari, desain sendiri satu hari yang indah, dan gunakan kemampuan menikmati dan menyadari untuk menambah kesenangan tersebut. Kami dapat menunjukkan bahwa kehidupan menyenangkan menjadi lebih baik.

Kunjungan syukur. Saya ingin Anda semua melakukan hal ini bersama saya. Tutup mata Anda. Saya ingin Anda semua mengingat seseorang yang melakukan sesuatu yang sangat penting yang mengubah hidup Anda dalam hal yang baik, dan yang belum pernah Anda ucapkan terima kasih. Orangnya harus masih hidup. OK. Sekarang, OK, Anda dapat membuka mata Anda. Saya harap Anda semua punya orang seperti itu. Tugas Anda ketika mempelajari kunjungan syukur adalah menulis testimoni 300 kata kepada orang tersebut,telepon orang tersebut di Phoenix, tanyakan apakah Anda boleh berkunjung, jangan katakan alasannya, muncullah di pintu mereka, bacakan testimonI Anda — setiap orang menangis ketika hal ini terjadi – dan apa yang terjadi, ketika kami tes orang ini seminggu kemudian, sebulan kemudian, tiga bulan kemudian, mereka lebih bahagia dan lebih sedikit depresi,

Sebuah contoh lain, kencan kekuatan di mana kami minta pasangan mengidentifikasi kekuatan tertinggi mereka dalam tes kekuatan, dan kemudian mendesain suatu sore di mana mereka menggunakan kekuatan mereka, dan yang kami temukan adalah hubungan yang lebih erat. Kesenangan versus filantropi. Sangat menggembirakan untuk dapat berada dalam kelompok seperti ini, banyak di antara Anda mendedikasikan hidup ke filantropi.Mahasiswa saya dan orang yang bekerja dengan saya belum menemukan ini, kita sebenarnya memiliki orang yang melakukan hal-hal altruistik dan sesuatu yang menyenangkan, dan untuk mengkontraskannya. Yang Anda temukan ketika Anda melakukan hal menyenangkan, adalah itu cepat berlalu. Ketika Anda melakukan filantropi untuk membantu orang lain, itu akan bertahan lebih lama. Jadi contoh-contoh itu adalah intervensi positif.

Jadi hal terakhir selanjutnya yang ingin saya katakan adalah kami tertarik pada seberapa besar kepuasan hidup yang seseorang miliki, dan ini benar-benar mengenai Anda. Itulah variabel target kami. Kami mengajukan pertanyaan sebagai fungsi tiga kehidupan yang berbeda, berapa banyak kepuasan hidup yang Anda dapatkan? Jadi kami bertanya — sebanyak 15 replikasi yang melibatkan ribuan orang – untuk melihat sejauh mana pencarian kesenangan, pencarian emosi positif, kehidupan yang menyenangkan, pencarian keterikatan, waktu yang terhenti bagi Anda, dan pencarian makna, berkontribusi terhadap kepuasan hidup?

Hasilnya mengejutkan kita, tapi tidak seperti apa yang kami perkirakan. Ternyata, pencarian kesenangan hampir tidak memiliki kontribusi apa pun terhadap kepuasan hidup.Pencarian makna adalah yang terkuat. Pencarian keterikatan juga sangat kuat. Ketika kesenangan menjadi penting, Anda memiliki keterikatan dan makna, kesenangan adalah krim dan buah ceri. Yang artinya kehidupan yang utuh, kombinasi ketiganya lebih besar daripada satu bagian saja. Sebaliknya, jika Anda tidak memiliki salah satu saja,kekosongan kehidupan, kesemuanya menjadi kurang.

Apa yang kami tanyakan sekarang adalah apakah relasi, kesehatan fisik, kewarasan,berapa lama Anda akan hidup dan produktivitas, punya hubungan yang sama? Di sebuah perusahaan, apakah produktivitas diakibatkan oleh emosi positif, keterikatan, dan makna?Apakah kesehatan diakibatkan oleh keterikatan positif, kesenangan, dan makna kehidupan? Ada alasan untuk menduga bahwa jawaban keduanya adalah iya.

Chris berkata bahwa pembicara terakhir bisa mengintegrasikan apa yang sudah didengarnya, ini sangat luar biasa bagi saya. Saya belum pernah berada dalam pertemuan seperti ini. Saya belum pernah melihat pembicara yang melebihi diri mereka sendiri begitu rupa, yang merupakan sesuatu yang menakjubkan. Tapi saya menemukan bahwa masalah di Psikologi tampaknya paralel dengan masalah di bidang teknologi, hiburan, dan desain dalam hal-hal berikut. Kita semua tahu bahwa teknologi, hiburan, dan desain telah, dan dapat, digunakan untuk tujuan yang destruktif. Kita juga tahu bahwa, teknologi, hiburan, dan desain dapat digunakan untuk mengurangi penderitaan. Perbedaan antara mengurangi penderitaan dan membangun kebahagiaan adalah sesuatu yang sangat penting. Ketika pertama kali saya menjadi terapis 30 tahun yang lalu, saya merasa kalau saya bisa membuat orang tidak depresi, tidak cemas, tidak marah, saya bisa membuat mereka bahagia. Tapi itu salah. Yang terbaik yang dapat saya lakukan adalah mengembalikan ke titik nol. Tapi mereka kemudian kosong.

Dan ternyata ketrampilan kebahagiaan, kehidupan yang menyenangkan, keterikatan, makna, berbeda dari ketrampilan untuk mengurangi penderitaan. Dan yang paralel dengan teknologi, hiburan, dan desain,saya percaya. Adalah mungkin bagi tiga pemicu dunia kita tersebut untuk meningkatkan kebahagiaan, meningkatkan emosi positif, dan seperti itulah biasanya mereka digunakan. Tapi sekali Anda memilah kebahagiaan seperti yang saya lakukan, bukan hanya emosi positif — itu saja tidak cukup – ada aliran dalam kehidupan, dan ada makna dalam kehidupan. Seperti yang Lauralee katakan, desain, dan saya percaya hiburan dan teknologi, dapat digunakan untuk meningkatkan keterikatan makna dalam hidup.

Jadi kesimpulannya, alasan ke-11 untuk optimis, sebagai tambahan dari lift luar angkasa,adalah dengan teknologi, hiburan, dan desain, kita dapat sungguh-sungguh meningkatkan jumlah kebahagiaan manusia di muka bumi ini. Jika teknologi dalam satu atau dua dekade selanjutnya dapat meningkatkan kehidupan yang menyenangkan, kehidupan yang baik dan bermakna, itu akan cukup baik. Jika hiburan dapat dialihkan untuk juga meningkatkan emosi positif, rmakna, kebahagiaan, itu akan cukup baik. Jika desain dapat meningkatkan emosi positif, kebahagiaan, dan aliran, dan kebermaknaan, apa yang kita lakukan bersama akan menjadi cukup baik. Terima kasih. (Tepuk tangan)

Hormat Saya,signature

Sep 6 / tsauri28

Mengapa Tipe Belajar Penting dalam E-Learning?

Sumber Gambar: workplacepsychology.wordpress.com

Pembaca mungkin sudah familiar dengan istilah learning style, yang konon katanya bahwa setiap orang memiliki cara yang berbeda-beda dalam mempelajari suatu hal, seperti contoh penulis lebih memilih mempelajari sesuatu dengan melihat gambar dan video dibandingkan harus melihat atau membaca ‘text-book’ yang luar biasa tebal, akan tetapi berbeda dengan rekan penulis yang lebih nyaman membaca text-book untuk mempelajarinya, karena katanya bisa mempelajarinya lebih detail dan komprehensif. Ya, itulah learning style! Setiap orang memiliki cara dan kebiasaan yang berbeda untuk belajar.

Berbicara learning style dalam konteks pembelajaran melalui elearning tentu akan menimbulkan pertanyaan yang standar yaitu apa? bagaimana? dan mengapa?

 

Apa

Tipe belajar adalah cara atau metode seorang individu dalam mempelajari sesuatu. Setiap orang pasti memiliki kecenderungan yang dominan terhadap suatu tipe belajar, meskipun tidak menutup kemungkinan dapat pula menggunakan tipe belajar lain untuk beberapa kasus.

Apa saja tipe belajar?
dilihat dari modalitas seseorang, tipe belajar seseorang dikelompokan menjadi tipe visual, tipe auditory dan tipe kinestetik. Sedangkan menurut Kolb dengan variabel yang berbeda mengelompokkan tipe belajar menjadi 4 tipe, yaitu tipe reflectors, theorists, pragmatists dan activists.

kolb’s Learning Style

Dalam pembelajaran elearning nampaknya kita (khususnya penulis) belum terlalu memperhatikan ini ketika mengembangkan course maupun konten, padahal meskipun melalui elearning kita perlu memperhatikan user (pembelajar) agar hasil pembelajarannya optimal.

Bagaimana

Pertanyaannya bagaimana agar pembelajaran elearning kita dapat menyesuaikan dengan tipe belajar para user (pembelajar)-nya? Hal ini perlu ditinjau secara komprehensif dimulai dari ketika kita merencanakan/mempersiapkan pembelajaran, melaksanakan, memantau hingga mengevaluasi pembelajaran elearning kita.

Dalam tahap perencanaan kita perlu mendefinisikan karakteristik dominan user yang akan mengikuti pembelajaran elearning kita, apakah dominan tipe theorists atau tipe lainnya (misal). Dalam tahap pelaksanaan pembelajaran kita perlu menyesuaikan aktivitas pembelajaran kita dengan tipe tersebut, tentu tidak tepat membuat aktivitas membaca jurnal-jurnal bagi user yang ternyata dominan memiliki tipe activists. Dalam tahap evaluasi pun perlu disesuaikan, apabila tipe pembelajar dominan tipe theorists kita menyiapkan assessment berupa portofolio.

 

Mengapa

Terakhir pertanyaan pamungkas adalah mengapa kita perlu repot-repot memperhatikan tipe belajar user? Jawabannya tentu kembali pada kemauan kita untuk meningkatkan mutu dari pembelajaran elearning kita. Penulis berpendapat bahwa semakin kita mampu membuat pembelajaran ini tepat sesuai dengan tipe belajar user-nya, maka semakin baik pula mutunya. Mutu di sini berbicara tentang mutu lulusan dan mutu proses pembelajarannya pula. ***

Wallahu’alam

Hormat Saya,signature

Apr 19 / tsauri28

Design Thinking untuk Mendesain Pembelajaran di Kelas

Sumber Gambar: notosh.com

Hallo rekan-rekan guru? pernahkah Anda merasakan hal-hal berikut di pekerjaan Anda sehari-hari:
  1. Kegiatan pembelajaran dari tahun ke tahun monoton, begitu-begitu saja, jarang sekali melakukan inovasi, atau
  2. Mengetahui begitu banyak metode pembelajaran yang menarik dan kreatif baik dari buku, seminar, internet tapi sulit diterapkan di lapangan, atau
  3. bingung memulai metode pembelajaran baru di kelas, padahal sudah bertekad kuat untuk memulainya
3 Hal tersebut merupakan hal yang sering dirasakan oleh para pendidik tentu dengan berbagai sebab, salah satunya karena kemampuan kita untuk melakukan adopsi terhadap inovasi yang kita terima dari luar diri kita tersebut masih rendah. Nah, melalui tulisan ini saya mencoba memberikan satu ide kecil untuk mengatasi kesulitan tersebut.

Design thinking

Saya pernah membahas tentang design thingking untuk pendidik di sini, intinya design thinking adalah suatu cara untuk siapapun untuk berpikir dan bertindak layaknya seorang desainer dengan mengikuti prinsip-prinsip: holistik, kolaboratif, iteratif, visual. read more…
Mar 22 / tsauri28

Tim Brown: Kita Bisa Tetap Serius dan Bermain

Tim Brown adalah CEO IDEO Consulting, yaitu perusahaan multinasional yang bergerak dalam bidang inovasi dan desain. Dalam ceramahnya di TED Talk di bawah ini banyak inspirasi yang berharga tentang 2 hal yang selama ini banyak pihak membenturkannya yaitu antara ‘keseriusan’ dan ‘bermain’.

Beberapa bagian menarik dari ceramah Tim Brown ini adalah ketika dia menunjukan ‘budaya bermain’ di tempat kerjanya dan di beberapa tempat kerja perusahaan-perusahaan raksasa yang tidak pernah kering akan produk-produk yang inovatif (seperti google, dsb). Dia berhasil menunjukan bahwa bermain bukan hal yang menyebabkan produktivitas berkurang, malah melalui bermain produktivitas meningkat dengan sangat pesat!

 

read more…

Feb 7 / tsauri28

Proyek: Mengembangkan Alat Peraga dengan Pendekatan Berpikir Desain (1)

Sejak Januari lalu 5 orang guru SD dari berbagai daerah di bandung secara rutin berkumpul seminggu sekali membentuk fokus grup guna berdiskusi menciptakan alat peraga yang akan mereka ikut sertakan dalam kompetisi. Untuk memuluskannya kami coba menggunakan alat bantu bernama “design thinking” atau berpikir desain. read more…

Dec 15 / tsauri28

Jamboreee! Board Game

“Board Game”, satu istilah yang mulai akrab di telinga saya sejak setahun lalu ketika berkesempatan banyak berdiskusi dengan Mas Eko Nugroho dari Kummara. Banyak hal yang secara pribadi saya dapat dari diskusi-diskusi panjang itu, yang pada intinya saya sangat merasa tertantang untuk selain memainkan juga mulai membuatnya!.

Di sisi lain, aktifitas di Pojok Pendidikan pun banyak membentuk saya untuk mengetahui lebih mendalam tentang kebutuhan inovasi dalam kegiatan pembelajaran di kelas, dan saya rasa board game bisa menjadi salah satu solusinya — anak-anak dan remaja itu suka bermain game!

Singkat cerita, teman-teman inisiator Pojok Pendidikan seperti Daus dan Ikhsan Peryoga pun menjadi sangat ‘keranjingan’ dengan virus ini dan mulai mencoba mendesain beberapa board game yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran, akhirnya secara resmi Pojok Pendidikan memiliki 2 (dua) board game buatan sendiri: ‘Hadiah Susu’ demikian kami menyebutnya untuk board game untuk pembelajaran fisika dan ‘Bebentengan’ board game yang mengangkat permainan tradisional Jawa Barat yang sekaligus dapat dimanfaatkan bagi pembelajaran Bahasa Sunda.

Ketika event ‘Indonesia Bermain 2011′ lalu kami berkesempatan untuk read more…

Dec 12 / tsauri28

Generasi Digital: Anak-Anak Tak Perlu Diajari Teknologi

Pernah dengar istilah “digital immigrant” dan “digital native” ? kedua terminologi tersebut lahir untuk menunjukan perbedaan antara generasi anak-anak dan remaja (digital native) dibandingkan dengan generasi dewasa (digital immigrant) dalam hal kemampuan mengadaptasi teknologi secara alamiah.

Sebuah riset yang dilakukan oleh pemikir bidang pendidikan India: Sugata Mitra sangat menarik perhatian saya, bahwa anak-anak pedalaman India yang dalam hal ini buta aksara hanya membutuhkan waktu yang relatif sebentar untuk menguasai komputer. Tidak percaya?, mari lihat video ceramah beliau di forum TEDx berikut :

Saya salinkan juga transkip ceramah beliau sebagai berikut :

Pernyataan di atas itu sepertinya sangat jelas Saya memulainya dengan pernyataan itu 12 tahun yang lalu dan saya memulainya dalam konteks negara berkembang tapi, anda yang sekarang ada disini, berasal dari berbagai penjuru dunia Jadi, jika anda melihat peta negara anda, saya pikir anda akan menyadari bahwa pada tiap negara di bumi ini,anda dapat membuat lingkaran-lingkaran kecil dan berkata, ”Inilah tempat-tempat dimana tidak terdapat guru-guru yang bagus” Di atas itu semua,dari tempat-tempat itulah berbagai masalah muncul. Jadi, kita memiliki masalah yang ironis.Guru-guru yang bagus tidak mau mengajar di tempat-tempat dimana keberadaan mereka sangat dibutuhkan.

Saya memulainya pada tahun 1999 untuk mencoba memecahkan masalah tersebut dengan sebuah eksperimen yang sangat sederhana di New Delhi. Yakni, saya hanya menempatkan sebuah komputer pada dinding sebuah daerah kumuh di New Delhi. Anak-anak disitu tidak bersekolah. Mereka tidak mengerti sedikit pun Bahasa Inggris. Mereka tidak pernah melihat komputer sebelumnya, dan mereka tidak tahu internet. Saya menyambungkan komputer tersebut dengan internet berkecepatan tinggi — dipasang kira-kira setinggi 1 meter dari tanah – dan saya menyalakannya dan meninggalkannya disitu.Setelah itu, kami menemukan beberapa hal yang menarik yang akan anda lihat. Saya melakukan eksperimen seperti ini lagi di berbagai daerah di India dan kemudian hingga ke belahan dunia laindan menemukan bahwa anak-anak akan belajar melakukan apa yang ingin mereka pelajari untuk dilakukan.

Ini adalah eksperimen pertama saya – anak lelaki berusia delapan tahun, yang di sebelah kanan itusedang mengajarkan siswanya, seorang anak perempuan berusia enam tahun, dia sedang mengajarkan bagaimana melakukan browsing.Anak lelaki ini tinggal di India bagian tengah –yakni di Rajashtan Village, dimana anak-anak belajar merekam musik mereka sendiri dan memainkannya berulang-ulang satu sama lain,dan dalam proses ini, mereka mampu menghibur diri mereka sendiri. Mereka melakukan semua itu dalam waktu empat jam sejak mereka melihat komputer untuk pertama kalinya. Di sebuah desa lain di selatan India, anak-anak ini memasang sebuah kamera video dan mencoba mengambil photo seekor lebah. Mereka mengunduhnya dari Disney.com atau situs-situs lainnya, 14 hari setelah komputer tersebut dipasang di kampung mereka. Jadi, setelah eksperimen tersebut, kami menyimpulkan bahwa kelompok anak-anak dapat belajar menggunakan komputer dan internet dengan sendirinya, siapapun atau dimanapun mereka berada

Saat itu, saya menjadi semakin ambisius dan kemudian ingin mencari tahu apalagi yang dapat anak-anak lakukan dengan komputer. Kami memulai sebuah eksperimen di Hyderabad, India,dimana saya memberikan komputer pada sekelompok anak – mereka berbicara Bahasa Inggris dengan aksen Telugu yang sangat kental.Saya memberikan mereka sebuah komputer yang memiliki kemampuan untuk memunculkan teks dari ucapan yang dapat anda peroleh dengan gratis di Windows, dan saya meminta mereka berbicara pada komputer itu. Lalu, ketika mereka berbicara pada komputer tersebut, komputer itu akan otomatis mengetik kata yang mereka ucapkan namun melantur dan mereka berkata, “Komputer itu tidak mengerti apapun yang kami ucapkan.” Lalu saya katakan, “Yah, saya akan meninggalkan komputer ini selama dua bulan disini. Belajarlah bagaimana caranya komputer itumemahami ucapan kalian.” Anak-anak itu berkata, “Bagaimana kami melakukannya.” Dan saya bilang, ”Sebenarnya, saya juga tidak tahu bagaimana caranya.” (Ketawa) Lalu saya pergi(Ketawa) Dua bulan kemudian– dan eksperimen ini dimuat di jurnal “Information Technology for International Development” – aksen anak-anak tersebut telah berubah dan mereka dengan sangat luar biasa mampu berbicara Bhs. Inggris murni dengan aksen Inggris dimana saya melatih untuk menyelaraskan ucapan dengan teks pada komputer. Dengan kata lain, mereka kini berbicara mirip seperti James Tooley. (Ketawa) Jadi, mereka mampu melakukan pembelajaran itu dengan sendirinya. Setelah itu, saya mulai melakukan eksperimen dengan berbagai hal lain dimana mereka bisa belajar dengan mandiri.

Saya mendapat panggilan telepon dari Kolombo,dari almarhum Arthur C. Clarke, yang berkata, “Saya ingin tahu apa yang terjadi.” Karena dia tidak bisa bepergian, maka saya yang menghampirinya kesana Dia menyampaikan dua hal yang menarik,”Kalau ada guru yang bisa digantikan perannya oleh mesin, maka gantikanlah.” (Ketawa) Yang kedua, dia berkata bahwa, ”Jika anak-anak memiliki minat, maka pendidikan akan berjalan.”Dan saya melakukan hal tersebut langsung di lapangan, jadi setiap kali saya melakukannya dan saya mengingat dia.

(Video) Arthur C. Clarke: “Dan mesin-mesin itu benar-benar mampu menolong orang, sebab anak-anak dapat dengan cepat belajar untuk menavigasi dan mencari berbagai hal yang menarik buat mereka. Dan jika kamu memiliki minat, maka kamu memiliki pendidikan.”

Saya kemudian melakukan eksperimen tersebut di Afrika Selatan. Anak lelaki ini berusia 15 tahun.

“….. Saya bermain games ….. … seperti hewan-hewan, … .. dan mendengarkan musik…”

Saya bertanya, “Apakah kamu mengirim email?”Dia menjawab, “Ya, dan email-email itu mampu melewat samudera.” Dan ini di Kamboja, daerah pedesaan di Kamboja – sebuah permainan artimatika yang konyol, yang tak seorangpun anak mau memainkannya di kelas atau di rumah. Yah anda tahu, mereka mungkin akan melemparkan permainan itu pada anda. Dan berkata, “Permainan ini membosankan.” Namun jika anda membiarkan permainan tersebut di jalanan, dan setelah tidak ada orang dewasa disitu, maka mereka akan saling menunjukan satu sama lainkemampuan mereka dalam bermain games tersebut. Inilah yang mereka lakukan Sepertinya mereka sedang bermain perkalian. Dan di berbagai wilayah di India, setelah berjalan dua tahun, anak-anak mulai menggunakan Google untuk mengerjakan PR. Hasilnya, guru-guru melaporkan adanya peningkatan yang luar biasa pada Bahasa Inggris anak-anak itu – (Ketawa)peningkatan yang cepat dalam berbagai hal. Guru-guru berkata, “Anak-anak telah menjadi pemikir yang hebat, dan sebagainya.” (Ketawa) Dan memang seperti itu adanya. Maksud saya, jika banyak hal kita bisa temukan di Google, kenapa harus memasukan banyak hal itu ke kepala kita?Lalu, pada akhir empat tahun berikutnya, Saya menemukan bahwa anak-anak tersebut mampu melakukan navigasi internet guna mencapai tujuan pendidikan mereka sendiri.

Saat itu, saya mendapat bantuan dana yang sangat besar dari Universitas Newcastle yang ditujukan untuk membangun pendidikaan di India.Newcastle menghubungi saya. Saya bilang, “Saya akan melakukannya di Delhi.” Mereka menjawab, “Tidak mungkin kamu menggunakan jutaan Pounds uang Universitas hanya dengan berdiam di Delhi.” Lalu pada tahun 2006, Saya membeli jaket yang sangat tebal dan pergi ke NewcastleSaya ingin menguji limit dari sistem ini.Eksperimen pertama yang saya lakukan di luar Newcastle, yang sebenarnya saya lakukan di India.Saya menetapkan target baru yang sangat mustahil: dapatkah anak-anak Tamil berusia 12 tahun di sebuah kampung di selatan India belajar biotechnology dalam Bahasa Inggris dengan sendirinya? Dan saya akan menguji mereka. Dan nilai mereka, nol. Saya berikan mereka bahan pengajaran. Dan kembali saya menguji mereka.Hasilnya kembali, nol. Saya kembali dan berkata, “Yah, dalam hal tertentu, guru memang dibutuhkan.”

Saya memanggil 26 anak Mereka datang dan saya katakan ke mereka bahwa terdapat beberapa hal yang sangat sulit pada komputer ini. Saya tidak akan kaget jika kalian tidak memahami apapun.Semuanya dalam Bahasa Inggris, .. lalu saya pergi. (Ketawa) Saya tinggalkan mereka dengan komputer itu. Saya kembali dua bulan kemudiandan 26 anak itupun berbaris sambil membisu.Saya katakan, “Apakah kalian menemukan sesuatu dari komputer itu?” Mereka menjawab, “Ya, kami menemukannya.” ”Apakah kalian memahaminya?”. “Tidak, tak satupun.” Lalu saya berkata, ”Berapa lama kalian mempelajari komputer itu sebelum kalian memutuskan bahwa kalian tak mampu memahami apapun?” Mereka menjawab, “Kami memperhatikannya setiap hari.”Saya tanya lagi, “Selama dua bulan, kalian memperhatikan komputer itu dan tak memahami apapun?” Lalu seorang anak gadis berusia 12 tahun mengangkat tangan dan berkata, dengan serius, ”Selain fakta bahwa replikasi molekul DNA yang tak sesuai dapat menyebabkan penyakit genetik, kami tak memahami apapun selain itu.”

(Ketawa)

(Tepuk tangan)

(Ketawa)

Butuh waktu tiga tahun bagi saya untuk menerbitkannya Eksperimen itu diterbitkan pada “British Journal of Educational Technology”. Salah seorang juri pada jurnal tersebut dan juga juri bagi makalah saya tersebut, berkata, ”Terlalu menakjubkan untuk dapat dipercaya,” yang artinya sangat tidak baik. Salah seorang anak gadis mengajarkan dirinya sendiri untuk menjadi guru.Anak yang ini. Ingat, mereka tidak belajar Bahasa Inggris. Saya menyunting sedikit bagian akhirnya dan bertanya, “Apakah nueron itu?” dan dia berkata, “Neuron? Neuron?” Dan dia bertingkah seperti ini. Apapun ekspresinya, hal itu sangat tidak baik.

Nilai mereka meningkat dari Nol hingga 30 persen, angka yang sebenarnya mustahil mengingat kondisi pendidikan seperti itu. Tapi nilai 30 persen tetap tidak membuat mereka lulus. Dan saya melihat mereka memiliki seorang temanseorang gadis yang bekerja sebagai akuntan lokal, dan mereka sering bermain bola bersama.Saya tanyakan pada gadis itu, “Apakah kamu mau mengajarkan mereka biotekhnologi, cukup supaya mereka lulus saja?” Dia menjawab, “Bagaimana melakukannya? Saya tidak paham pelajaran itu.”Saya bilang, “Kamu cukup gunakan metode seorang nenek.” Dia bertanya, “Seperti apa itu?”Saya bilang, “Yang harus kamu lakukan hanyalahberdiri di belakang anak-anak itu dan puji mereka setiap saat. Katakan saja, ‘Wah, hebat. Bagus sekali. Apakah itu? Kamu bisa mengulanginya? Tunjukan lagi kepada saya seperti apa?”‘ Dan dia melakukan itu selama dua bulan. Dan nilai anak-anak pun meningkat jadi 50, nilai yang sama seperti yang diraih oleh anak-anak sekolah mewah di Delhi yang diajar oleh guru biotekhnologi terlatih.

Lalu saya kembali ke Newcastle, dengan hasil seperti itu, dan menyimpulkan bahwa ada sesuatu terjadi disini yang menjadi sangat serius. Dan setelah melakukan berbagai eksperimen di berbagai tempat terpencil, Saya tiba pada sebuah tempat paling terpencil yang pernah saya tahu.(Ketawa) Jaraknya sekitar 5.000 mil dari Delhiyakni kota kecil bernama Gateshead. Di Gateshead, saya mengambil 32 anak, dan mulai menjalankan metode eksperimen tersebut. Saya mengelompokkan mereka menjadi 4 siswa per kelompok Saya katakan, “Silahkan kalian buat kelompok masing-masing empat orang. Tiap kelompok dapat menggunakan satu komputer, bukan empat komputer.” Ingat, satu komputer seperti yang saya pasang di dinding daerah kumuh itu. ”Kalian dapat bertukar kelompok. Kalian dapat berpindah ke kelompok lain jika kalian tidak suka kelompok kalian, dan sebagainya. Kalian boleh pergi ke kelompok lain, intip pekerjaan mereka, perhatikan apa yang mereka lakukan, lalu kembali ke kelompok kalian dan akui bahwa pekerjaan itu hasil kerja kelompok kalian.” Saya jelaskan pada mereka, bahwa banyak riset ilmiah dijalankan dengan metode ini.

(Ketawa)

(Tepuk tangan)

Anak-anak itu nampak senang sekali dan berkata,”Apa yang harus kami lakukan?” Saya berikan mereka pertanyaan GCSE (Soal ujian untuk anak usia 14-16 tahun di Inggris) Kelompok pertama, kelompok yang terbaik, mampu menjawab pertanyaan dalam waktu 20 menit. Dan kelompok terjelek mampu menjawab dalam waktu 45 menit.Mereka menggunakan semua media yang mereka tahu – newsgroup, Google, Wikipedia, ”Ask Jeeves”, dan lain-lain. Guru mereka bertanya, “Apakah ini pembelajaran yang mendalam?” Saya jawab, “Ya mari kita coba.” Saya kembali lagi setelah dua bulan Saya berikan mereka ujian tulis – tanpa komputer, tanpa kerjasama satu sama lain, dsb.” Rata-rata skor mereka ketika mengerjakan tes dengan komputer dan berkelompok adalah 76 persen. Ketika saya melakukan eksperimen ini, ketika saya melakukan tes ini, setelah dua bulan, skor mereka tetap … 76 persen. Ada semacam penghafalan pada anak-anak tersebut, saya mencurigai demikian karena mereka saling berbicara satu sama lain. Seorang anak yang bekerja di depan sebuah komputertidak akan melakukan hafalan Saya menemukan hasil lanjutan yang hampir sulit untuk dipercaya,dimana skor mereka naik setiap waktu. Karena guru mereka berkata bahwa setelah sesi belajar selesai, anak-anak tetap menggunakan Google.

Disini, di Inggris, saya menelepon para nenek,setelah eksperimen Kuppam. Dan anda tahu,nenek-nenek di Inggris itu sangat penuh semangat 200 orang dari mereka kemudian mau jadi sukarelawan. (Ketawa) Perjanjiananya adalah bahwa mereka harus mencurahkan waktu satu jam duduk di rumah masing-masing sehari dalam sepekan. Dan mereka melakukannya, Dan selama dua tahun terakhir, lebih dari 600 pengajaranterjadi melalui Skype, menggunakan apa yang siswa saya sebut dengan “Granny Cloud” (Nenek yang mengajar) . Para “Granny Cloud” tersebut duduk di seberang sana. Saya dapat menyambungkan mereka ke sekolah manapun yang saya mau.

Guru: You can’t catch me (kamu tidak bisa menangkap saya). Katakan. You can’t catch me

Anak-anak: You can’t catch me

Guru: I’m the gingerbread man (saya adalah lelaki kue jahe).

Anak-anak: I’m the gingerbread man.

Guru: Bagus sekali…

Kembali ke Gateshead, seorang anak gadis berusia 10 tahun berbicara tentang inti agama Hindu selama 15 menit. Hal-hal tentang Hindu yang sebenarnya saya juga tidak paham. Dua anak ini menonton video-video di TEDTalk.Awalnya mereka ingin menjadi pemain sepakbola.Setelah menonton 8 video TEDTalks, dia ingin menjadi Leonardo da Vinci.

(Ketawa)

(Tepuk tangan)

Sangat sederhana.

Inilah yang saya bangun saat ini. Mereka menyebutnya SOLEs: Self Organized Learning Environments (Lingkungan Belajar yang Mandiri).Furniture ini dirancang supaya anak-anak dapat duduk di depan layar yang besar, dengan koneksi internet berkecepatan tinggi, namun mereka harus berkelompok. Jika mereka mau, mereka dapat menghubungi Granny Cloud. Ini adalah SOLE di Newcastle. Mediatornya dari India.

Seberapa jauh yang bisa kami capai? Saya akan bahan satu hal lagi sebelum saya menghentikan percakapan ini. Saya pergi ke Torino di bulan Mei.Saya meminta semua guru menjauhi siswa saya, sekelompok siswa berusia 10 tahun. Saya hanya berbicara dalam Bahasa Inggris, sementara mereka hanya bisa berbicara Bahasa Italia, artinya kami tidak bisa saling berkomunikasi. Saya memulai pelajaran dengan menuliskan sebuah pertanyaan dalam Bahasa Inggris di papan tulisAnak-anak itu melihatnya dan berkata, “Apakah itu?” Saya jawab, “Kerjakan saja.” Dan anak-anak tersebut mengetik pertanyaan itu di Google dan menerjemahkannya ke Bahasa Italia kembali ke Google dalam Bahasa Italia. 15 menit kemudian …Pertanyaannya adalah: Where is Calcutta? Untuk menjawab pertanyaan ini, mereka hanya butuh waktu 10 menit. Saya mencoba pertanyaan yang lebih sulit. Siapa Pitagoras dan apa yang dia temukan? Anak-anak itu terdiam sesaat, dan lalu berkata,”Anda salah menuliskan namanya.seharusnya Pitagora.” Lalu, dalam waktu 20 menit,gambar segitiga muncul di layar. Hal ini membuat bulu roma saya berdiri. Mereka adalah anak-anak berusia 10 tahun. Dalam waktu 30 menit, mereka mampu menemukan Teori Relatifitas. Lalu?

(Ketawa)

(Tepuk tangan)

Anda tahu apa yang sebenarnya terjadi? Saya pikir kita baru saja melewati sebuah sistem yang otonom. Sistem yang otonom adalah sistemdimana sebuah struktur muncul tanpa intervensi eksplisit dari luar. Sistem yang otonom juga selalu muncul dengan cara dimana sistem tersebut mulai melakukan banyak hal, yang sebenarnya tidak dirancang untuk menjadi seperti itu. Itu sebabnya kenapa anda berekasi seperti ini,karena hal itu tampak mustahil. Saya pikir kita bisa menebak sekarang. Pendidikan adalah sebuah sistem yang otonom, dimana pembelajaran merupakan sebuah fenomena yang muncul. Butuh waktu bertahun-tahun bagi saya untuk membuktikannya, melalui eksperimen, tapi saya akan mencobanya. Namun sementara ini, terdapat sebuah metode tersedia. Satu juta anak, kita butuh 100 juta mediator – ada lebih banyak lagi dari itu di planet ini – 10 juta SOLE, 180 miliar Dollar dalam waktu 10 tahun. Kita mampu merubah segala hal.

Terima kasih

(Tepuk tangan)

Hormat Saya,

signature

Nov 25 / tsauri28

Renungan Hari Guru Nasional: Didn’t You Have Bigger Dreams ?

Shubuh tadi ketika pertama melihat timeline twitter, twitt pertama yang muncul adalah twit dari seorang teman yang membagikan link video pendek dari youtube… jujur saya sempat termenung ketika melihat video tersebut. Berikut video yang saya maksud :

 

 
Video tersebut menceritakan tentang seorang anak yang amat berterima kasih pada seorang guru yang dengan tanpa pamrih memberikannya pendidikan, bimbingan, dan motivasi untuk terus maju di masa remajanya.

Semoga guru-guru di Indonesia hari ini masih tetap menjadi pelita harapan dalam kegelapan, masih menjadi pahlawan tanpa tanda jasa, tidak sekedar pekerjaan ataupun profesi yang terlalu sempit dimaknai dengan sejumlah rupiah.

Selamat Hari Guru Nasional 2011.

Hormat Saya,

signature

Nov 16 / tsauri28

Revolusi Pendidikan ala Sir Ken Robinson

Sir Ken Robinson merupakan satu tokoh lagi yang sedang saya kagumi, khususnya dalam hal pemikiran beliau tentang dunia pendidikan. Ide utamanya tentang kekhawatiran beliau (dan mungkin kita semua) akan dunia pendidikan yang hari ini seakan seperti makanan cepat saji (fast food) istilah yang menunjukan bahwa sistem pendidikan kita telah sesak dengan berbagai standarisasi, linearitas dan berbasis pemikiran industrialisasi, padahal manusia dilahirkan begitu sempurna, memiliki bakat dan minat yang unik tiap orangnya.

Berikut ceramah beliau berjudul “Bring on the Learning Revolution!” di forum TEDx.


read more…

Nov 1 / tsauri28

Presentasi: Perencanaan Pendidikan dengan Pendekatan Strategik

Perencanaan pendidikan merupakan satu domain penting dalam menjamin keberhasilan sistem pendidikan nasional. Berikut presentasi beberapa saat yang lalu tentang konsep perencanaan pendidikan dengan pendekatan strategik. Semoga bermanfaat :)

Hormat Saya,

signature